
Sejak pindah ke rumah baru, Rahma sudah menunjukkan perubahan yang berarti. Wajahnya tidak semurung sebelumnya. Bahkan dia sudah bisa diajak bercanda dan mulai kuliah, untuk sementara dia tidak mengajar.
Frans pun sudah mendapatkan keterangan dari Sheila, jika dia hanya disuruh temannya yang bernama Christie. Christie adalah teman sekaligus sepupu Sheila, dia juga adik tingkat di kampus mereka. Tanpa Frans Tahu jika Christie adalah anak Agatha.
Frans menunjukkan rekaman CCTV pada Rahma dan psikiater yang menanganinya. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan maaf dari Rahma. Selain itu juga memberikan pengertian pada Rahma jika seperti inilah jalan mereka untuk bersatu.
"Maafkan dia, Nak. Kesalahan bukan sepenuhnya pada Frans. Banyak orang yang gelap mata jika sudah mengkonsumsi obat itu. Mungkin Frans bisa menahan pada awalnya, akan tetapi pada akhirnya pertahanannya runtuh juga. Sebagai manusia biasa, kita punya batas untuk mengendalikan diri. Mungkin saat itu, dia sudah tidak bisa menahannya lagi." tutur bu Sarifah menasehati anaknya.
"Mungkin ini jalan yang harus kalian lewati sebelum bersatu. Ibu hanya ingin kalian berdua bahagia, saling memaafkan dan tidak ada dendam. Memang caranya salah, akan tetapi lihatlah rasa cinta dan tanggung jawab yang dia miliki. Jarang lho, seorang laki-laki bersikap seperti Frans. Kamu harus ikhlas menerima semua ini. Semua yang terjadi pada kita sudah menjadi suratan takdir. Kita tidak bisa mengandaikan sesuatu karena itu sama saja menolak takdir." lanjut bu Sarifah sambil mengelus rambut Rahma dengan lembut.
Rahma hanya diam saja mendengarkan nasehat dari ibunya. Diam karena merasa tidak berdaya untuk melawan. Betul apa yang dikatakan ibunya, mungkin ini sudah menjadi takdir hidupnya. Hidup jauh dari kata bahagia sejak kecil.
Rahma memang sudah bisa diajak berbicara dengan tenang mengenai kejadian malam itu. Hanya saja dia masih tidak mau melihat Frans. Psikiater yang menanganinya pun mengatakan jika rasa trauma dan depresi yang dialami Rahma belum parah. Tidak membutuhkan waktu lama untuk pengobatannya.
Tiara datang bersama Frans ke rumah Rahma yang baru. Tiara mendesak Frans untuk mengantarkan karena Dolly pulang untuk mengurus perusahaan orang tuanya.
__ADS_1
"Rahma!" teriak Tiara saat melihat Rahma sedang menyirami tanaman di halaman depan rumah.
"Kangen!" lanjutnya sambil berlari mendekati Rahma yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Rahma merasa kaget melihat perut buncit Tiara.
"Tiara, kamu?" ucap Rahma sambil melihat ke wajah dan perut Tiara bergantian.
"Hehehe!" Tiara hanya nyengir sambil menampakkan giginya.
"Kapan kamu menikah? Kok sudah tekdung." tanya Rahma sambil memeluk Tiara.
"Bodoh dianya, diajak nikah gak mau diajak enak-enak mau. Jadi kek gitulah, bunting duluan baru nikah!" celetuk Frans setelah menutup pintu mobilnya.
Badan Rahma gemetaran menahan rasa takutnya. Tiara yang menyadari itu kemudian menenangkan Rahma dengan mengusap lengan Rahma berulang kali.
"Semua akan baik-baik saja. Tidak usah takut, rasa cintanya padamu lebih besar. Jadi dia tidak akan membuatmu ketakutan, dia akan melindungimu. Kejadian malam itu diluar kendalinya." bisik Tiara sambil kembali memeluk Rahma agar sahabatnya itu tenang dan nyaman.
__ADS_1
Frans yang melihat ketakutan Rahma akhirnya memilih menjauh dari kedua teman SMA nya itu. Frans memilih berjalan menuju halaman belakang yang terhubung langsung dengan halaman depan. Rumah itu memiliki halaman yang luas membentang dari depan ke belakang. Bangunan rumah tersebut berdiri ditengah-tengah tanah seluas satu hektar.
Rahma dan Tiara mengobrol di ayunan yang ada di halaman depan rumah Rahma.
*
*
*
Tinggal satu hari lagi pelaksanaan pernikahan Rahma dan Frans. Pernikahan secara sederhana dan tertutup, hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak saja. Rencananya resepsi pernikahan mereka akan diadakan bersamaan dengan pesta pernikahan Dolly dan Tiara.
Walaupun Rahma masih ketakutan setiap melihat Frans, akan tetapi tidak separah sebelumnya. Sekarang jika berada dalam satu ruangan dengan Frans, baru Rahma menunjukkan reaksinya. Jika ada selain mereka berdua, Rahma sudah bisa menerima dan tenang.
Baju kebaya yang akan dikenakan oleh Rahma untuk besok telah diantarkan ke rumah. Rahma melakukan fitting baju pengantin dari rumah, petugas butik yang mendatangi karena kondisi Rahma yang belum sembuh total.
__ADS_1
"Cantik sekali anak Ibu. Baju ini sangat pas di badanmu." puji bu Sarifah saat melihat Rahma memakai baju kebaya berwarna putih gading tersebut.
"Bajunya yang cantik, Bu, bukan Rahma," jawab Rahma merendah sambil tersipu, sehingga tampak rona merah di pipinya.