Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 108


__ADS_3

"Itu sudah menjadi keinginan Ibu, kita tidak boleh memaksa beliau untuk tinggal bersama kita. Kita hanya bisa mendo'akan agar Ibu sehat selalu." jawab Frans memberi pengertian pada istrinya.


Mereka tiba di rumah pagi hari karena mereka berangkat dari kampung halaman malam hari.


"Sayang, bangun! Sudah sampai." ucap Frans sambil mengusap-usap pipi Rahma.


Rahma tidur sangat pulas, hingga berulang kali Frans memanggil tetap tidak ada respon.


"Kamu kecapekan keknya, atau minta digendong?" monolog Frans.


Akhirnya Frans menggendong Rahma ala bridal style karena istrinya itu tidak kunjung bangun. Pintu mobilnya dia tutup menggunakan kaki sesaat setelah Rahma berada di dalam dekapan.


Frans meletakkan Rahma di atas ranjang di kamarnya. Setelah itu dia mengambil tas pakaian mereka yang masih tertinggal di mobil. Pagi ini pekerja mereka belum ada yang datang, kecuali penjaga malam. Penjaga malam itu akan meninggalkan rumah itu karena jam kerjanya sudah berakhir.


*


*


*


Chico telah membawa kedua orang tuanya ke rumah Agatha. Ternyata ayah Chico adalah relasi bisnis perusahaan Agatha. (Perusahaan telah dikembalikan pada Agatha setelah pak Dewa menceraikan Agatha).


Pak Dewa berulang kali mendatangi rumah Rahma, akan tetapi rumah itu kosong hanya pekerja saja yang tinggal.


Pagi ini pak Dewa kembali mendatangi rumah Rahma. Berharap bisa bertemu dengan anak dan istrinya. Saat sampai di halaman, tampak mobil Frans terparkir di garasi.


"Mereka akhirnya pulang juga, setiap hari bolak balik ke sini selalu kosong. Semoga mereka ada di dalam." monolog pak Dewa seraya keluar dari mobilnya.


Pak Dewa langsung masuk ke dalam karena memiliki kunci cadangan. Saat dia masuk, tampak olehnya seorang asisten rumah tangga yang dibayarnya sedang mengepel.


"Dimana Nyonya?" tanya pak Dewa pada pekerja itu.


"Maaf, Tuan. Sejak saya sampai satu jam yang lalu hingga sekarang, belum bertemu dengan nyonya dan nona, Tuan," jawab pekerja tersebut.


"Okelah kalau begitu! Aku cari sendiri di kamar." ujar pak Dewa akhirnya, dia melangkah menuju kamar bu Sarifah.

__ADS_1


"Sari!" panggil pak Dewa sambil membuka pintu kamar itu.


Tidak ada jawaban dari dalam, pak Dewa masuk ke kamar ternyata kosong. Beliau pun semakin masuk dan mencari hingga masuk ke kamar mandi.


"Kosong! Apa hanya Frans yang pulang ke sini?" gumam pak Dewa lirih.


Pak Dewa memberanikan diri untuk membuka lemari pakaian istrinya. Tinggal sedikit lagi pakaian yang ada di dalam lemari itu. Pak Dewa langsung keluar kamar, dia berjalan menuju kamar anak perempuannya.


"Rahma!" panggil pak Dewa sambil mengetuk pintu, tak ada sahutan. Pak Dewa pun memasuki kamar tersebut.


Tampak Rahma tidur pulas sambil memeluk guling. Wajahnya terlihat tenang dan cantik, penuh keibuan.


"Anak ayah sepertinya capek sekali," ujar pak Dewa sambil membetulkan letak selimut hingga sampai leher, kemudian pak Dewa keluar dari kamar itu.


Pak Dewa pun mengetuk pintu kamar menantunya, siapa tahu sang menantu masih terjaga.


Kebetulan Frans yang baru selesai mandi mendengar suara ketukan pintu. Dia pun menghampiri pintu dan membukanya.


"Oh, Ayah. Sudah lama Ayah datang?" sapa Frans begitu membuka pintu ternyata ayah mertua yang mengetuk.


"Ayah, duduk dulu. Frans mau ganti baju," ucap sang menantu pada mertuanya.


"Iya." jawab lelaki paruh baya itu sambil duduk di ranjang karena tidak ada sofa di kamar tersebut.


Tak lama kemudian Frans sudah kembali dengan pakaian santai.


"Apa kabar Ayah? Ayah mau bertemu Ibu?" tanya Frans membuka percakapan.


"Ayah baik. Ayah bermaksud menemui kalian semua. Ayah ingin mengundang kalian untuk datang di acara pertunangan Christie, kakak Dennis," terang pak Dewa.


"Ibu tidak mau pulang ke sini lagi, Yah. Memang acara tunangannya kapan?" ujar Frans sambil duduk di kursi.


"Acaranya nanti malam karena kebetulan orang tua kekasih Christie bisanya malam ini. Bagaimana? Bisa datang 'kalian berdua." jelas pak Dewa tampak kecewa karena tidak bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya.


"Kami usahakan datang, Ayah. Semoga Rahma tidak ada acara sehingga kami bisa datang menghadiri acara pertunangan Christie." Frans tidak berani memberikan janji karena Rahma belum memberi jawaban.

__ADS_1


"Ibu kenapa tidak mau kemari, ada masalah 'kah?" tanya ayah mertua Frans.


"Katanya sih, Ibu lebih nyaman tinggal di kampung dari pada di sini." jawab Frans terus terang.


"Mungkin karena Ibu sejak lahir tinggal di sana, jadi dia tidak nyaman di tempat baru." terka pak Dewa.


"Bisa jadi, Yah. Semenjak di sini, beliau jarang keluar rumah. Mungkin beliau merindukan suasana kampung." sahut Frans.


Pak Dewa melihat jam yang melingkar di tangannya. Beliau ada janji temu dengan teman, untuk mencari pekerjaan. Beliau berencana menanam saham sekaligus bekerja di tempat temannya itu.


"Ayah ada janji dengan teman satu jam lagi. Ayah pamit. Jangan lupa sampaikan pada Rahma untuk acara nanti malam!'' kata pak Dewa seraya berdiri dari duduknya.


Frans pun ikut berdiri dan mengantarkan ayah mertuanya hingga di halaman. Saat mereka sampai di ruang tamu, mereka berpapasan dengan Rahma yang baru saja masuk rumah. Rahma kebetulan keluar untuk belanja sayur pada pedagang sayur keliling.


"Ayah sudah lama di sini?" tanya Rahma sambil mendekati ayahnya dan mencium punggung tangan sang ayah.


"Sudah. Tadi lihat kamu masih tidur. Jadi Ayah ngobrol dengan suami kamu," jawab pak Dewa sambil mengacak rambut Rahma karena merindukan anaknya tersebut.


"Sekarang Ayah mau kemana? Kok buru-buru."


"Ayah ada janji dengan teman. Oh, ya. Nanti malam kamu datang ya ke hotel 'XY' jam delapan. Adikmu Christie tunangan." tutur pak Dewa dengan senyumannya.


"Nanti kami usahakan datang, Yah. Iya, 'kan Kak?" sahut Rahma dengan riang.


"Iya, lagian hari ini Kakak nggak kerja. Jadi hari ini Kakak akan menemani kamu seharian." ujar Frans.


" Baiklah kalau begitu, Ayah pergi dulu!" pamit pak Dewa meninggalkan ruang tamu menuju mobilnya yang terparkir di halaman.


"Bagaimana kalau kita sekarang beli baju buat acara nanti malam?'' tawar Frans pada wanita pujaan hatinya.


"Baju lama 'kan masih ada. Jangan terlalu boros, dikit-dikit beli!" jawab Rahma menasehati.


"Bukan boros, Sayang. Sejak kita menikah, Kakak belum pernah beliin baju buat kamu lho. Jadi sekarang saatnya Kakak beli apa saja yang kamu mau."


"Rahma mau masak buat makan siang, Kak. Lihat sudah belanja!" ujar Rahma seraya menunjukkan belanjaannya pada sang suami.

__ADS_1


"Itu bisa disimpan di kulkas dulu buat besok lagi. Sekarang kita makan siang di luar sambil belanja. Tak ada penolakan!" tegas Frans.


__ADS_2