
Mereka berlima pergi ke ibu kota dengan menggunakan dua mobil. Sebelum ke ibu kota, mereka terlebih dahulu singgah ke rumah pak Edward.
Saat dalam perjalanan, Frans menghubungi Jojo untuk mengambil rekaman CCTV club yang mereka datangi tadi malam. Dia ingin tahu siapa yang telah mencampur minumannya dengan obat laknat itu. Frans akan memperkarakan di kantor polisi untuk memberi efek jera pada pelaku.
Setelah menghubungi Jojo, Frans tidur selama sisa perjalanan. Rasa nyeri dan ngilu membuat Frans memilih tidur. Sedangkan di mobil lain, bu Sarifah dan pak Dewa sibuk memikirkan anak dan nasib pernikahan mereka nanti.
Bu Sarifah yang minta cerai pada pak Dewa, semakin menambah deretan masalah pada pak Dewa. Masalah fotonya dengan Rahma masih belum kelar karena Agatha masih marah. Masalah Rahma yang diper kosa oleh Frans juga belum tuntas karena belum akad nikah terlaksana. Ditambah lagi tiba-tiba bu Sarifah minta cerai secara agama dan negara.
Pikiran pak Dewa benar-benar kalut. Semua itu belum masalah di kantor dan kedua anaknya bersama Agatha. Dia curiga jika Christie bukanlah anak kandungnya, oleh karena itu dia akan melakukan tes DNA setelah acara pernikahan Rahma usai.
Akhirnya mereka sampai di rumah yang ditempati oleh Frans di ibu kota. Tepat pukul tujuh malam mereka memasuki pelataran rumah itu.
Vani heran melihat kedatangan mereka, sedangkan Rahma masih mengurung diri di kamarnya. Vani langsung masuk ke kamar untuk memberi tahu pada Rahma.
"Ma, ada yang datang! Lo tahu nggak siapa mereka?" bisik Vani di dekat Rahma.
"Kenapa memang kalau ada yang datang? Ada mbok Darmi dan pak Sukri yang jaga rumah ini. Ada tuan rumah juga. Ngapain bingung?" jawab Rahma acuh.
Rahma sudah berencana akan keluar dari rumah ini esok hari. Sebenarnya tadi dia siang dia akan pergi, akan tetapi karena selang kangannya masih sakit untuk berjalan jadi urung.
__ADS_1
"Selamat datang di kediaman kami!" ucap pak Edward begitu mereka keluar semua dari mobil.
Pak Edward mengajak pak Dewa masuk, sedangkan bu Ratna berjalan sambil merangkul pinggang bu Sarifah.
"Rumahnya bagus dan besar ya, Jeng?" kata bu Sarifah kagum dengan mata menyusuri setiap sudut rumah yang baru saja dimasuki.
"Ini rumah untuk Frans, sejak awal dia memang berniat kuliah di ibu kota. Jadi kami memberikan rumah ini untuknya. Semoga Rahma suka tinggal di sini," tutur bu Ratna.
Mbok Darmi langsung menyambut kedatangan tuan dan nyonya begitu tahu mereka datang.
"Mana Rahma, Mbok?" tanya Frans dari balik punggung pak Edward.
"Nggak apa-apa, Mbok! Di mana Rahma sekarang ini?" Frans mengulang pertanyaan yang tadi.
"Ada di kamarnya, Tuan. Non Rahma sakit keknya, sejak pagi tidak keluar dari kamarnya," jawab mbok Darmi meringis karena melihat luka lebam di wajah Frans.
Frans meminta bu Sarifah untuk menemui Rahma. Dia masih belum berani menampakkan wajahnya di depan Rahma, karena pasti Rahma akan mengusirnya.
Bu Sarifah dan bu Ratna langsung berjalan ke kamar Rahma begitu dikasih tahu oleh Frans.
__ADS_1
Rahma masih bergelung dalam selimut ketika kedua ibu tadi memasuki kamarnya. Rahma dan Vani pun kaget dengan kedatangan keduanya.
"Ibu?" ucap Rahma terkejut melihat ibunya datang ke rumah ini.
Bu Sarifah hanya mengangguk dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia berjalan mendekati anaknya yang duduk bersandar di headboard ranjang.
"Ibu sama siapa ke sini?" tanya Rahma lagi begitu bu Sarifah sudah berada di dekatnya. Mereka berpelukan untuk menyalurkan rasa yang ada.
Saat berpelukan dengan ibunya, netra Rahma menangkap seorang wanita umur 40 tahun an mendekatinya.
"Ibu ini?" tanya Rahma sambil melepaskan pelukannya.
"Panggil saja Mama! Sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Mama," jawab bu Ratna.
Bu Ratna pun memeluk Rahma dengan kasih. Sejatinya bu Ratna tidak pernah memandang rendah pada masyarakat kecil di sekitar mereka.
"Maafkan anak Mama, Sayang. Dia tidak sengaja melakukan itu tadi malam," mohon bu Ratna pada Rahma.
Rahma langsung melepaskan pelukan mereka, teringat kejadian tadi malam yang merenggut mahkotanya. Rahma mundur hingga menjauh dari bu Ratna dan bu Sarifah. Tampak jelas ketakutan di matanya.
__ADS_1
"Rahma," panggil bu Sarifah lirih dengan air mata menetes.