Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 62


__ADS_3

“Kenapa Mi? Kenapa harus begini?”


Kia menatap putranya dengan sendu, dia pun tidak bisa melakukan apa-apa. Semua sudah ditetapkan oleh sang mertua, bahwa Alfa akan tetap dijodohkan meski pria itu menentang keras.


“Kamu tenang Sayang. Umi yakin, kakek melakukan ini semua demi kebaikan kamu,” ucap Kira seraya mengelus pelan kepala putranya.


“Kebaikan apa yang menghancurkan impian seseorang? Katakan Umi. Cukup Laska yang harus merelakan cita-citanya demi menuruti keinginan kakek. Alfa tidak mau,” tegas Alfa.


Wanita berhijab itu memilih bungkam. Kia bingung ingin menjawab seperti apa lagi. Memang benar apa yang Alfa katakan, Laska juga pasti tertekan. Sebab, pria itulah yang pertama kali merelakan cita-cita yang sudah di depan mata demi menyenangkan sang kakek.


“Umi mengerti. Ya sudah, kamu tidur. Ini juga sudah larut,” pinta Kia.


“Apa aku harus kembali ke Korea setelah tamat dari SMA itu? Katakan Umi, apa aku harus?”


“Tidak Sayang. Kamu harus tetap di sini, Umi butuh kamu.”


Alfa memeluk tubuh uminya, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Kia. Awalnya Alfa tidak tahu bahwa keinginan abinya agar dia kembali ke Indonesia, ternyata untuk menjodohkannya. Baru saja Alfa ingin mendekati Cinta kembali, tetapi semua impiannya sirna.


**


Sampai di rumah, Amira langsung masuk ke kamar untuk segera tidur. Tak lupa dia menggosok gigi dan mencuci kaki. Setelah itu mengecek ada tugas atau tidak, barulah dia naik ke ranjang.


“Tidurlah, aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu,” ujar Laska sembari berjalan masuk ke dalam ruangannya dengan membawa kopi.


Melihat itu, Amira membuang wajah kesal. Laska terlalu sibuk mengurus perusahaan, hingga mereka tak pernah lagi punya waktu untuk mengobrol meski hanya sebentar. Jujur saja, Amira rindu kebersamaannya dulu.


“Ya sudahlah.”


Amira menaikkan selimut hingga dada, dia mencoba memejamkan matanya tetapi tidak mau terpejam. Akhirnya dia hanya miring kanan dan kiri saja.


Karena merasa belum mengantuk, akhirnya Amira memilih duduk di balkon kamar. Dia memandang ke arah langit, banyak sekali bintang di sana menemani satu bulan yang tengah tersenyum manis ke arahnya. Amira tersenyum, setidaknya malam ini dia bahagia walaupun hanya sendiri.


“Kalian semua begitu indah, jadi jangan iri denganku,” celetuk Amira diikuti oleh tawa kecilnya.


Tiba-tiba rasa rindu akan seseorang membuat Amira harus merelakan air matanya untuk jatuh kembali. Walaupun ayahnya telah berbuat jahat, Amira tetap menyayanginya. Dia sedih, tidak bisa memeluk ayahnya lagi.

__ADS_1


“Dulu ayah pernah bilang, bahwa Amira adalah bulan. Yang senantiasa selalu menerangi hidup ayah. Bidadari cantik yang sangat ayah sayangi, tetapi kenapa menorehkan luka di hati?” lirih Amira sambil memegangi dadanya.


“Jujur Amira rindu, rindu sekali. Semoga ayah di sana baik-baik saja, Amira janji, akan jadi putri yang bisa ayah banggakan. Amira janji.”


“Ayah pasti senang melihat putrinya begitu bersemangat, baik dan tentunya sangat cantik.” Laska sudah berdiri di belakang Amira. Pria itu mendekati istrinya.


“Om Laska kok di sini?” tanya Amira kaget, dia langsung berdiri.


Laska menyuruh Amira untuk duduk kembali, diikuti oleh dia juga.


“Kamu belum mengantuk?”


“Hemm, belum Om. Mata Amira belum bisa terpejam,” jawab Amira.


“Ha, baiklah. Aku temani kamu di sini,” ucap Laska seraya memeluk tubuh Amira dari samping.


Mendapat perlakuan seperti itu, Amira tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia semakin memeluk erat Laska, meletakkan kepalanya didada bidang pria itu.


“Om,” panggil Amira masih diposisi awal.


“Kata orang-orang, dalam sebuah hubungan itu harus ada kejujuran. Apa Om tidak ingin jujur pada Amira?”


“Jujur tentang apa?” tanya Laska balik.


“Mantan contohnya,” jawab Amira membuat Laska tersedak.


Amira langsung mengelus punggung Laska pelan. “Hati-hati, Om.”


“Iya.”


Melihat suaminya hanya bungkam, Amira menyentuh jemari pria itu. Membuat Laska terkejut.


“Belum jawab pertanyaan Amira tadi,” kata Amira.


Laska menggaruk kepalanya yang tak gatal, setelah itu menunduk. Haruskah dia jujur pada Amira? Atau tetap menyimpan rahasia ini sampai waktunya telah tiba. Antahlah, Laska mendadak pusing.

__ADS_1


“Kalau Om tidak mau jujur, ya sudah tidak apa,” lirih Amira akhirnya. Dia bangkit dan bersiap untuk masuk.


Laska menahan tangan gadis itu, dia menatap ke arah Amira yang juga menatapnya. Cukup lama mata mereka bertemu, sampai Laksa-lah yang memutuskan kontak mata.


“Aku tidak punya mantan,” jawab Laska akhirnya. Amira tersenyum seraya mengangguk.


“Amira percaya itu,” ucap Amira sambil tertawa, menampakkan deretan gigi rapi dan bersih.


“Kamu sendiri?” tanya Laska balik, masih memegangi jemari Amira.


“Ada, Dimas. Om tahu ‘kan?”


“Iya aku tahu. Dia cukup tampan, pantas saja kamu mau dengannya,” papar Laska.


“Om cemburu ya?” tuding Amira sembari menunjuk wajah Laska. Pria itu tersenyum.


“Tidak. Lagian, sekarang dia bukan siapa-siapa kamu lagi.”


“Benar. Jadi jangan cemburu ya suamiku.” Amira menangkup kedua pipi Laska.


Laska berdiri, tingginya dengan Amira yang cukup berbeda jauh. Membuatnya harus menunduk saat menatap wajah istrinya. Begitu pun Amira, gadis itu suda mengangkat wajahnya.


Sang suami mengusap-usap pipi sang istri, membuat Amira menyipitkan matanya dengan bibir yang sudah mengerucut. Jemarinya memegangi baju yang Laska kenakan.


“Selamat malam,” ucap Laska.


“Malam juga, Om tampan,” jawab Amira sambil cekikikan.


Mata Amira melotot sempurna saat merasakan benda kenyal dan hangat menempel di keningnya. Cukup lama Laska mencium Amira, tetapi sepertinya pria itu enggan untuk melepasnya.


Amira memejamkan matanya, jemarinya semakin erat memegang baju Laska.


“Tetap jadilah istriku, meski takdir yang akan memisahkan kita.”


Bersambung

__ADS_1


Othornya lagi stres, konflik semua😂😂


__ADS_2