Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 55


__ADS_3

"Abang pokonya nggak boleh pergi kemana-mana. Tiara nggak kasih!" teriak Tiara dengan mata berembun.


"Makanya kita nikah, Abang laki-laki normal Tiara. Sampai kapan Abang bisa menahannya? Arrgghh!'' bujuk Dolly menahan emosinya, dia berulang kali meraup wajahnya dengan kasar.


"Lebih baik kita pulang saja! Dari pada kita seperti ini terus, lebih baik kita pulang dan introspeksi diri," ucap Dolly lagi setelah emosinya bisa dikendalikan.


Tiara sejak tadi diam saja memikirkan permintaan Dolly untuk segera menikah. Tiara belum siap hidup terkekang. Saat ini saja Dolly sudah posesif apalagi nanti jika sudah menikah, pasti akan banyak larangan untuknya.


"Iya, Bang. Kita pulang saja, capek berantem terus," jawab Tiara sambil berjalan menuju ke mobil diikuti Dolly di belakang.


*


*


*


Frans mengamuk di rumahnya, setiap orang yang terlihat di depannya pasti kena marah.


"Lo kenapa? Salah makan apa kesambet?" tanya Rio yang melihat Frans tiba-tiba mengamuk tanpa sebab.


"Nggak usah muna Lo!" sahut Frans sambil menarik kerah baju Rio.

__ADS_1


"Lo kenapa? Marah-marah nggak jelas." tanya Rio santai tidak terpancing oleh kemarahan Frans.


"Dasar teman makan teman! Cuiihh, nyesel Gue tampung Lo di sini." kata Frans masih dengan emosi yang tinggi.


"Gue di sini juga terpaksa, tahu nggak sih Lo. Gue kasihan aja sama Rahma makanya Gue tinggal di sini. Tinggal satu atap sama cowok cemen kek Lo. Cowok kok mau disetir cewek, mana ceweknya bukan cewek baik-baik lagi. Hadeehh!" jawab Rio mengejek Frans.


"Heh, maksud Lo apa?" balas Frans.


"Maksud Gue apa? Sekarang Lo tanya ke diri Lo sendiri, apa kedudukan Sheila di hati Lo! Cewek kek diakah yang Lo inginkan?" sahut Rio tak kalah sengit.


Setelah meluapkan emosinya, Rio langsung berlari menuju kamar. Dia mulai mengemasi barang-barangnya yang tidak seberapa karena hanya buku dan pakaian. Rio memang sengaja tidak mengisi kamar dengan pernak-pernik agar suatu saat ada kejadian yang mengharuskan dia pergi.


"Kak Rio mau kemana?" tanya Rahma heran.


"Gue mau pindah cari kos-kosan yang lebih dekat dengan kampus. Lo baik-baik di sini, semoga Lo betah tinggal di rumah ini! Gue pergi, jaga diri, jangan terlalu memaksakan diri jika Lo sudah tidak tahan lagi di sini," terang Rio, sebenar dia tidak tega meninggalkan Rahma tinggal bersama Frans.


Rio tahu bagaimana Frans jika dalam keadaan emosi yang tinggi. Frans selalu gegabah dalam mengambil keputusan jika amarah menguasainya.


"Kamu jangan pergi, nanti kalau pergi siapa temenku di sini?" ucap Rahma sambil menarik tangan Rio.


"Masih ada mbok Darmi sama pak Sukri di sini. Lo gak sendiri, lagian kita masih bisa bertemu di kampus." jawab Rio lembut.

__ADS_1


"Oh, ya. Sebaiknya kamu ambil tawaran para dosen itu. Itu lebih baik dari pada kamu kerja di sini walaupun gajinya tidak seberapa," imbuh Rio menasehati.


"Iya, Kak. Rahma akan pikirkan lagi nanti," jawab Rahma sambil menganggukkan kepalanya.


Frans yang melihat hal itu hanya berdecih, tatapan benci dan cemburu terlihat jelas di matanya.


"Besar juga nyalinya! Seenaknya saja mempengaruhi Rahma agar meninggalkan Gue. Dia pikir dia siapa? Cuiihh!"


Rio pun meninggalkan rumah itu dengan membawa barang-barangnya yang tidak banyak. Rio sadar diri, dia dan Frans hanya sebatas teman bukan saudara. Sejak awal dia ingin kos saja, tapi Frans selalu membujuk agar mau tinggal bersama.


Hal yang paling ditakutkan Rio pun terjadi. Jika suatu saat bentrok tidak seia sekata lagi pasti akan terjadi seperti ini. Tanpa Rio tahu apa penyebabnya dia harus bermusuhan dengan sahabat dekatnya.


"Kakak kenapa? Marah-marah tidak jelas. Malu dong sama status mahasiswanya." cerca Rahma.


"Bukan urusanmu!" jawab Frans sambil meninggalkan tempat itu.


Rahma pun ikut meninggalkan ruangan itu kemudian. Rahma menyelesaikan semua pekerjaannya kemudian masuk ke kamar.


"Arrgghh!" Frans mengamuk di kamarnya, semua barang yang ada di meja belajar, bahkan sprei pun ditariknya hingga terlepas.


"Dasar penghiannaaaaaaaaaaaaat!!!"

__ADS_1


__ADS_2