Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 80


__ADS_3

Sejak pagi rumah yang ditempati oleh Rahma dan ibunya, sudah disibukkan dengan persiapan pernikahan Rahma dan Frans.


Rahma berulang kali menolak untuk memakai kebaya yang kemarin dicobanya. Rahma tiba-tiba berubah pikiran, padahal tadi malam dia mengatakan sudah siap untuk menikah. Akan tetapi pagi ini, Rahma mengatakan tidak ingin menikah dengan Frans.


"Banyak kok gadis yang nggak perawan lagi, menikah dengan laki-laki yang tidak mengambil perawannya. Sekarang jaman modern, Bu. Virgin bukan menjadi penghalang untuk bahagia." protes Rahma ketika bu Sarifah memintanya segera memakai baju kebaya pengantin.


"Belum tentu orang itu akan menerima dengan lapang dada, Rahma. Bisa saja di depanmu baik, di belakangmu dia akan menyebarkan aib kamu nantinya. Maka, lebih baik menikah dengan orang yang mendapatkan perawan kita daripada menikah dengan laki-laki lain." sanggah bu Sarifah dia menjelaskan mana yang lebih baik untuk dipilih oleh Rahma.


"Rahma tidak mencintai dia, Bu. Rahma benci!" jawab Rahma emosi dengan air mata sudah menetes di pipinya.


Bu Sarifah langsung memeluk anaknya yang tiba-tiba menangis. Dia merasa trenyuh dengan keadaan anak satu-satunya itu. Susah sekali membujuknya.


Akhirnya bu Sarifah menghubungi psikiater yang menangani Rahma, untuk membantu membujuk Rahma. Padahal sesuai janji, psikiater itu akan datang setelah acara pernikahan selesai. Akan tetapi karena sudah dihubungi bu Sarifah, dia akhirnya datang sebelum acara pernikahan berlangsung.


Setelah psikiater datang, Rahma pun mau memakai baju kebaya yang telah disiapkan. Kemudian dirias oleh salah satu salon perias pengantin yang terkenal di ibu kota. Walaupun kelasnya bukan artis, akan tetapi hasilnya tidak jauh beda dengan MUA.


Saat yang ditunggu telah tiba, Rahma diminta untuk duduk di sebelah Frans karena semua telah siap berada di tempatnya masing-masing. Acara akan segera dilangsungkan, hanya menunggu kehadiran Rahma yang sejak tadi belum bisa dibujuk.

__ADS_1


Badan Rahma gemetaran dan bulir keringat seukuran biji jagung pun menghiasi wajahnya. Rasa trauma dekat dengan Frans kembali menderanya. Melihat hal itu, bu Sarifah mendekati Rahma yang duduk di samping Frans. Bu Sarifah memegang jemari Rahma kemudian mengelusnya untuk menenangkan.


"Semua akan baik-baik saja!" bisik bu Sarifah di dekat telinga Rahma. Rahma menganggukkan kepalanya menjawab bisikan sang ibu.


Acara akad nikah berlangsung lancar karena dengan sekali tarik nafas, Frans mengucapkan janji suci tersebut. Kini giliran Rahma untuk mencium punggung tangan Frans. Rahma tidak segera melakukan karena badannya gemetar hebat.


Bu Sarifah mengusap punggung Rahma pelan untuk mengurangi getaran di tubuh Rahma.


"Kamu pasti bisa! Sekarang cium punggung tangan suamimu sebagai tanda bakti seorang istri pada suaminya. Dia pasti akan membahagiakan kamu. Percaya sama Ibu!" bu Sarifah kembali berbisik sambil mengusap punggung Rahma tiada henti.


Hati Rahma pun luluh setiap mendengar bisikan dari ibunya. Usapan tangan sang ibu juga memberikan ketenangan. Rahma akhirnya meraih tangan Frans dengan gemetar lalu mencium punggung tangan Frans. Frans dengan sigap langsung mencium kening Rahma dengan ciuman yang dalam dan penuh cinta.


"Pergi! Keluar kamu dari kamarku!" teriak Rahma pada Frans.


"Rahma.."


"Pergiiiii!" teriak Rahma sambil melempari Frans dengan kosmetik yang ada di meja riasnya.

__ADS_1


Frans tetap berdiri memaku di tempatnya, hatinya berdenyut sakit melihat keadaan Rahma yang tidak kunjung pulih seperti semula.


Setiap kali melihat Frans masuk ke kamarnya, Rahma akan mengusir Frans. Jika dengan kata-kata Frans masih bertahan, Rahma akan melemparkan apa saja yang di dekatnya ke arah Frans. Alhasil, kamar itu menjadi berantakan seperti baru saja terkena ledakan boom.


Bu Sarifah serta orang tua yang berada di ruang tamu, mendengar teriakan Rahma pun berlari menghampiri.


"Rahma! Hentikan, Rahma. Ingat dia suamimu!" teriak bu Sarifah mengingatkan.


Rahma histeris setiap hanya berdua dengan Frans. Bahkan saat ini, semua orang berkumpul di kamarnya pun tidak juga meredam ketakutannya.


Tiara yang melihat itu langsung mendekap Rahma dalam pelukannya. Dia mengisyaratkan pada Frans agar keluar dari kamar itu.


Frans yang menangkap isyarat dari Tiara pun dengan langkah gontai meninggalkan kamar Rahma. Langkah Frans pun diikuti oleh kedua orang tuanya.


"Sabar, Frans! Begitulah seorang wanita, dia ibarat kaca. Bisa memaafkan tapi tidak bisa melupakan bila kita sakiti. Seperti halnya kaca yang pecah, dia bisa disatukan lagi. Akan tetapi tidak bisa kembali utuh seperti sedia kala. Kamu sudah menyakiti mentalnya, sehingga susah bagi Rahma untuk melupakan kejadian malam itu." nasehat pak Edward pada anaknya.


"Beda halnya dengan Dolly dan Tiara, mereka melakukan itu karena suka sama suka, bukan karena paksaan seperti yang kamu lakukan pada Rahma," lanjutnya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2