Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 68


__ADS_3

Pak Dewa membaca semua dokumen yang terlampir pada laporan orang kepercayaannya. Di sana tertulis jika dia sudah menikah saat menikahi Agatha. Dia bahkan sudah memiliki seorang anak perempuan hasil pernikahannya dengan istri pertama.


Kepala pak Dewa mulai berdenyut karena terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya. Masa lalu yang tidak bisa diingat setelah kecelakaan dahsyat yang menimpa dirinya. Dia hanya mengingat saat sudah sehat, keluarga Agatha memintanya menikah lagi dengan Agatha secara siri. Dengan alasan karena tidak bisa mengingat saat pernikahan mereka.


Tanpa pak Dewa sadari itu hanya akal-akalan dari keluarga Agatha agar tidak malu. Dikarenakan Agatha saat itu hamil di luar nikah dan kebetulan menolong pak Dewa, keluarga Agatha ingin Dewa membalas budi dengan menikahi Agatha.


Berbagai cerita palsu dibuat oleh Agatha dan keluarganya, sehingga Dewa percaya saja ketika diminta untuk menikah secara siri. Tanpa Dewa sadari anak istrinya sedang menunggu kepulangan dia.


Pak Dewa pingsan setelah tidak bisa menahan sakit kepalanya. Tidak ada yang mengetahui kejadian itu karena pak Dewa mengunci ruangan, saat akan membuka amplop hasil laporan anak buahnya.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya pak Dewa tersadar dari pingsan. Pak Dewa perlahan menggerakkan badannya yang terasa sakit semua. Bagaimana tidak sakit saat tubuh kita terhempas bebas ke lantai dan kepala membentur meja.


Perlahan ingatan masa lalunya datang, kepala pak Dewa tapi tidak sesakit tadi sebelum pingsan. Kepala pak Dewa memar karena terbentur meja sebelum badannya mendarat di lantai.


"Sarifah! Rahma!" panggil pak Dewa.


"Jangan-jangan gadis bernama Rahma itu anakku." gumamnya sambil kembali membaca berkas yang tadi belum selesai dibaca.

__ADS_1


Setelah selesai membaca laporan dari orang suruhannya, pak Dewa menyimpan berkas itu di tempat yang aman.


"Pantas saja aku merasa mengenalnya. Bahkan dia memanggilku ayah saat pertama bertemu. Arya, Arya bodoh kamu!" monolog pak Dewa.


*


*


*


Oleh karena banyaknya desakan dari para mahasiswa, akhirnya Rahma untuk sementara waktu tidak diijinkan mengajar. Otomatis dia sudah tidak punya pekerjaan lagi.


Frans yang sudah kembali dari kampung halaman terkejut mengetahui demo yang terjadi di kampusnya. Dia pun segera menemui Rahma yang kebetulan ada kelas bersama Rio dan Vani.


"Sebaiknya kamu kembali kerja saja di rumah, membantu aku memperbaiki nilai. Aku ingin mengejar ketinggalan pelajaran, dengan adanya kamu yang membantuku pasti bisa mengejar ketinggalannya. Mau 'kan?" pinta Frans di depan Rahma, Rio dan Vani.


"Ambil aja, Ma! Dari pada jadi pengangguran, lagian kalau Lo minta tolong sama bapak pria paruh baya itu nanti makin parah gosipnya," saran Rio sambil menyenggol lengan Vani agar ikut membujuk Rahma.

__ADS_1


"Iya, lebih baik ambil aja tawaran dari Frans. Toh dulu kamu juga kerja di sana tidak ada gosip macam-macam. Mau nyari kerja dimana lagi, gak gampang lho cari kerja part time." Vani ikut membujuk Rahma setelah mendapat kode dari Rio.


"Kalau aku kembali ke rumah itu, Rio juga harus kembali. Aku tidak mau kalau cuma aku sendiri yang pulang ke rumah Frans," ucap Rahma memberikan syarat.


"Sorry, Gue sudah bayar kamar selama setahun. Sayang kalau ditinggalkan, duit Gue ilang begitu saja dong," sahut Rio mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kepala.


"Aku juga sudah bayar enam bulan, belum genap dua bulan ditempati. Bagaimana, hayoo?" jawab Rahma tak mau kalah.


"Duit Lo pasti diganti sama Frans. Berapa sih sebulan? Paling juga cuma tiga ratus ribu, kalau kamar kos Gue sebulan satu juta komplit. Kalau ditinggal siapa yang mau gantiin?" jelas Rio panjang lebar.


"Kenapa kalian malah promo kamar kos?" teriak Vani bingung mendengar perdebatan duo R, Rio dan Rahma.


Rio dan Rahma langsung terdiam mendengar teriakan Vani. Frans hanya menyimak saja, keduanya sama-sama kebanyakan alasan menurutnya.


"Sudah? Kalau belum Gue masih ada waktu sepuluh menit buat dengar perdebatan kalian berdua. Kalau waktu sepuluh menit gak cukup, Gue cabut," ucap Frans jengah melihat ulah absurd kedua sahabatnya.


Rahma dan Rio merasa malu karena terlalu asik berdebat di depan teman-temannya. Mereka berdua tidak sadar sudah menjadi tontonan.

__ADS_1


__ADS_2