
Aku melihat keadaan Pak Jamal yang tadi pingsan, hingga akhirnya beliau sudah sadar.
"Bapak gimana keadaannya ?"
"Bapak baik-baik aja, gimana keadaan Ibu ? Apa dia masih kritis ?"
Aku cuma mengangguk, aku tidak tega melihat keadaan Bapak. Hingga dia terlihat sangat sedih sekali, aku gak tega mengatakan kalau Ibu harus di operasi.
"Sebaiknya Bapak istirahat dulu !"
"Bapak gak apa-apa ko, ingin melihat keadaan Ibu" Bapak mulai bangun
"Sebaiknya Bapak jangan dulu kemana-mana istirahatin dulu !"
"Gak nak, Bapak gak apa-apa"
"Yaudah aku bantu, pelan-pelan Pak !"
Bapak aku gandeng dan kita berjalan ke luar ke tempat ruangan Ibu di rawat. Kita belum bisa masuk ke dalam, cuma bisa melihat keadaannya lewat kaca di pintunya. Ibu terbaring tak berdaya dengan memakai alat bantu pernafasan di hidungnya. Aku tidak tega melihat kondisi Ibu seperti ini, aku harus segera mendapatkan uang untuk biaya operasinya Ibu. Aku dan Pak Jamal berdiri di depan pintu sambil melihat keadaan Ibu di dalam sana yang sedang berbaring. Aku lihat sudah pukul 9 malam, tadi kita bawa Ibu setelah maghrib.
"Pak, aku mau sholat dulu !"
"Ayo, Bapak juga belum sholat"
Aku dan Pak Jamal pergi ke mushola untuk melaksanakan sholat, kita melaksanakan sholat secara berjamaah. Saat lagi sholat pikiranku kemana-mana, aku tidak bisa khusu saat sedang sholat. Hingga kemudian setelah selesai sholat kita berdo'a agar Bu Nana cepat sembuh, aku juga berdo'a untuk keluargaku agar di tabahkan dalam menjalani cobaan. Aku sendiri meminta pada Allah agar segala urusan ku di mudahkan, aku harus mencari uang entah kemana sebanyak itu.
"Pak, sebaiknya Bapak pulang aja biar aku yang nungguin Ibu di sini"
"Enggak nak, seharusnya kamu yang pulang kamu kan besok harus sekolah. Maaf ya Bapak jadi merepotkan kamu !"
"Enggak ko Pak, kan kalian ini sudah aku anggap seperti orangtuaku sendiri. Kalau gak ada kalian, aku gak tau harus gimana. Bapak dan Ibu sudah banyak membantuku, aku bisa tinggal di rumah Bapak kalau dulu gak ada Bapak, aku gak tau akan tinggal dimana"
"Kalau itu kami sendiri sangat senang nak, sejak adanya kamu bersama kami, kami merasa punya keluarga lagi seperti dulu. Terutama Ibu, dia sangat bahagia sejak ada kamu di rumah. Karna anak kami sendiri sudah tidak pernah lagi memberikan kabar"
"Semoga anak Bapak cepat pulang, aky juga sama Pak aku sangat senang tinggal bersama kalian. Aku sendiri sama Pak, Bapak juga tau seperti apa aku di rumah"
"Iya nak Bapak ngerti, semoga Ibu kamu cepat sadar. Kita kembali lagi ke ruangan Ibu !"
"Ayo Pak"
Saat kita duduk di dekat ruangannya Ibu, ada suster datang.
"Dengan keluarga Bu Nana ?"
__ADS_1
"Iya saya sus, suaminya"
"Pak, Bu Nana harus segera di operasi. Kami butuh keputusan secepatnya dari Bapak, mari ikut saya Pak untuk menandatangani surat nya"
"Iya sus, kamu tunggu di sini nak !"
"Iya Pak"
Pak Jamal dan suster pergi untuk mengurus operasinya Ibu, akhirnya Pak Jamal tau sendiri aku sudah merahasiakan semuanya ini takut Pak Jamal syok nantinya. Aku harus membantu mereka tapi aku bingung cari uang kemana sebanyak itu, hingga tiba-tiba aku di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahku.
"Cucuku kamu yang sabar"
"Kakek ! Aku bingung kek, aku harus cari uang kemana ? Aku sendiri butuh banyak uang untuk membantu keluargaku"
"Kamu yang sabar nak, ini semua cobaan dari Allah kamu harus tetap kuat. Kamu harus tetap berusaha dan berdo'a, besok pulang sekolah kamu pergi ke jalan mawar depan bank"
"Memangnya di sana ada apa kek ?"
"Nanti juga kamu akan tau, nanti malam jangan lupa sholat tahajud dan banyak berdzikir insyaallah semua masalah akan ada jalannya" tiba-tiba kakek menghilang
"Terima kasih banyak kek"
Pak Jamal pun datang, mukanya pucat dia terlihat sangat lemas.
"Ya Allah butuh uang 150 juta untuk biaya operasinya Ibu nak, dapat dari mana uang sebanyak itu ? Apa menggadaikan sertifikat rumah aja ?"
"Jangan Pak, nanti sulit untuk kedepannya. Bukannya itu sama aja dengan riba ? Memang bisa membantu tapi nanti ada bunga bayar nya"
"Iya kamu benar juga, lalu harus bagaimana ? Apa di jual aja rumah dan tanah nya ?"
"Sabar dulu Pak, saya lagi mencari uang nya"
"Jangan nak, Bapak gak mau melibatkan kamu. Kamu sendiri sedang membutuhkannya untuk keluarga kamu"
"Gak apa-apa Pak, nyawa Bu Nana saat ini yang lebih penting" Pak Jamal dan Bu Nana belum tau tentang masalah yang baru saja terjadi di keluarga ku
Aku tidak akan menceritakan masalah ku sama beliau, sebenarnya aku sendiri bingung tapi untuk sementara ini keluarga ku bisa tinggal di rumah paman untuk sementara waktu.
"Tapi kamu mau cari kemana uang sebanyak itu ?"
"Mudah-mudahan ada rezekinya Pak untuk Ibu, Allah pasti akan membukakan jalan untuk kita. Besok aku mau mencari uang nya"
"Ya Allah nak, terima kasih banyak kamu sangat baik" Pak Jamal menangis dan memelukku
__ADS_1
"Sama-sama Pak, sepertinya Bapak belum makan ya dari tadi ? Kita makan dulu yu Pak ?"
"Kamu saja yang makan nak, Bapak gak lapar"
"Bapak harus makan, nanti Bapak sakit siapa nanti yang jagain Bu Nana kalau Bapak sakit ? Kalau Bu Nana lihat, pasti dia marah karna Bapak gak mau makan. Bukannya Ibu suka marah kalau Bapak nunda-nunda makan ? Bapak harus sehat agar nanti kita bisa berkumpul lagi"
"Yaudah nak ayo kita makan !"
"Nah gitu dong, apa Bapak gak kasihan sama aku ? Jika nanti keduanya sama-sama sakit, nanti aku bagaimana" aku terus membujuknya agar dia kembali semangat
"Iya nak kasihan kamu nanti tambah ngrepotin kalau Bapak juga sakit"
*Makanya Bapak harus sehat biar ada yang menyemangati Ibu agar cepat sembuh"
"Benar nak, kasihan Ibu kalau Bapajmk sakit juga. Kita mau makan di mana ?"
"Di depan rumah sakit ini banyak yang jualan Pak, ayo kita ke sana !"
"Ayo nak !"
Aku dan Pak Jamal pergi ke luar, hingga kemudian kita membeli nasi goreng. Saat sedang makan, Pak Jamal terus diam dia sangat sedih sekali.
"Nak, mending kamu pulang aja kamu besok harus sekolah. pulang sekolah aja kamu kesini lagi"
"Enggak Pak, aku pengen di sini nemenin Ibu dan Bapak"
"Tapi gimana besok sekolah ?"
"Pagi-pagi aku mau langsung pulang untuk siap-siap sekolah"
"Yasudah kalau mau nya seperti itu, sudah malam sebaiknya kamu istirahat !"
"Bapak dulu, aku belum mh ngantuk Pak. Bapak sebaiknya istirahat dulu, Ibu ada yang jagain suster nya"
"Atau gantian aja, sekarang kamu tidur duluan nanti giliran Bapak yang tidur"
"Mending sama Bapak juga yu ! Kata susternya juga tadi Ibu masih kritis kita nya juga belum bisa menjenguknya jadi ada suster yang jagain"
"Oh gitu ya nak, yaudah kalau gitu mari kita istirahat dulu sudah malam"
"Ayo Pak"
Aku dan Pak Jamal mencari tempat untuk kami beristirahat, dari rumah kita sudah bawa tikar dan termos. Aku sendiri berusaha untuk bisa langsung tidur tapi ternyata susah, banyak sekali yang sedang aku pikirkan. Aku lihat Pak Jamal sudah mulai tidur, aku sendiri sudah ngantuk hingga akupun tertidur.
__ADS_1