Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 74


__ADS_3

Pak Dewa sampai di kampung halaman istrinya pagi hari. Dia sengaja menyewa mobil beserta sopirnya agar tidak diketahui oleh Agatha.


Pak Dewa kebingungan mencari rumah yang dahulu ditinggalkan untuk anak istrinya. Dahulu sebelum dia pergi ke ibu kota, dia membangun sebuah rumah yang bagus. Akan tetapi baru saja ditinggalkan beberapa bulan terjadi gempa dahsyat yang meluluh lantakkan rumah itu. Sehingga pak Dewa tidak bisa lagi mengenali rumah istrinya sekarang.


Setelah berulang kali bertanya pada warga setempat, akhirnya pak Dewa sampai juga di rumah Sarifah. Rumah berdinding kayu beratapkan nipah. Walaupun lantai rumah itu masih lantai keramik dari rumah sebelumnya, akan tetapi atap nipahnya sudah harus diganti.


"Permisi!" pak Dewa mengetuk pintu rumah itu.


Bu Sarifah yang saat itu sedang menjemur pakaian di samping rumah pun meninggalkan pekerjaannya. Dia berjalan menuju teras rumah untuk menemui tamu yang mengetuk pintu rumahnya.


"Bapak cari siapa?" tanya bu Sarifah ketika berhadapan dengan tamunya.


Pria paruh baya itu menoleh ke arah suara yang berasal dari samping rumah.


"Sari!" panggil pak Dewa dengan suara tercekat.


Bu Sarifah hanya melihat orang yang berada di depannya. Dia memindai dari kaki kemudian naik ke wajah pria paruh baya di depannya.


"Mas Arya?" ucap Sarifah setelah mengenali siapa laki-laki yang di depannya.


"Sari!" pak Dewa menghampiri bu Sarifah kemudian memeluk istrinya itu.


Istri yang pernah ditinggalkannya belasan tahun tanpa diceraikan.


Bu Sarifah memberontak menunjukkan perlawanan tapi pak Dewa memeluknya erat sehingga dia susah bergerak.

__ADS_1


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku sangat merindukan dirimu dan anak kita," ucap pak Dewa lirih dengan air mata berlinang.


"Pergi kamu! Untuk apa kamu datang lagi?" jawab bu Sarifah ketus tanpa mau membalas pelukan pak Dewa.


"Aku minta maaf. Aku tidak..."


"Pergi kamu! Kami tidak membutuhkan kamu!" teriak bu Sarifah dengan air mata yang terus mengalir deras.


"Dengarkan penjelasanku dulu. Ku mohon!" pinta pak Dewa dengan sendu.


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku mohon dengarkan aku. Setelah itu kamu boleh membenciku," tutur pak Dewa dengan raut wajah mengiba.


*


*


*


Tepat matahari di tengah, Frans sampai di rumah orang tuanya. Saat Frans memarkir motornya, sudah ada mobil yang biasa dipakai sang ayah terparkir rapi di samping mobil lainnya.


"Siang, Ma! Pa!" sapa Frans begitu melihat kedua orang tuanya duduk menghadap hidangan di meja makan.


"Siang! Tumben kamu pulang nggak kasih kabar," jawab mama Ratna.


"Kenapa? Kehabisan uang?" tanya pak Edward pada anaknya.

__ADS_1


Frans tidak menjawab pertanyaan ayahnya, dia langsung duduk bergabung dengan mereka.


"Sudah! Kita makan dulu, nanti setelah makan baru cerita."


Bu Ratna mengambilkan nasi beserta lauk pauknya, sedangkan Frans mengambil sendiri nasi dan lauknya.


Mereka bertiga makan dalam keheningan, hanya suara denting sendok beradu dengan piring.


"Ma, Pa, Frans mau bicara penting dan mendesak. Bisa?" ucap Frans begitu mereka selesai menyantap makan siangnya.


"Mau bicara apa? Waktu Papa tidak banyak!" jawab pak Edward dengan wajah datarnya.


Frans pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi padanya tadi malam pada kedua orang tuanya.


"Ishh, kenapa sih anak-anak Papa tidak ada yang sabar menunggu halal? Punya dua anak laki-laki kok sama saja. Di DP-in dulu baru dinikahi." omel mama Ratna.


"Kenapa jadi Papa yang salah sih, Ma? 'Kan hebat anak Papa tokcer semua. Papa pastikan kali ini langsung tekdung. Papa sebentar lagi jadi Opa" sahut pak Edward girang.


"Aduuhhhh! Papa ini, ck," gerutu mama Ratna.


Frans yang melihat tanggapan kedua orang tuanya hanya bisa tepok jidat.


"Gimana ini, Ma? Pa? Bisa 'kan siang ini kita ke rumah orang tua Rahma," tanya Frans pada kedua orang tuanya.


"I-iya! Kita ke sana sekarang. Iya 'kan, Ma?" ucap pak Edward.

__ADS_1


Kedua orang tua Frans tidak pernah melihat seseorang dari harta. Oleh karena itu anak-anaknya pun biasa bergaul dengan semua kalangan.


Frans dan kedua orang tuanya pun bergegas pergi menuju rumah orang tua Rahma. Tidak peduli saat ini sakit kepala menderanya, Frans tetap pergi untuk melamar pujaan hatinya.


__ADS_2