Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 77


__ADS_3

"Rahma," panggil bu Sarifah lirih dengan air mata menetes.


Rahma semakin ketakutan, ada trauma yang tertinggal saat kejadian malam itu. Setiap kali mengingat hal itu, Rahma menggigil ketakutan. Begitu besar trauma yang diterima Rahma, membuat dia selalu ketakutan. Bukan hanya rasa takut saja yang menderanya, akan tetapi merasa dirinya hina dan kotor. Setiap melihat tubuhnya sendiri, Rahma merasa jijik.


"Rahma, ini Ibu, Nak. Jangan takut, ayok sini!" bujuk bu Sarifah.


Vani yang melihat bagaimana sikap Rahma sejak tadi pagi pun merasa heran dan akhirnya bertanya.


"Maaf, Tan. Sebenarnya ini ada apa?" tanya Vani bingung, tidak hanya Vani saja yang bingung melihat Rahma yang tiba-tiba berubah aneh. Rio dan mbok Darmi juga tadi menanyakan hal ini padanya.


"Tadi malam kamu kemana kok tidak tahu terjadi sesuatu di rumah ini?" tanya mama Ratna jengkel.


Ada penghuni selain Frans dan Rahma tapi kejadian pemerkosaan itu kenapa tidak ada yang tahu? batin bu Ratna.


"Saya tidur setelah makan malam, Tante. Ngantuk banget jadi cepet tidurnya. Sewaktu saya tidur, Rahma masih mengerjakan tugas kuliah. Setelah itu saya tidak tahu apa-apa, apalagi tadi pagi saya ada kuliah pagi. Sehingga keluar rumah saat masih sepi." cerita Vani dengan jujur dan polos.


"Hhhh, pantas saja kamu tidak tahu apa yang dilakukan Frans pada Rahma. Tidak ada yang mengetahui kejadian tadi malam, itulah kenapa kehormatan Rahma tidak terselamatkan. Pak Sukri pun seperti biasa, buka sama nutup pintu pagar tanpa tahu keadaan di dalam rumah." ucap mama Ratna penuh sesal.


Saat mama Ratna dan Vani mengobrol, bu Sarifah masih berusaha membujuk Rahma. Rahma sejak bangun tidur tadi pagi hingga malam ini, masih ketakutan dan tak jarang air matanya menetes tiba-tiba.

__ADS_1


Bu Sarifah langsung memeluk Rahma begitu Rahma terdiam di pojokan. Pikiran Rahma menerawang jauh entah kemana. Sehingga saat bu Rahma memeluknya, dia hanya diam saja tidak menunjukkan perlawanan.


Vani dan mama Ratna menangis melihat kejadian itu, apalagi melihat air mata bu Sarifah dan Rahma yang tidak berhenti menetes.


"Ma, ayo makan! Cecil sudah laper!" teriak Cecil di depan pintu kamar.


Mama Ratna kaget mendengar suara anak bungsunya.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya mama Ratna heran.


"Sama Bang Dolly dan Kak Tiara!" jawab Cecil tersenyum menampakkan giginya.


"Gampang itu, Ma. Pokoknya beres dah!" ucap gadis cilik itu sambil mengangsurkan kepalanya mengintip ke dalam kamar Rahma.


"Ayo kita makan malam, keburu larut. Lagian cacing sudah demo ini." ajak mama Ratna pada semua orang yang berada di kamar itu.


Bu Sarifah masih membujuk Rahma, akan tetapi Rahma tidak mau diajak ke ruang makan. Sejak pagi dia mengurungkan diri, tidak mau bertemu dengan Frans.


"Saya makan di sini saja, Jeng. Menemani Rahma," kata bu Sarifah.

__ADS_1


"Baiklah, nanti saya suruh mbok Darmi antar makanan untuk kalian di sini," jawab mama Ratna.


*


*


*


Hati Frans berdenyut sakit melihat keadaan Rahma. Ternyata Rahma begitu rapuh. Tidak sekuat kelihatannya selama ini. Frans merasa sangat menyesal atas kejadian naas di malam itu. Bahkan Frans tidak bisa tidur karena kejadian di malam itu masih berputar bak video di kepalanya.


Frans mengusap kasar wajahnya, dia tidak menyangka sama sekali akan seperti ini jadinya. Wanita yang dicintainya semakin jauh dari jangkauan.


Frans pun berlalu dari depan kamar Rahma. Tadi saat terbangun dari tidurnya yang hanya setengah jam, Frans berlari ke kamar Rahma. Dia ingin sekali melihat pujaan hatinya itu. Ternyata pemandangan di depan matanya sangat menyakitkan.


Rahma hanya duduk melamun sambil memeluk lututnya. Dengan air mata yang tiada putusnya menetes di pipi. Untuk saat ini Rahma belum bisa diajak berbicara karena masih trauma.


"Pa, kita panggil psikiater ke rumah ya? Frans tidak tega melihat dia, Pa!" ujar Frans memelas.


"Iya, nanti Papa cari psikiater terbaik di sini untuk mengobati Rahma." sahut pak Edward.

__ADS_1


Dia merasa menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini. Dia merasa gagal mendidik anak-anaknya. Dolly yang menghamili tunangannya, sekarang Frans memperkosa gadis incarannya. Walaupun pak Edward selalu bercanda, akan tetapi dia tidak pernah putus memikirkan keadaan anak-anaknya.


__ADS_2