Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 78


__ADS_3

Pak Edward pun menghubungi abangnya yang tinggal di ibu kota, dia hendak meminta tolong dicarikan psikiater terbaik di kota ini. Melihat anaknya hancur, pak Edward pun tidak tinggal diam.


Frans pagi ini pergi menemui Jojo untuk melihat copy an rekaman CCTV di club kemarin. Dia ingin masalah ini diusut secara tuntas. Agar Rahma percaya padanya bahwa kejadian malam itu bukan asli kehendaknya.


Sementara itu, di kamar Rahma masih sering melamun walaupun sudah berkurang. Bu Sarifah selalu mengajaknya bercerita tentang masa kecilnya saat masih bersama ayahnya. Bu Sarifah sengaja menyinggung ayah Rahma untuk memancing emosi Rahma. Ternyata tidak berhasil, Rahma akan memberikan respon yang berarti jika mendengar nama Frans.


"Seandainya Ayah pulang, Rahma mau minta apa sama dia?" tanya bu Sarifah sambil mengusap kepala anaknya.


"Ayah tidak akan pernah pulang, Bu. Dia sudah bahagia sekarang." jawab Rahma datar.


Bu Sarifah hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar mendengar jawaban dari anaknya itu.


"Semua laki-laki sama, setelah dapat madunya dibuang begitu saja." lanjut Rahma.


"Tidak semua! Itu hanya pikiran kamu saja. Kita harus berpikir positif, mungkin dia punya alasan tersendiri yang tidak kita ketahui. Sebenarnya bisa saja dia terpaksa meninggalkan kita, tanpa kita tahu apa sebabnya. Jangan terlalu gampang menghakimi seseorang, Nak!" tutur bu Sarifah menanggapi perkataan Rahma.


Di lain tempat, Frans mengomentari rekaman CCTV yang baru saja selesai dilihatnya bersama Jojo.


"Jo, Lo kenal cewek tadi nggak? Yang minum sisa Gue!" tanya Frans pada Jojo.

__ADS_1


"Keknya anak baru deh! Temannya si Sheila. Kenapa?"


"Nggak, Gue heran aja. Dia tiba-tiba gabung ma kalian terus menenggak minuman sisa Gue. Apa maksudnya coba?"


"Mana ku tahu, tapi sepertinya dia bekerjasama dengan Sheila deh. Coba Lo tanya ke Sheila langsung. Apa maksud dia mencampur minuman Lo dengan obat laknat tersebut? Nanti Gue tanya dia siapa cewek tadi. Kita pura-pura aja, biar dia jawab semuanya. Yang penting kita siapkan rekaman, buat rekam semua perkataan dia nanti." Jojo mengeluarkan semua idenya pada Frans, berharap bisa membantu temannya mendapatkan solusi terbaik.


"Boleh juga ide Lo!" ucap Frans sambil mengacungkan jempolnya.


*


*


*


Sementara itu, seorang psikiater terbaik telah datang ke rumah Frans untuk melihat kondisi Rahma. Dengan ditemani bu Sarifah, psikiater tersebut mulai berbicara dari hati ke hati dengan Rahma.


Rahma yang tertutup sangat susah untuk diajak berbicara oleh psikiater tersebut. Sampai berjam-jam wanita cantik berumur tiga puluhan itu mencoba membujuk Rahma. Akan tetapi hasilnya masih nihil. Besok dia berjanji akan datang lagi untuk kembali membujuk Rahma mau mengeluarkan isi hatinya tanpa rasa takut.


*

__ADS_1


*


*


Sudah tiga hari berlalu, Rahma hanya mengalami sedikit perubahan. Sehingga pak Dewa meminta agar Rahma pindah dari rumah itu. Hal ini juga disetujui oleh bu Sarifah dan psikiater tersebut.


Saat ini mereka sedang membereskan barang-barang Rahma yang akan dibawa pindah. Sebenarnya Frans dan kedua orang tuanya keberatan. Namun, melihat kondisi Rahma yang menyedihkan, mau tidak mau harus merelakan Rahma keluar dari rumah itu.


"Om, Frans boleh 'kan berkunjung ke sana nantinya?" tanya Frans sendu pada calon mertuanya.


"Boleh, kenapa harus tidak boleh? Bahkan kamu menginap pun boleh, asal Rahma memberi ijin," jawab pak Dewa sambil menepuk pundak Frans.


"Seminggu lagi pernikahan kalian. Semoga Rahma sudah jauh lebih baik lagi. Sehingga acara pernikahan kalian bisa terlaksana dengan lancar." lanjut pak Dewa.


"Aamiin. Semoga Rahma mau menerima dan memaafkan Frans," sahut Frans sayu.


"Kamu yang sabar, kalau jodoh pasti tidak akan kemana. Kuncinya sabar dan berusaha!" nasehat pak Dewa.


Akhirnya, Rahma dibawa pak Dewa ke rumah yang baru dibelinya atas nama Rahma. Frans dan kedua orang tuanya mengikuti mobil pak Dewa menggunakan mobilnya. Sedangkan Vani dan Rio masih kuliah saat Rahma pindah.

__ADS_1


__ADS_2