Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Semuanya semakin bahagia


__ADS_3

Hingga akhirnya tibalah waktunya kelulusan sekolah, semua murid kelas 3 memakai pakaian khusus. Para laki-laki memakai jaz dan perempuan memakai kebaya, aku sungguh tidak menyangka akhirnya tibalah kelulusan sekolah. Selama ini aku terus berjuang dari sekolah dasar sampai sekarang, perjuanganku sebenernya baru setengah perjalanan. Lulus dari sekolah ini nanti aku akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah ku, aku ingin mewujudkan cita-cita ku dan membuat orangtua ku bangga. Ibuku sekarang sudah berada di surga sana, Ibu pasti bangga dengan keberhasilan yang aku raih. Saat itu pembacaan juara-juara antar kelas, aku jadi deg-degan alhamdulilah selama ini aku selalu juara pertama di kelas.


"Tibalah saatnya kita umumkan untuk juara-juara tingkat kelas XII"


Saat semuanya di umumkan, aku tidak masuk tiga besar di kelasku. Aku merasa sedih, mungkin gak apa-apa saat ini aku belum jadi yang terbaik.


"Dan yang terakhir, inilah murid terbaik di sekolah ini dengan nilai rata-rata sempurna. Dia juga mendapatkan kesempatan melanjutkan kuliah di luar negeri di universitas ternama di dunia. Kita sambut siswa kebanggaan kami Ahmad Sanusi Ilyas, silahkan naik ke atas panggung !"


Semua orang riuh bertepuk tangan, aku melihat Ayahku di sana sedang duduk dia menangis. Aku langsung berdiri dan naik ke atas panggung, aku di berikan piala dan piagam penghargaan. Aku sangat bahagia, setelah itu aku turun dan berlari menghampiri Ayah ku. Aku memeluknya dan menangis, semua orang ikut menangis dan terharu.


"Selamat nak, kamu benar-benar hebat. Ayah sangat bangga sama kamu, kini keinginan kamu terwujud. Kejarlah cita-cita mu setinggi langit nak, buat Ayah dan semuanya bangga"


"Iya Yah, Ilyas akan berusaha membuat semuanya bangga sama Ilyas. Terima kasih selama ini Ayah selalu mendukung Ilyas dan terus mendo'akan Ilyas. Tanpa do'a dari Ayah semuanya tidak akan terjadi"


"Ini semua memang kerja keras kamu nak, dari dulu sejak kecil kamu sudah mandiri tidak pernah merepotkan dan membebankan orang tua. Justru Ayah yang sudah membebankan mu apalagi sejak Ayah kecelakaan, kamu yang membanting tulang untuk keluarga padahal kamu masih anak-anak. Banyak sekali cobaan dan rintangan dalam hidup kamu, dan sekarang semuanya terkabul. Kamu telah berhasil nak, jerih payah dan perjuangan kamu selama ini membuahkan hasil. Ayah percaya suatu saat nanti kamu akan jadi orang sukses dan orang hebat, teruslah menggapai mimpi mu dan pesan Ayah jika sudah berada di atas jangan pernah berubah. Tetaplah jadi Ilyas yang sekarang, kekuasaan dan harta cuma titipkan semata yang menentukan itu amal perbuatan dan ibadah kita"


"Pasti Yah, aku tidak akan pernah berubah. Aku tidak akan pernah jadi kacang yang lupa akan kulitnya, aku berjuang dari dulu aku tidak akan pernah melupakan orang-orang yang telah menolong dan membuatku jadi titik ini"


"Ayah percaya sama kamu, sudah sekarang kamu berdiri dan pergi temui teman-teman kamu !"


"Iya Yah"


Teman-teman ku ikut menangis dan bangga dengan keberhasilan ku, ini baru permulaan aku akan kembali sekolah di luar negeri.


"Selamat Yas, kamu benar-benar hebat" ucap Adin


"Terima kasih Din, kamu juga hebat jadi juara pertama di kelas"


"Kamu juara umum, yang paling pintar di sekolah ini"


"Arya juga hebat nih, sekarang jadi juara pertama juga di kelasnya" ucap Dimas


"Alhamdulillah, aku sering belajar sama Ilyas setiap pelajaran yang tidak aku mengerti, dia yang selalu menasehati ku"

__ADS_1


"Kamu nya juga memang pintar Ya, selamat ya"


"Makasih Yas, selamat juga buat kamu jadi yang terbaik di sekolah"


"Alhamdulillah, oh iya pulang sekolah nanti ke rumah ku ya bukan rumahnya Pak Jamal. Aku mengundang kalian semua untuk makan-makan, ada Pak Jamal, Pak Ardi, Pak Rudi dan Bu Silvi juga"


"Wah asik kayaknya kita makan-makan, pasti dong Yas sekalian merayakan keberhasilan kamu" ucap Jefri


"Kalau soal makanan paling semangat tuh Jefri" ucap Arif


"Nanti kita sepertinya akan berpisah nih, kita sama-sama kuliah kecuali Arya mungkin langsung kerja. Kita akan kehilangan kamu Yas pergi jauh ke luar negeri" ucap Tomi


"Tenang aja, ini semua cuma sementara ko nanti kita akan kumpul-kumpul lagi"


Saat itu, ada Sandi memakai kursi roda di dorong oleh Ibunya menghampiri kita.


"Yas aku mau minta maaf sama kamu, dari dulu aku sering jahatin kamu. Aku tidak pernah kapok selalu menjahili dan mencelakai kamu, dan sekarang aku menerima balasannya aku kehilangan kedua tangan dan kaki ku. Tangan dan kaki ini yang selalu berbuat jahat sama kamu, aku memang pantas menerimanya"


"Aku sudah memaafkan kamu ko, jauh sebelum kamu meminta maaf. Yang berlalu biarlah berlalu, itu semua cuma masa lalu. Oh ya kamu datang ya ke rumah ku dan Ibu kamu juga, aku punya hadiah spesial buat kamu"


Sandi langsung menangis aku sendiri memeluknya


"Aku benar-benar jahat, kamu masih tetap baik dan mau memaafkan aku padahal aku sudah benar-benar keterlaluan sama kamu. Aku benar-benar menyesal Yas, andai aja waktu bisa di undur aku ingin menebus semua kesalahanku sama kamu"


"Aku bahagia sekarang ini kamu telah sadar, kamu harus tetap semangat ya dan sayangi Ibu kamu. Beliau merupakan Ibu yang terbaik, kamu harusnya bangga punya Ibu seperti beliau. Dia menyayangi kamu dengan tulus, kasih sayang seorang Ibu tak terhingga. Aku sendiri sudah gak punya Ibu, kamu masih punya orang tua lengkap sayangi mereka sebelum semuanya terlambat"


"Iya Yas, aku sendiri menyesal aku sudah durhaka sama Ibuku sendiri, saat aku seperti ini dia yang selalu merawatku aku jadi beban dan selalu merepotkannya"


Ibunya langsung memeluk Sandi dan menangis


"Kamu anak Ibu yang paling baik nak, Ibu selalu sayang sama kamu sampai kapanpun"


"Terima kasih Bu, maafin Sandi selama ini sudah sering membuat Ibu terluka dan menangis karna ulah Sandi. Selama ini Sandi durhaka dan sekarang Sandi jadi beban untuk Ibu apalagi setelah Sandi cacat seperti ini. Sandi tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, makan dan semuanya tergantung pada Ibu. Sandi benar-benar tidak berguna Bu, hanya merepotkan Ibu saja"

__ADS_1


"Tidak nak, kamu jangan berbicara seperti itu. Yang penting kamu harus tetap semangat, masa depan kamu masih panjang. Kamu harus tetap bersyukur banyak di dunia ini yang lebih dari kamu, kamu tetap semangat dan berjuang"


"Iya Bu terima kasih banyak, Sandi akan tetap semangat ingin membahagiakan Ibu"


Semua orang dibikin terharu oleh mereka, kasihan Sandi sekarang jadi seperti ini tapi aku bahagia dia sekarang sudah berubah. Kemudian kita semua langsung pulang, di rumah ku aku sudah mempersiapkan semuanya. Semuanya berkumpul, tapi kita masak dulu karna aku ingin hasil masakan sendiri biar lebih enak.


"Sandi, aku punya hadiah untuk kamu !"


"Apa Yas ?"


Aku memberikan kado besar untuk nya, Ibunya membantu membukanya. Setelah di buka, Ibunya menangis dan Sandi sendiri kaget dia menangis. Aku membelikan tangan dan kaki palsu untuk nya, seperti yang di pakai oleh Ayah.


"Ya Allah Yas, terima kasih banyak kamu sangat baik. Aku benar-benar malu sama kamu"


"Makasih nak Ilyas, ini adalah hadiah luar biasa untuk Sandi"


"Sama-sama Bu, San. Coba sekarang di pakai !"


"Biar Bapak bantu cara pakainya" ucap Pak Ardi


"Ini di buat seperti aslinya, nanti kamu akan bisa berjalan dan menggerakan tangan mu. Tapi tetap kamu harus belajar dulu, awalnya akan kaku tapi nanti lama-lama akan terbiasa" ucap Bu Silvi


"Nih lihat seperti punya Bapak San, sekarang Bapak bisa berjalan dengan normal" ucap Ayahku


"Terima kasih Yas, aku tidak tau harus gimana aku benar-benar merasa malu dengan apa yang aku lakukan selama ini sama kamu"


"Sudah jangan di pikirkan, langsung coba !"


Sandi di angkat dulu dari kursi roda dan dia di baringkan di atas sofa. Pak Ardi dan Pak Rudi membantu memasangkan kaki palsu nya pada kaki Sandi, kemudian dia di angkat di suruh berdiri.


"Horee Sandi sekarang bisa berjalan" ucap Jefri dan Sandi juga terlihat bahagia


Kemudian tangan palsunya di pasangkan juga, hingga sekarang dia sudah kembali mempunyai tangan dan kaki. Dia mulai belajar menggerakan tangan dan kaki palsu nya, agak berat saat dia gerakan seperti waktu dulu saat pertama kali Ayah memakai kaki palsu. Ibunya terus menangis, anaknya kini punya kaki dan tangan palsu, Sandi terlihat sangat senang. Hingga setelah itu kita masak-masak bersama, semuanya ikut membantu. Setelah makanannya jadi kita langsung makan bersama.

__ADS_1


__ADS_2