Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 107


__ADS_3

Proses perceraian Arya Dewanto dengan Agatha Lilyana berjalan lancar tanpa hambatan. Agatha dan Dewa juga menceritakan semua kebenaran yang terjadi selama ini pada Christie dan Dennis, agar mereka tidak menyalahkan salah satu orang tuanya ataupun keduanya. Mereka berdua sama-sama memberikan pengertian kepada anak-anak.


Cinta memang tidak bisa dipaksakan, cinta juga tidak akan tertukar. Dia akan datang pada hati yang tepat. Walaupun terpisah jauh, cinta tetap akan kembali ke pemiliknya. Walaupun digenggam erat, jika bukan jodoh dia juga akan terlepas.


Christie dan Dennis pun menerima dengan berat hati keputusan kedua orang tuanya. Mereka berdua sudah besar jadi berhak memilih ikut siapa. Agatha dan Dewa sama-sama membebaskan anak-anak untuk memilih, tanpa memberikan tekanan ataupun paksaan.


Christie tetap menganggap pak Dewa adalah ayahnya. Kasih sayang pak Dewa sejak dia dalam kandungan hingga lahir, sudah tidak diragukan lagi. Pak Dewa memang dingin dan datar, akan tetapi dia punya cara tersendiri untuk dekat dan menyayangi anak-anaknya.


"Dad, masih bolehkah Christie bermanja-manja dengan Daddy seperti sebelumnya?" tanya Christie ragu dengan air mata siap tumpah.


"Sampai kapanpun kamu tetap anak Daddy. Pintu rumah Daddy selalu terbuka untukmu dan Mommy. Kita tidak boleh memutuskan tali silaturahmi walaupun kita sudah tidak memiliki ikatan apapun lagi. Kapanpun kamu butuh Daddy, Daddy siap membantu semampu Daddy," jelas pak Dewa sambil memeluk Christie, anak yang sudah disayangi dan dianggap sebagai anak kandungnya.


"Terima kasih, Dad! Daddy memang ayah terbaik," ucap Christie dengan air mata menetes di pipinya.


Saat suasana mengharu biru di ruang tamu, Sheila datang bersama Chico. Sudah beberapa kali mereka mendatangi rumah ini, akan tetapi tidak pernah bertemu dengan satu pun penghuni rumah tersebut.


"Siang, Om, Tante!" sapa Sheila begitu bergabung di ruang tamu bersama Chico.


"Kok ada koper di sini, kalian mau pergi lagi?" sambung Sheila dengan pertanyaan.


"Hiks... hiks... Daddy dan Mommy pisah, Shei... huwaaa!" tangis Christie pecah dalam pelukan Sheila.


Sheila mengusap punggung Christie untuk menenangkannya.


"Sabar, mungkin ini jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Kita hanya bisa berdo'a saja, semoga mereka selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan di sisa umur mereka. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk tetap bersama." Sheila menasehati Christie yang masih memeluk tubuhnya.


"He'em!" jawab Christie sambil mengangguk.


Pak Dewa melihat ada seorang laki-laki datang bersama Sheila, dia memindai penampilan Chico dari atas kepala hingga ujung kaki. Pak Dewa merasa pernah melihat Chico, akan tetapi dia tidak ingat kapan dan dimana.


"Om, Tante!" sapa Chico pada kedua orang tua Christie dengan sedikit membungkuk dan mencium punggung tangan keduanya bergantian.

__ADS_1


"Ini siapa?" tanya pak Dewa sambil memicingkan matanya sebelah.


"Saya Chico, Om." sahut Chico dengan tegas.


"Ada perlu apa datang kemari?"


"Saya ingin minta maaf pada Christie, Om dan Tante. Begitu banyak salah saya pada anak Om dan Tante. Terlambat memang, akan tetapi saya tidak ingin dihantui rasa bersalah." ucap Chico terus terang.


"Jadi kamu yang merusak anak kami?" kata pak Dewa dengan wajah memerah karena amarah.


Pak Dewa langsung menarik baju Chico hendak menghajar.


"Dad!" teriak Christie seraya memegang tangan pak Dewa dan menggelengkan kepalanya.


"Jangan Dad!" pinta Christie dengan wajah memohon.


"Kenapa kamu melarang Daddy? Dia yang merusak kamu dan membuat kamu koma satu bulan lamanya. Apa yang dia katakan sampai kamu membelanya?" tanya pak Dewa dingin.


"Dad, biarkan dia bercerita terlebih dahulu. Sebenarnya apa yang terjadi, jujur Christie tidak mengingatnya sama sekali. Aku mohon, Dad!''


Chico pun menceritakan semua yang terjadi di hadapan Christie dan keluarganya. Bahkan Chico juga memperlihatkan rekaman cctv club sejak kedatangan Christie hingga diantar menggunakan mobil. Setelah itu, dia juga memperlihatkan rekaman cctv yang ada di mobilnya.


Bagaimana ulah Christie selama berada di dalam mobil membuat mereka yang menonton hanya menggelengkan kepala.


"Saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan yang saya lakukan pada Christie. Saya ingin menikahinya." ucap Chico saat suasana hening.


"Bekas minuman siapa yang kamu minum?" tanya pak Dewa sesaat setelah menonton semua rekaman cctv, tanpa memedulikan ucapan Chico.


"Ti-tidak tahu." jawab Christie lirih dengan kepala tertunduk.


"Sheila kamu tahu?"

__ADS_1


Sheila yang ketakutan tidak berani menjawab. Dia takut istri pamannya itu akan memberitahukan kedua orang tuanya. Walau bagaimanapun juga, dia yang membawa pengaruh buruk pada Christie. Pergaulan bebas yang dijalani sejak SMA membuatnya terbiasa dengan kehidupan malam di club.


"Jawab Sheila!" bentak Agatha seraya menarik lengan Sheila.


Sheila pun menggelengkan kepala karena saking takutnya tidak berani menjawab langsung.


"Sheila tidak tahu menahu soal itu, Mom. Itu salah Christie, minum asal tenggak tidak tanya terlebih dahulu." bela Christie, dia juga tidak ingin kedua orang tuanya semakin murka.


Sheila merasa tenang karena Christie membelanya. Namun hatinya belum bisa tenang jika orang tua Christie belum memaafkan.


"Baiklah, kalau begitu besok kamu bawa orang tua kamu ke sini. Jika kamu dan orang tua kamu tidak datang, jangan harap kamu bisa menemui Christie lagi!" kata pak Dewa akhirnya.


"Baik, Om. Saya janji, besok malam akan datang bersama kedua orang tua saya." janji Chico dengan yakin.


Chico pamit pulang setelah berjanji akan datang lagi bersama kedua orang tuanya. Sedangkan pak Dewa pun meninggalkan rumah itu, pulang ke apartemennya.


*


*


*


"Ibu nggak apa-apa kalau kami tinggal di sini sendiri?" tanya Rahma pada bu Sarifah.


Saat ini Rahma dan Frans akan meninggalkan kampung halaman. Sudah seminggu mereka pulang ke kampung halaman untuk menjenguk Tiara dan bayinya.


Bu Sarifah tidak mau lagi kembali ke ibu kota, dia ingin tetap tinggal di rumahnya saja. Rumah yang penuh dengan kenangan bersama anak perempuan satu-satunya.


"Ibu sudah terbiasa hidup sendiri. Apa kalian tidak ingat, dua tahun lebih Ibu tinggal di rumah ini sendiri. Ibu tetap sehat, bukan?" jawab bu Sarifah menyakinkan anak dan menantunya.


Dengan berat hati, akhirnya Rahma dan Frans meninggalkan Bu Sarifah di rumah sendiri. Rahma dan Frans harus kembali menimba ilmu dan bekerja. Jadi tidak bisa berlama-lama tinggal di kampung halaman mereka.

__ADS_1


"Kasihan Ibu ya, Kak? Padahal kalau tinggal bersama kita 'kan enak. Ada teman ngobrol, nggak kesepian." ucap Rahma dengan wajah sendu.


"Itu sudah menjadi keinginan Ibu, kita tidak boleh memaksa beliau untuk tinggal bersama kita. Kita hanya bisa mendo'akan agar Ibu sehat selalu." jawab Frans memberi pengertian pada istrinya.


__ADS_2