Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 106


__ADS_3

Keadaan Christie sudah membaik, dia sudah bisa berjalan ke kamar mandi. Walaupun dengan bantuan ibunya, itu sudah lebih baik dari pada harus melakukan semuanya di atas ranjang.


"Dok, kapan anak saya bisa pulang?" tanya Agatha pada dokter yang memeriksa Christie.


"Jika keadaannya stabil, dua hari lagi sudah boleh pulang. Kita tunggu hasil laboratorium, pulang atau tidak pasien tergantung hasil pemeriksaan laboratorium nanti." terang dokter itu.


"Baiklah kalau begitu, Dok. Terima kasih." ucap Agatha.


Agatha kembali ke kamar Christie, setelah mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Christie.


"Bagaimana, Mom? Kapan aku boleh keluar dan sini? Aku sudah tidak tahan lagi berlama-lama tidur di sini." cerca Christie begitu ibunya memasuki kamar.


"Kita tunggu hasil laboratorium nanti, besok hasilnya baru keluar. Sabar!" ucap Agatha.


"Iya, Mom!''


"Mommy minta sesampainya di rumah nanti kamu jangan ceroboh lagi. Jaga dirimu baik-baik! Jangan sampai terulang! Jika terulang, Mommy tidak akan menolong kamu tapi akan mencoret nama kamu dari kartu keluarga!" ancam Agatha.


Christie terdiam mendengar ancaman ibunya. Kejadian yang lalu akan menjadi pelajaran berharga untuknya. Mungkin dia tidak akan berani lagi menginjakkan kakinya ke club malam.


Keesokan harinya, hasil pemeriksaan laboratorium telah keluar. Hasilnya bagus sehingga hari ini Christie sudah diijinkan pulang. Christie dibawa pulang ke apartemen yang dibeli oleh Agatha sesaat sebelum keberangkatan mereka. Hal ini ditujukan untuk memudahkan Agatha mengurus Christie seorang diri.


"Mom, aku mau pulang ke rumah saja. Aku merindukan rumah kita. Rindu berantem sama Dennis, juga merindukan Daddy. Walaupun mereka flat kek tembok tapi mereka menyayangi Christie. Kita langsung pulang ya, Mom?" pinta Christie saat akan tidur.


"Iya, besok pagi kita pulang. Sekarang kamu tidur, Mommy juga akan tidur di sini menemani kamu," jawab Agatha sambil memasangkan selimut untuk Christie, kemudian membaringkan tubuhnya di samping anaknya.


Pagi harinya, mereka berdua pulang ke rumah utama.

__ADS_1


"Akhirnya, sampai juga di rumahku istanaku." gumam Christie dengan wajah berbinar.


"Kamu jangan keluyuran kemana-mana dulu! Ingat kamu harus banyak istirahat. Tidak boleh keluar rumah kecuali ke rumah sakit untuk cek kesehatan kamu!" kata Agatha tegas.


"Asiaapp!" sahut Christie dengan tangan kanan di pelipis dan sikap hormat.


"Jangan siap-siap aja, nanti Mommy keluar rumah kamu kabur!" omel mommy Agatha.


"Nggak kabur, Mom. Kalau minta Sheila datang ke sini boleh 'kan, Mom?" tanya Christie.


"Kamu masih saja berteman dengan sepupu kurang ajar itu? Ingat Christie, dia yang bawa pengaruh buruk sampai kamu kek gini! Kamu masih saja mau berteman dengannya."


"Cuma Sheila yang mau berteman sama Christie, Mom. Teman-teman Christie semua ada maunya, tidak ada yang tulus berteman denganku. Hanya Sheila teman dalam suka dan duka." jelas Christie.


"Lagian Sheila sebenarnya baik, hanya saja dia lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki makanya dia bar-bar." imbuh Christie membela Sheila.


"Sudahlah! Pokoknya kamu tidak boleh keluar dari rumah ini. TITIK!" ultimatum Agatha keras.


Agatha langsung meninggalkan kamar anaknya karena tidak ingin lepas kontrol. Emosinya yang tidak stabil membuatnya harus mengurangi perdebatan.


Sementara itu, pak Dewa yang mendengar kabar kepulangan istri dan anaknya pun bergegas menuju ke rumah utama. Dia membawa pengacaranya, bermaksud membicarakan perpisahan mereka. Selain itu juga membahas perpisahan harta perusahaan dan harta pribadi.


"Agatha, bisa kita ke ruang kerja sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu." kata pak Dewa begitu mendapati istrinya sedang berada di kamar.


"Baiklah." jawab Agatha lemah, badannya benar-benar lemah saat ini.


Selama sebulan lebih dia mengurus Christie sendirian. Selama itu pula dia tidak pernah mengeluh sakit ataupun lelah. Akan tetapi sekarang semua badannya terasa sakit semua, akibat kurang tidur.

__ADS_1


Agatha pun mengikuti suaminya menuju ruang kerja. Agatha duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Di depan Agatha ada seorang pengacara yang dibayar Dewa. Sedangkan pak Dewa duduk di kursi kebesarannya.


"Sebelumnya aku minta maaf Agatha, jika keputusan yang aku ambil ini sangat menyakitkan bagimu. Akan tetapi untuk apa kita melanjutkan sandiwara ini. Sejak awal pernikahan kita memang kurang bahagia, datar seperti orang asing yang saling tidak mengenal."


"Sebaiknya kita sudahi sandiwara kita, belasan tahun kita bersandiwara. Berpura-pura bahagia, pura-pura romantis. Seolah-olah pernikahan yang kita jalani sangatlah sempurna. Aku ingin kita pisah, Agatha," kata pak Dewa panjang kali lebar kali tinggi.


Jederrrrr....


Badan Agatha terhuyung karena saking terkejutnya dengan apa yang diucapkan oleh Dewa. Baru saja berpikir akan melepas Dewa, ternyata dia yang dilepaskan.


"Aku tahu aku salah. Seandainya aku tidak berbohong saat itu, mungkin kamu akan lebih bisa menerimaku dan anakku. Andai saja waktu itu, berkata sejujurnya dan meminta pertolonganmu dengan baik-baik. Mungkin saat ini, kamu tidak akan pergi meninggalkan aku."


"Aku benar-benar menyesal telah mengawali pernikahan kita dengan kebohongan. Jika kamu ingin kembali pada keluarga kamu, aku ikhlas. Aku akan menandatangani surat perceraian tanpa menundanya. Oleh karena itu, ucapkan talakmu hari ini juga. Agar semua pihak tidak tersakiti." tutur Agatha dengan menahan isak tangisnya.


"Aku minta maaf, jika selama ini aku belum bisa membuat kamu bahagia. Seharusnya kamu mendapatkan kebahagiaan itu, kamu dan anak-anak berhak bahagia. Aku yang terlalu egois, tidak mau membuka hatiku untuk kalian. Percayalah, aku menyayangi kalian semua!"


Akhirnya mereka membicarakan perceraian dan pembagian harta gono-gini. Dengan didampingi oleh pengacara, mereka berdua mulai membahasnya sampai ada kata sepakat untuk keduanya.


Sementara itu Christie yang berada di kamar merasa haus dan keluar dari kamarnya. Pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat, membuat percakapan mereka dapat dengan jelas terdengar oleh Christie.


Christie membekap mulutnya agar tangisnya tidak terdengar. Badannya luruh ke lantai. Baru saja dia pulang dari rumah sakit, harus mendapat kabar kejutan yang menyedihkan.


"Apa Daddy menceraikan Mommy karena aku?"


"Aku harus menggagalkan perceraian mereka tapi... aku tidak tahu harus bagaimana? Mommy... Daddy... hiks...hiks"


Christie menangis sambil berjalan menuju kamarnya. Dia langsung naik ke atas ranjangnya. Duduk meringkuk sambil memeluk lututnya. Air matanya terus mengalir tiada henti.

__ADS_1


"Kalau kalian bercerai, bagaimana dengan aku dan Dennis nantinya? Aku nggak mau kehilangan Mommy dan Daddy. Aku mau keduanya bersatu... hiks... hiks... Kalian jangan bercerai..."


Christie menangis sambil terus meracau tidak ingin kehilangan keluarganya. Baginya memiliki keluarga utuh adalah kebahagiaan, walaupun mereka jarang bertemu. Akan tetapi kasih sayang yang mereka berikan untuknya tidak pernah putus.


__ADS_2