Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 19


__ADS_3

Suasana mendadak menegangkan. Almaira berada di tengah-tengah antara bunda dan ayahnya. Setelah kepulangannya dari rumah sakit tiga hari yang lalu, Almaira langsung menghadap ayahnya hari ini karena sebuah pernyataan.


“Benarkah sekarang kamu sudah menerima Langit? Sebagai calon suamimu?” Bara membuka suara. Pria dewasa itu menghadap putri semata wayangnya, dengan senyum khas yang jarang sekali diperlihatkan.


Sedangkan yang ditanya, malah diam. Almaira pun bingung mau menjawab apa, dia mengucapkan itu pada Alchan hanya bohongan agar si pria tak lagi berpikir bahwa dia masih mengharapkannya. Tapi sekarang, semua malah seperti ini. Ayahnya salah sangka.


“Sebenarnya itu hanya pura-pura Ayah. Aku cuma nggak mau Kak Chan, terus mikir aku tidak bisa melupakan dia. Makanya aku ngakunya, Langit itu calon suamiku,” jelas Almaira dengan wajah tertunduk.


“Astagfirullah! Kamu mempermainkan Langit, Nak!” teriak Bara tak terima.


“Bukan Yah, bukan begitu maksud Almai. Semua terjadi secara tiba-tiba. Lagian Langit tidak marah, dia mau membantu Almai,” ucap Almaira mencoba membela dirinya sendiri.


“Tapi yang kamu lakukan itu, sudah membuat kami malu! Apa kata umi dan abinya nanti? Lagian, Ayah juga sudah katakan pada mereka bahwa kamu menerima pinangan Langit,” tegas Bara.


Ya, setelah mendengar ucapan Alchan kemarin. Bara amat bahagia, ternyata putrinya mau menerima Langit dengan lapang dada. Yang ternyata, semua ini hanya pura-pura saja. Padahal Bara sudah menyampaikan itu pada kedua orang tua Langit.


“Apa? Kenapa Ayah selalu berbicara secara sepihak! Almaira tidak mau!”


“Tapi semua berawal dari kamu sendiri.”


Almaira kembali terdiam. Kepalanya semakin menunduk dalam, membenarkan ucapan ayahnya karena memang dia juga salah.


“Ayah mohon sama kamu, jangan buat umi dan abinya Langit kecewa. Kamu tahu siapa mereka kan? Ayah percaya sama kamu Nak.” Bara menepuk pelan bahu putrinya, lalu mengusap kepala tertutup hijab itu lembut.


Setelah kepergian ayahnya, Almaira langsung memeluk sang bunda. Menangis di pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.


“Bunda ...,” lirih Almaira tersedu-sedu.


“Bunda yakin Sayang. Apa yang sudah ditetapkan oleh Ayah, adalah yang terbaik. Karena Ayah tidak pernah memilih segala sesuatu, sebelum dia sendiri yang melihat bibit bebet bobotnya,” nasihat bunda. Almaira semakin menangis.


Mungkin ini jawaban Allah atas doanya, orang yang pernah dia tolak. Justru yang akan bergabung dalam kehidupannya, membimbing dia dan mengajarinya.


**


Alein sungguh tak percaya, Alchia datang ke rumahnya hanya karena khawatir. Dia memang tak masuk kampus hari ini, dengan dalih sakit.


Sebenarnya bukan itu melainkan Alein belum bayar buku yang diminta dosen. Dia harus bekerja untuk mendapatkan uang barulah akan masuk kuliah kembali.

__ADS_1


Tapi melihat Alchia di sini, dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali berpura-pura sakit.


“Gimana keadaan kamu Lein?” tanya Alchia sembari meletakkan parcel buah yang dia bawah di meja.


Alein memang memberi tahu Alchia prihal sakitnya, sebab gadis itu terus saja bertanya-tanya. Mau tak mau dia harus berbohong.


“Alhamdulillah sudah mendingan,” jawab Alein pelan.


“Syukurlah.” Alchia tersenyum senang.


Sedangkan wanita paruh baya yang baru datang dari arah belakang, segera meletakkan dua gelas teh di meja kayu rumahnya. Dia adalah ibu Alein, wanita itu juga sama terkejutnya dengan anaknya tadi. Tak menyangka orang kaya mau bertandang ke rumah mereka.


“Silakan diminum Nak,” tawar ibu Alein.


“Iya, Bu, terima kasih,” balas Alchia ramah.


Dengan perlahan Alchia mengambil gelas itu, lalu menyesap tehnya. Seketika harum aroma melati menguar kuat di indera penciumannya. Sesuatu yang sangat disukai Alchia.


Setelah kembali meletakkan gelas, barulah Alchia menatap dua orang di dalam ruangan yang sama dengan dia, secara bergantian.


“Maaf Bu, datang tidak mengabari terlebih dahulu,” ucap Alchia sungkan.


Meski tatapan ibu Alein sungguh membuat Alchia tidak nyaman, tetapi gadis itu tetap duduk di sana. Sesekali menatap Alein yang juga menatap ke arahnya.


“Hemm, kalau gitu aku pamit ya Lein,” ujar Alchia seraya berdiri. Berniat untuk pulang.


“Iya Chi. Hati-hati di jalan ya.”


Alchia menyalami ibu Alein setelah itu baru keluar dari rumah sederhana ini. Sesekali dia menatap ke belakang, melihat Alein yang masih berada di ambang pintu menatap dia.


Menghembuskan napas pelan, Alchia melambaikan tangan pada Alein sebagai salam perpisahan. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan beroda empat itu.


Sedangkan Alein, tatapannya semakin sendu. Ada rasa bersalah pada Alchia karena dia telah berbohong. Namun, semua terpaksa, dia juga tak bisa mengungkapkan yang sebenarnya pada Alchia.


“Mulai besok kamu tidak perlu main sama gadis itu lagi.” Ibunya sudah berada di belakang Alein.


“Kenapa Bu?” tanya Alein bingung. Tak pernah ibunya melarang seperti ini.

__ADS_1


“Dia orang kaya. Ibu hanya tak ingin, kamu dipermalukan karena menjadi temannya. Atau dituduh hanya untuk menghabiskan harta gadis itu,” lontar ibunya lagi.


“Tapi Alein gak ada niatan kayak gitu, Bu,” sangkal Alein cepat.


“Kemungkinan selalu ada, Nak. Ibu mohon, turuti keinginan Ibu.”


Alein menatap kepergian ibunya dengan tatapan semakin sendu. Memang ada benarnya yang ibunya ucapkan, tetapi, mana mungkin bisa Alein menjauh dari Alchia. Mereka sudah lama berteman.


“Apa yang harus kulakukan?” bisiknya dalam sepi.


**


Pertemuan antara dua keluarga terjadi malam ini. Sejak tadi Almaira hanya diam, dia menjawab kalau ditanya saja.


Kedua orang tuanya dan orang tua Langit membahas perihal lamaran keduanya. Mereka sudah sepakat, kalau keputusan Almaira yang berawal dari kebohongan itu benar.


“Jadi, gimana menurut Almaira. Mau lamaran atau langsung akad saja?” Pertanyaan dari Abi Langit membuat Almaira segera mengangkat kepalanya.


Matanya menatap semua orang yang berada di ruangan ini, lalu dia alihkan pada pria yang duduk di ujung sofa depannya. Untuk beberapa detik pandangan mereka bertubrukan, tetapi lebih dulu Almaira mengalihkan.


“Almai ... aku terserah Ayah dan Bunda saja,” jawab Almaira gugup.


Bara tersenyum, pelan tangannya terangkat untuk mengusap kepala putrinya lembut. Ini memang jahat, tetapi Bara melakukan ini semua demi kebaikan Almaira.


 “Biarkan Almaira meminta petunjuk terlebih dahulu pada Allah.” Aisyah menyela, memberikan jawaban untuk keluarga Langit.


Menyesal. Seharusnya Almaira menjawab seperti yang bundanya jawab.


“Almaira akan istikharah lagi malam ini,” pungkas Almaira dengan lembut.


“Kami selalu menunggu jawaban kamu, Sayang. Jangan dipaksa meski kamu sudah setuju Langit menjadi suamimu. Tapi, kami ingin mendengar jawaban mantapmu sekali lagi,” tutur umi Langit dengan senyuman manisnya.


Langit sendiri, hanya diam. Ada rasa bersalah yang menyeruak dalam hati. Dia marah pada dirinya sendiri, karena sudah membohongi kedua orang tuanya.


Andai saja Almaira tidak berbohong pada Alchan, pasti semua tidak akan seperti ini.


Langit beristigfar dalam hati. Merasa berdosa karena terus berandai-andai.

__ADS_1


 


 


__ADS_2