
Namaku dya,lengkapnya dyaningtyas,aku adalah anak sulung dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan ,jadi kalau dirumah ,bapakku selalu jadi yang terganteng diantara kami berlima🤭🤭
bapak adalah petani tembakau yang diberi amanah menjadi lurah didesa kami.Aku dilahirkan disebuah desa kecil di lereng gunung Sindoro yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani tembakau ,Alhamdulillah walaupun bapak seorang petani tapi kehidupan kami berkecukupan,hari hari kami selalu ceria dan bahagia ,walau sederhana layaknya hidup desa .
Kami tinggal dirumah warisan dari almarhum Mbah Kakung yang telah berpulang saat aku kelas 6 SD.sementara ibunya bapak masih sehat diusianya yang telah mencapai 76 th,kami memanggil Mbah Rayi .....beliau masih sering ke sawah.
Sebagai anak sulung ,dya dididik untuk mandiri dan bertanggung jawab sejak dini ..
" nduk...(nduk adalah panggilan untuk anak perempuan) .mau masuk SMP mana?" tanya bapak saat aku lulus SD.
"SMP 1 kabupaten ya,?nilai kamu bagus!" sambung bapak sambil menghisap rokok lintingan ....bapak memang perokok berat,bapak selalu berkata " wong petani tembakau ko dilarang merokok ,lak Yo aneh !!
__ADS_1
" nderek ( ikut ) bapak mawon." jawab aku sambil memijit lengan bapak
" Senin ,daftar ya nduk?"
" njih pak"jawabku patuh,aku percaya pilihan bapak mesti yang terbaik buatku.
Alhamdulillah aku diterima di SMP favorit di kotaku,aku harus berusaha keras beradaptasi dengan lingkungan baruku,maklumlah anak desa dikaji gunung masuk kota tentu banyak suka dan dukanya,sering aku tersenyum geli bila ingat waktu awal awal menuntut ilmu di kota,begitu banyak rintangan,tapi Alhamdulillah teman temanku baik bapak ibu guru juga baik hingga tak terasa tiga tahun berlalu dan akupun lulus SMP
Saat aku kelas satu SMA,adikku no 2 kelas 1 SMP,dan yang no 3 kelas 5 sd,saat itu juga lahir adikku yang bungsu .kami semua bersyukur menurut bapak yang seorang petani " tambah anak tambah rejeki" tapi ibu memutuskan untuk KB syirik(MOW)dengan alasan usia sudah 38 th.sebagai anak sulung begitu banyak harapan harapan orang tuaku padaku ...oh yaaa diantara ke enam putra Mbah Rayi hanya bapak yang jadi petani,semua kakaknya bekerja di instansi pemerintah .jadi tidaklah salah bila bapak ingin anaknya tidak jadi petani,maka biarpun semua perempuan anaknya tapi semua harus sekolah tinggi.
Bapak memang sosok yang tegas,walaupun menyayangi anaknya,tapi tidak pernah memanjakan ,semua harus bisa,semua harus belajar Alhamdulillah kami berempat bisa menerima apapun
__ADS_1
keputusan bapak,kami di didik untuk patuh,hanya adikku yang no 3 yang sering rewel dan berani melawan bapak.seperti sore ini,kami cuma geleng geleng kepala.
" laaa maumu pie to nduk?! " tanya bapak pada adikku no 3
" aku nggak mau SMA mau masuk pesantren !" sambil cemberut.
" yaaa pesantren yang ada SMA-nya" kata bapak sabar
" nggih (iya) tapi neng nggak janji Lo !" sambil cemberut
" dicoba Sik( dicoba dulu)" lanjut bapak sabar ......
__ADS_1