
Sampai di kemudian hari, orang suruhannya melihat Dewa sedang makan siang bersama Rahma. Sejak saat itu, Agatha merasa dirinya bukanlah sesuatu yang berharga bagi Dewa. Apalagi setelah itu, Dewa lebih sering meninggalkan rumah besar.
Betapa hancur hati Agatha saat mengetahui, bahwa suaminya telah kembali pada istri pertamanya. Agatha tidak pernah menyangka jika amnesia yang diidap Dewa akan segera sembuh.
Agatha mencari kesenangan untuk menghibur dirinya sendiri. Agatha yang sudah mencintai Dewa begitu dalam harus kecewa dan patah hati karena kesalahannya sendiri.
Agatha sadar bahwa suatu hubungan yang berawal dari kebohongan, akan berakhir menyedihkan. Seperti saat ini, dia pura-pura angkuh dan kuat. Padahal dia sangat rapuh.
Kejadian demi kejadian menimpa dirinya, sehingga dia kuat menghadapi. Dia tidak akan menuntut banyak pada suaminya itu. Nama baik keluarga dan perusahaan telah diselamatkan oleh Dewa. Saat inilah, waktunya mengembalikan Dewa pada anak dan istrinya.
Agatha bertekad setelah Christie sembuh, dia akan melepaskan Dewa. Dia akan fokus mengurus anak dan perusahaan peninggalan orang tuanya.
*
*
*
Chico memberanikan diri menemui Sheila. Dia pernah datang ke rumah Sheila bersama Jojo saat masih satu grup band.
"Shei, tolong bantu Gue buat ketemu saudara Lo. Gue mau minta maaf sekalian ingin bertanggung jawab karena sudah merusaknya. Tolong Gue, Shei! Please!" pinta Chico mengiba.
"Lo kemana aja selama ini, hah? Lo tahu nggak sekarang sepupu Gue sekarat gara-gara Lo! Lo ngapain baru sekarang datang? Percuma! Christie sudah dibawa ke luar negeri sama nyokapnya. Puas Lo?" teriak Sheila penuh dengan amarah.
Chico tahu semua sudah terlambat, akan tetapi dia ingin menebus semua salah dan dosanya.
"Dia dirawat dimana, Shei? Biar Gue ke sana bersama keluarga Gue, Shei. Tolong Gue, Shei!" ucap Chico sambil berlutut di depan Sheila.
"Gue cuma tahu dari adiknya, kalau Christie dibawa ke Singapura. Di rumah sakit mana Gue nggak tahu, mereka menutup rapat informasi tentang Christie. Lo jumpai saja adiknya di SMA Persada, nanti Gue kirim fotonya!" jawab Sheila panjang dan lebar.
"Lo sekarang pulang aja, gih! Gue ada kuliah sejam lagi." usir Sheila kemudian.
Chico pun meninggalkan rumah Sheila dengan perasaan penuh sesal.
"Seandainya Gue nggak emosi saat tahu dia mengincar Frans, Gue gak bakalan jadi pengecut dan semua ini tidak akan terjadi."
Tanpa Chico sadari, bahwa semua yang terjadi pada setiap insan manusia adalah suratan takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan. Apa yang terjadi tidak bisa disesali dan diandaikan.
*
*
*
__ADS_1
Pak Dewa menghubungi pengacaranya, pengacara yang mengurus hal-hal pribadinya bukan perusahaan. Dia ingin mengajukan gugatan cerai pada Agatha. Akan tetapi dikarenakan data yang masuk ke KUA adalah palsu, pak Dewa harus konsultasi terlebih dahulu dengan pengacara.
Pak Dewa juga memisahkan harta perusahaan dengan gaji dan bonus yang seharusnya diterima selama mengurus perusahaan itu. Dia tidak ingin ada salah paham atau masalah di belakang nantinya.
Setelah Agatha dan Christie pulang dari Singapura, pak Dewa akan menceraikan Agatha. Dengan hak asuh Dennis bersama dirinya. Sedangkan Christie bukan anak kandungnya, sehingga dia tidak akan membawa Christie bersamanya.
*
*
*
"Ibu kenapa? Sejak tadi Rahma perhatiin, Ibu melamun terus," tanya Rahma sambil merangkul pundak bu Sarifah.
Bu Sarifah hanya menggeleng, dia tidak ingin anaknya ikut memikirkan apa yang menjadi ganjalan hatinya.
"Ibu baik-baik saja, tidak ada apa-apa. Tidak usah terlalu dipikirkan. Ibu hanya merindukan kampung halaman. Sudah lama meninggalkan rumah." jawab bu Sarifah dengan senyum yang dipaksakan.
"Bohong."
"Sejak kapan Ibu pandai berbohong, hmm?"
"Sejak tadi!" sahut Rahma cemberut.
"Rahma manja 'kan cuma sama Ibu. Masak nggak boleh sih?" rajuk Rahma.
"Boleh, siapa yang bilang tidak boleh. Ibu malah senang, anaknya masih membutuhkan Ibu. Suami kamu juga senang jika kamu bermanja padanya," tutur bu Sarifah.
"Emang iya?"
"He'eh!" Bu Sarifah mengangguk sambil tersenyum.
"Coba saja kamu bermanja-manja padanya, dia pasti gemes banget. Makin cinta pastinya!"
"Ihh, Ibu ada-ada saja!"
Mereka bercengkrama, bercerita tentang apa saja. Tampak kedekatan dan kebahagiaan mereka. Dennis yang awalnya hendak bertandang mengurungkan niatnya, melihat kedekatan Rahma dan ibunya membuatnya iri. Dia juga ingin dekat dengan mommy dan daddy-nya, akan tetapi itu hanya mimpi. Dennis pun mengurungkan niatnya, dia berbalik dan pergi.
*
*
*
__ADS_1
"Abang, sakit sekali perut Tiara!" teriak Tiara pada suaminya.
Siang ini kebetulan Dolly pulang untuk makan siang. Akan tetapi ketika akan kembali ke kantor, Tiara tidak mau ditinggal. Dia ingin tidur siang dipeluk suaminya.l
Tiara terbangun karena perutnya tiba-tiba sakit. Kram dan tegang. Rasa mulas yang sangat membuat Tiara terkejut dan terbangun.
"Shh... Abang!" teriak Tiara lagi masih dengan posisi semula. Duduk bersandar di headboard ranjang.
Dolly yang sedang di kamar mandi pun terburu-buru keluar. Teriakan Tiara lain dari biasanya, dia takut jika tiba-tiba Tiara akan melahirkan.
"Abang, sakiitttt!" jerit Tiara lagi begitu Dolly keluar dari kamar mandi.
Dolly masih menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia mendekati Tiara bermaksud menenangkan.
"Abang, sepertinya Tiara mau melahirkan. Huh.. huh..."
"Iya, Sayang. Sabar! Abang pakai celana dulu, ya?" ucap Dolly santai sambil berjalan masuk ke ruang ganti.
Setelah selesai memakai celananya dan mengganti pakaiannya, Dolly menggandeng tangan Tiara.
"Ayo, masih bisa jalan 'kan?" tanya Dolly, dia pun mengambil tas yang berisi pakaian bayi. Tas itu sengaja disiapkan jauh hari agar mudah jika Tiara kontraksi.
"Pelan-pelan, Bang!" seru Tiara ketika Dolly mempercepat langkahnya.
"Bi! Bibi!" teriak Dolly begitu mereka sudah keluar dari kamar, sedang menuruni tangga.
Asisten rumah tangga yang dipanggil Dolly pun segera berlari menemui majikannya.
"Iya, saya Tuan!"
"Kamu bawakan tas ini ke mobil. Tiara mau melahirkan," kata Dolly seraya menyerahkan tas berisi keperluan lahiran.
Setelah tas sudah berpindah tangan, Dolly langsung mengangkat istrinya. Dia berjalan cepat menuju mobilnya.
Mama Ratna saat ini tidak ada di rumah karena menjemput Cecilia sekolah. Jadi hanya tinggal mereka berdua dan beberapa pekerja. Berarti Dolly harus menemani istrinya sendiri.
Dolly berusaha menghadapi persalinan istrinya dengan tenang. Dia tidak mau menunjukkan rasa panik di hadapan istrinya.
Tiara terus merintih kesakitan di dalam mobil. Sopir keluarga yang membawa mereka ke rumah sakit pun merasa kasihan mendengar rintihan sang majikan.
"Shh, sakit!" rintih Tiara sambil mere mas lengan Dolly.
"Iya, sabar ya! Sebentar lagi sampai." jawab Dolly lembut.
__ADS_1