
Rahma mendapat kabar gembira dari ibunya, jika dia akan memiliki adik. Betapa terkejutnya ia, di usianya yang ke sembilan belas dia akan memiliki seorang adik. Bu Sarifah memang masih muda, dia melahirkan Rahma ketika usianya sembilan belas tahun. Wajar jika sekarang dia masih bisa hamil lagi.
Rahma pun mengabari suaminya jika mereka akan memiliki seorang adik. Frans terkejut sekaligus gembira mendengar berita itu.
"Jarak aku sama adikku jauh banget ya, Kak?" ujar Rahma dengan wajah cemberut.
"Anak itu rejeki, Sayang. Harus disyukuri! Jangan ditolak, karena banyak orang di luar sana yang ingin memiliki anak tapi tidak bisa." jelas Frans seraya membelai rambut Rahma.
"Tapi... A-aku belum ingin memiliki anak. Aku ingin menyelesaikan kuliah dan bekerja terlebih dahulu." jujur Rahma dengan wajah sendu, dia takut mengecewakan suaminya.
"Kuliah juga bisa sambil mengurus anak. Banyak kok, wanita yang kuliah dengan perut buncit. Bahkan mereka mengasuh beberapa anak sambil kuliah. Kamu tidak usah takut, nanti pasti aku bantu mengurus anak kita." Frans terus memberikan pengertian pada istrinya agar mau segera memiliki anak di usia muda.
Walaupun saat ini umur Frans masih muda, 21 tahun. Dia sudah mampu berpikir dewasa. Bahkan sekarang di kantornya, Frans sudah memiliki jabatan penting. Cara berpikir yang dewasa serta otak yang cerdas sudah bisa membuatnya menjabat kedudukannya itu.
"Kak, kita nikmati dulu waktu berdua. Kita sama-sama masih muda. Lagian setahun lagi aku selesai kuliah. Setelah wisuda baru kita buat program hamil. Bagaimana?" tawar Rahma pada suaminya.
"Baiklah, aku pegang janji kamu!" Akhirnya Frans mengalah dan mengikuti keinginan istrinya. Setelah dipikir, mereka masih muda sehingga takut tidak bisa mengurus anak dengan baik.
*
*
*
Setahun kemudian...
"Wah, cantiknya! Istri siapa sih ini?" puji Frans seraya mencubit pipi chubby Rahma.
Rahma memasang wajah cemberut karena mendapat cubitan di pipinya. Sejak hamil Rahma lebih sensitif, dia mudah merajuk. Akan tetapi Frans semakin senang menjahilinya.
Bobot Rahma naik terus setelah dinyatakan hamil. Tubuh Rahma yang semakin montok membuat Frans semakin bergairah. Setiap hari tidak pernah absen menyentuh istrinya itu.
Pagi ini hari wisuda Rahma, sejak subuh Rahma sudah dirias oleh MUA yang disewa oleh Frans. Walaupun perutnya buncit tapi tidak merubah wajah Rahma. Wajahnya malah semakin cantik berseri.
__ADS_1
"Mama mau wisuda nanti kalian jangan nakal saat acara, ya!" ucap Frans pada perut bulat istrinya.
Saat ini Rahma hamil lima bulan akan tetapi perutnya seperti orang hamil delapan bulan. Semua itu karena dia hamil kembar. Selama kehamilannya Rahma memang tidak pernah meminta yang aneh-aneh pada Frans. Hanya saja dia lebih manja karena selalu muntah sejak awal kehamilan hingga sekarang.
"Sudah yuk, nanti terlambat datang tidak bisa masuk!" ajak Rahma seraya menarik tangan suaminya.
"Ibu mana sih, Kak? Kenapa belum datang juga sejak tadi?" gerutu Rahma sambil memasuki mobil.
"Kata Ayah, mereka langsung ke kampus. Biar tidak repot. Kamu tahu sendiri ' kan, adikmu itu tidak bisa berada di keramaian." jelas Frans.
Suasana aula kampus sudah ramai ketika mereka tiba di sana. Rahma langsung menuju kerumunan teman-temannya yang akan wisuda.
Acara wisuda berjalan lancar, hingga akhirnya Rahma diminta untuk memberikan sambutan mewakili mahasiswa yang diwisuda. Dia ditunjuk karena nilai tertinggi jatuh di tangannya.
Dua jam kemudian acara wisuda selesai ditutup dengan penampilan dari grup paduan suara kampus.
*
*
*
"Kak, perutku sakit sekali!" ucap Rahma sambil mere mas lengan Frans yang sedang terlelap.
Frans masih mengantuk karena tadi malam dia menghajar istrinya di atas kasur. Dia tidak pernah merasa pu as menjamah tubuh Rahma. Apalagi sejak hamil, wajah Rahma terlihat semakin cantik. Tubuh montoknya selalu membuat Frans berselera untuk memakannya.
"Kak!" teriak Rahma seraya menancapkan kukunya di lengan sang suami.
Frans terkejut merasakan perih pada lengannya.
"Tidur lagi, Sayang! Kakak masih mengantuk." kata Frans dengan mata masih terpejam saking ngantuknya.
"Bagaimana mau tidur? Sakit sekali, tahu! Anak-anakmu sudah ingin melihat indahnya dunia!" jerit Rahma kesal semakin menancapkan semua kukunya.
__ADS_1
Frans langsung duduk begitu Rahma mengatakan anaknya ingin melihat dunia.
"Oh, tunggu sebentar. Aku mandi dulu!" Frans langsung turun dari ranjangnya kemudian berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya.
"Dasar tidak tahu malu!" bentak Rahma ketika dilihatnya suaminya itu tidak malu sedikit pun memperlihatkan tubuh nakednya.
Frans menjawabnya bentakan istrinya dengan kiss bye seraya masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian mereka ke rumah sakit yang tidak jauh dari kompleks perumahan tempat mereka tinggal.
Frans menghubungi semua keluarganya, mengabari tentang kelahiran anak mereka. Rahma melahirkan secara normal kedua anaknya.
"Selamat ya, atas kelahiran twins!" ucap Tiara dengan perut buncitnya, sedangkan Dolly menggendong baby boy.
"Siapa nih nama si twins?" tanya Cecilia tidak mau kalah, dia langsung mendekati kakak iparnya.
"Tanya abangmu saja. Kakak belum memikirkannya." jawab Rahma sambil meringis.
Cecilia celingukan mencari keberadaan abangnya, akan tetapi tidak kunjung menemukan. Frans saat ini sedang ke kantor mengurus cuti. Dia ingin mendampingi istrinya selama beberapa hari.
"Selamat ya, sekarang sudah tercapai semuanya. Gelar sarjana sudah di tangan, gelar dosen sudah, sekarang tambah lagi gelarnya. Ibu!" ucap Dolly dari belakang Tiara.
"Tidak seperti kak Tiara! Dia cuma dapat gelar ibu saja!" cibir Cecilia yang kebetulan juga ikut ke rumah sakit karena sedang libur.
"Heh, bocil! Lo ngerti apa? Ngikut aja." sahut Tiara kesal.
Semenjak kakak-kakaknya menikah, Cecilia lebih dekat pada kakak-kakak iparnya. Dia tidak segan untuk meledek kakak-kakak iparnya.
"Sudah! Jangan ribut, nanti twins nangis dengar kalian berisik!" kata mama Ratna pada anak dan menantunya.
Mereka pun akhirnya memilih keluar dari kamar itu, untuk memberikan waktu pada Rahma untuk beristirahat. Mereka memaklumi kondisi ibu yang baru melahirkan, walaupun sudah dua hari usia si twins. Rahma harus tetap beristirahat dengan cukup.
Adik Rahma yang baru berusia empat bulan juga diajak ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Senyum pak Dewa selalu mengembang setelah menikah ulang dan dikaruniai seorang anak laki-laki lagi. Kini kebahagiaan yang dirasakan semakin lengkap. Memiliki dua jagoan yang nantinya bisa menjadi penerus usahanya.
Tidak hanya pak Dewa yang bahagia, pak Edward pun merasa sangat bahagia karena sekarang sudah memiliki dua cucu laki-laki dan seorang cucu perempuan.