
Jejeran pembalut bersayap menjadi pemandangan bagi Langit sekarang. Dia bingung harus memiliki merek yang mana untuk Almaira. Lagi pun berapa? Karena tadi Langit benar-benar lupa untuk bertanya.
“Satu atau dua ya?” tanyanya pada diri sendiri, sembari menunjuk beberapa bungkus itu.
Karena terlalu lama berpikir, akhirnya Langit mengambil lima bungkus pembalut dan memasukkan ke dalam keranjang yang dia bawa.
Langit segera membawa ke kasir dan membayar. Dia tak mau terlalu lama, takut Almaira akan menunggu.
Jarak antara supermarket dengan rumah sakit memang tak terlalu jauh, jadi membuat Langit cepat sampai. Dia langsung menuju ruangan Almaira untuk memberikan pesanan gadis itu.
“Assalamualaikum Almaira! Ini pesanan pem—“
Suara Langit tertahan di kerongkongan saat melihat Aisyah dan uminya ada di sana.
“Eh, Langit. Kenapa teriak-teriak Nak?” tanya sang umi menatap dengan bingung.
“Oh enggak Mi,” jawab Langit sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Tatapan Langit tersapu ke seluruh ruangan, dia melihat Almaira tengah menatap ke arahnya. Tanpa menunggu lama lagi, Langit berjalan pelan ke arah Almaira dan memberikan pesanan gadis itu.
“Ini pesanan kamu,” ucap Langit seraya menyodorkan plastik di tangannya.
“Lah, kamu pesan apa Sayang?” Aisyah membuka suara, menanyai putrinya yang hanya diam saja.
“Oh, ini ... itu ... Bun.” Almaira kesusahan menjawab. Alhasil Aisyah yang melihatnya sendiri.
Wanita itu membulatkan mata saat melihat lima buah bungkus pembalut dengan merek berbeda. Kini tatapan Aisyah mengarah pada Langit yang sudah duduk di dekat sang umi.
“Kamu ... Yang membeli ini Langit?” tanya Aisyah dengan tak percaya.
Langit mengangguk. “Iya Tante, tadi Almaira minta tolong.”
“Memangnya minta tolong belikan apa Nak?” tanya umi ikut penasaran.
“Pembalut Umi,” jawab Langit jujur.
Hal yang membuat Almaira semakin malu, pria itu berlagak biasa saja padahal dia sudah mengode sejak masuk tadi.
“Maaf ya Tante, Almaira nggak sengaja kok nyuruh begitu,” ujar Almaira karena tak enak pada tamu bundanya.
“Tidak apa Sayang. Di rumah pun, Langit sering Tante suruh-suruh begitu,” sahut umi.
Almaira semakin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sesekali dia melirik ke arah bundanya yang tengah menahan tawa. Namun, Aisyah sedikit bangga dengan Langit. Pria itu sudah dua kali membuat dia takjub, hingga rasa ingin menjodohkan mereka kembali datang.
**
__ADS_1
Tak ada percakapan apa pun malam harinya. Karena kelelahan Alchan langsung masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Pria itu juga hanya sesekali, berbicara dengan Gladis.
Sampai di kamar, Alchan langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Menatap sebentar langit-langit kamar, dia teringat akan Almaira. Rasanya Alchan ingin menjenguk gadis itu, tetapi rasa takut akan membuat keributan lebih besar.
“Bagaimana kabar kamu Almai? Sudah lama kita tak berjumpa. Aku sedikit rindu dengan omelanmu,” monolog Alchan seraya menggapai-gapai udara dengan tangan kosong.
“Aku berharap kamu segera membaik. Karena aku akan terus khawatir, bila kamu sampai sakit terlalu lama,” sambungnya.
Entahlah. Semakin hari rasa khawatir akan Almaira, terus kerap mengusik kesehariannya. Walaupun ada Gladis yang selalu siaga berada di sampingnya, tetapi tetap saja, sosok Almaira yang dirindukan.
Alchan berniat untuk ke rumah sakit besok, menjenguk Almaira seperti keinginannya beberapa hari yang lalu.
“Bismillah, semoga aja besok Om Bara enggak di sana, jadi aku bisa jenguk Almai.” Kata terakhir sebelum Alchan benar-benar tertidur.
**
Jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh pagi, tetapi Almaira sudah melihat Langit di ruangannya. Pasalnya, dia sangat risi bila harus ada pria di sini. Apalagi mereka hanya berdua.
Karena sang bunda akan pergi ke acara temannya, meminta Langit untuk menjaga dia. Padahal Almaira sudah baik-baik saja, mungkin sore nanti dia bisa pulang ke rumah. Tanpa di tungguin pun, Almaira bisa sendiri di ruangan ini.
“Kamu pulang saja, aku bisa sendirian di sini kok,” ujar Almaira berniat mengusir Langit.
“Tidak bisa. Aku punya tanggung jawab menjaga kamu, jadi ... Aku akan di sini saja sampai Bunda kamu pulang,” jawab Langit dengan tenang.
“Hari ini aku libur.”
Almaira kehabisan kata-kata, dia memilih diam. Sesekali mengotak-atik ponselnya yang berada di genggaman.
“Kamu lapar? Mau makanan apa? Biar aku beliin di bawah,” tawar Langit sembari berdiri di dekat brankar Almaira.
“Enggak perlu. Aku uda kenyang!” balas Almaira ketus.
“Padahal perjodohan sudah batal. Tapi kenapa kita selalu ketemu sih?” sambung Almaira menatap tak suka.
“Tanya Allah.” Hanya itu jawaban yang terlontar dari mulut Langit. Karena setelahnya dia menuju pintu, sebab ada yang mengetuk dari luar.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Langit setelah pintu terbuka.
Tamu yang berada di luar, sedikit terkejut melihat Langit yang membukakan pintu. Begitu pun sebaliknya.
“Langit? Kamu di sini?” tanya Alchan seraya bersalaman.
“Iya Chan. Aku diminta untuk menjaga Almaira. Kamu mau bertemu dia? Silakan masuk,” ajak Langit mempersilahkan Alchan untuk masuk.
Ya, yang pagi ini datang adalah Alchan. Pria itu memegang parcel buah bersama Gladis. Entah sengaja atau tidak, dia mengajak istrinya. Mungkin saja ingin memperjelas pada Almaira, bahwa dia sudah menikah.
__ADS_1
“O, iya, selamat ya. Maaf karena aku tidak bisa datang ke pernikahanmu,” ucap Langit tak enak.
“Santai aja.” Alchan tersenyum.
Sedangkan yang berada di atas brankar, membuang wajah sebentar. Dia terlalu malas dengan tamu kali ini. Kalau saja bisa, Almaira ingin mengusir Alchan. Namun, dia tak sejahat itu.
“Apa kabar Almai?” tanya Alchan sembari meletakkan parcel buah di meja.
“Seperti yang Kakak lihat,” jawab Almaira seraya menundukkan kepalanya.
“Oh, iya. Silakan duduk,” sambung Almaira.
Suasana di dalam kamar ini mendadak hening, keempat orang di dalamnya tak bersuara. Entah masih memikirkan kata apa yang mau terucap, atau canggung karena sebuah alasan.
“Ehem. Bentar ya, aku ambilkan minum dulu.”
“Nggak usah repot-repot Langit!” tahan Alchan.
“Tamu harus dijamu dengan baik,” sahut Langit.
Kepergian Langit membuat Almaira semakin canggung untuk membuka suara. Apalagi saat dia melihat Gladis, rasanya Almaira ingin menangis. Tak kala wanita itu mendekatkan diri pada Alchan, lalu menggandeng tangan pria itu. Almaira tak sanggup melihatnya lagi.
Semua seakan nyata. Gladis sengaja melakukannya, padahal tidak. Itu bayangan Almaira saja.
“Nanti buahnya di makan ya, Almaira,” pinta Gladis. Wanita itu tersenyum.
“Iya Kak. Sekali lagi terima kasih sudah datang,” ucap Almaira.
“Silakan diminum.” Langit mengagetkan mereka.
Sambil menaruh gelas di meja, Langit melirik ke arah Alchan sebentar. Sepertinya teman Almaira bingung dengan kehadirannya. Jelas, tiba-tiba Langit yang membukakan pintu kamar Almaira.
Pasti orang lain juga bingung. Jadi menerka-nerka ada hubungan apa mereka sebenarnya.
“Hubungan kamu dengan Almaira apa?” tanya Alchan karena saking penasarannya. Batu saja dipikirkan Langit.
Baru saja Langit akan menjawab. Lebih dulu di jawab oleh Almaira.
“Dia ... Langit Abgal Yasha. Calon suamiku!”
**
Maaf othor lama ngilang. Soalnya sibuk dunia nyata.
__ADS_1