
Rio tersenyum miris melihat bayangan dirinya di cermin. Usianya sudah dua puluh tujuh tahun, akan tetapi dia masih belum berumah tangga. Semua teman dekatnya sudah menggendong anak, sedangkan dirinya jangankan memiliki istri apalagi anak. Punya pacar saja tidak.
Sang bunda sudah sering memintanya untuk segera menikah, bahkan beliau juga mengenalkan Rio dengan beberapa anak temannya. Akan tetapi tidak satupun dari mereka yang bisa meluluhkan hati Rio. Seolah hati Rio terbuat dari gunung batu.
"Seandainya saja, dulu aku berani mengungkapkan isi hatiku. Mungkin saat ini kita sudah bahagia bersama. Namun, aku bahagia cukup melihat engkau bahagia. Semoga engkau selalu bahagia bersamanya."
Getir senyum yang terukir di bibir Rio. Dia sangat tersiksa dengan cinta dalam diamnya. Setiap hari dia hanya bisa memastikan wanita yang sangat dicintainya dalam keadaan bahagia.
*
*
*
"Ara, sini gendong Uncle!" ucap Rio sembari mengulurkan tangan pada gadis cilik berusia tujuh bulan.
Ara adalah adik twins, anak teman dekat Rio. Ara lahir saat twins berusia lima tahun.
Gadis cilik itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ayah, Frans.
"Hehehe! Malu dia, Yo. Nanti pasti mau, Lo 'kan tahu sendiri bagaimana anak ini," ujar Frans saat melihat wajah kecewa temannya.
"Padahal aku sudah kangen banget sama nih bocah!" sahut Rio cemberut.
"Makanya, cepetan nikah terus punya anak banyak biar gak kesepian!" celetuk Rahma yang berjalan menghampiri mereka, sambil membawa nampan berisi air sirup dan cemilan.
"Ngomong mah gampang!"
"Aku nggak asal ngomong. Udah ada buktinya noh!"
"Percaya!" ujar Rio dongkol.
__ADS_1
"Hahaha!" Frans tergelak melihat istri dan temannya berdebat. Sudah pasti istrinya 'lah yang keluar sebagai pemenang.
Tak lama kemudian Vani datang membawa dua orang anaknya.
"Hai, kalian sudah lama ya? Maaf..." sapa Vani berpura-pura sedih karena terlambat datang.
"Nggak usah pasang wajah melas kalau cuma sandiwara!" cibir Rahma yang dapat melihat dengan jelas drama yang dimainkan Vani.
"Yaa, ketahuan! Padahal Gue 'kan pengen dapat piala Oscar juga."
"Hilih, lebay!" Gantian Rio yang mencibir Vani seraya melemparkan kacang ke Vani.
"Dih!"
"Kalian berdua kalau bertemu nggak pernah nggak berantem. Udeh kalau begitu, kita berantem aja, yuk!" kata Rahma yang ujungnya mengadu domba mereka.
"Hah?" ucap Rio dan Vani kompak.
"Kalian berdua memang kompak ya? Semua selalu bersamaan!" ledek Rahma.
Saat Rahma meledek kedua temannya baby Ara menangis karena mengantuk.
"Sayang, sepertinya baby Ara mengantuk. Sejak tadi menguap terus!'' ucap Frans seraya mencoba menenangkan baby Ara, akan tetapi hasilnya nihil.
Akhirnya Rahma mengambil baby Ara dari gendongan sang suami.
"Sorry, ya! Aku tinggal sebentar." pamit Rahma sembari meninggalkan ruangan itu.
"Santai aja!"
Frans, Rio dan Vani bercengkrama saat Rahma menidurkan baby Ara di kamarnya. Sedangkan twins bermain dengan kedua anak Vani.
__ADS_1
*
*
*
Rio pulang saat malam sudah menyapa. Laki-laki yang berpawakan tinggi tegap itu terlihat banyak pikiran. Baru saja sang bunda menghubungi dirinya, menanyakan kapan menikah. Ingin rasanya dia berteriak agar tidak ikut campur masalah pribadinya. Akan tetapi dia tidak mungkin melawan bunda.
"Hhh... Sampai kapan Gue kek gini? Apa sebaiknya Gue pulang dan tinggal bersama bunda?" monolog Rio.
Semenjak kuliah, Rio jarang menjenguk ibunya di kota kelahirannya. Apalagi semenjak bekerja dia semakin tidak memiliki waktu untuk mengunjungi sang bunda.
"Kalau Gue resign, apakah Frans tidak marah? Huh... kenapa Gue harus memikirkan Frans? Seharusnya Gue lebih memikirkan perasaan bunda bukan perasaan Frans. Dia 'kan masih memiliki anggota yang bisa dipercaya."
Rio memantapkan hatinya untuk resign dan kembali ke kota kelahirannya. Dia memilih menemani ibunya di masa tua. Walau bagaimanapun juga sebagai seorang anak, dia ingin berbakti pada orang tua.
Keesokan harinya...
"Beneran nih, Lo mau resign? Nggak gampang Lo cari kerjaan!" tanya Frans ketika Rio mengatakan ingin resign.
"Gue sudah mantap, Bro! Kasihan bunda sendiri di sana. Beliau tidak mau diajak ke sini. Jadi lebih baik Gue yang pulang. Rejeki tidak akan pernah tertukar." jawab Rio mantap.
"Okelah kalau begitu! Semoga Lo sukses di kota kelahiran kita." ucap Frans akhirnya.
Dia bisa memahami posisi Rio saat ini, sehingga dia mengabulkan permohonan resign Rio.
Rio akhirnya pamit pada seluruh karyawan yang dikenalnya di perusahaan tersebut. Tidak lupa ia juga pamitan pada Rahma dan Vani.
END
***
__ADS_1
Cerita beneran sudah habis. Silahkan mampir ke karyaku yang lain. Klik profilku untuk membaca karyaku yang lain🙏