Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 59


__ADS_3

"Anda memanggil saya?" ucap Rahma formal begitu sampai di depan pintu kamar Frans.


Pintu kamar Frans masih terbuka lebar saat Rahma sampai.


Frans hanya mengerutkan keningnya mendengar kata-kata formal keluar dari mulut Rahma.


"Kamu dari mana?" tanya Frans sambil tangannya mengisyaratkan agar Rahma duduk di depannya.


Rahma pun duduk di sofa yang ada di kamar Frans.


"Saya baru pulang dari mengajar. Saya sudah sebulan menjadi asisten dosen."


"Kemungkinan Minggu depan saya akan pindah dari sini. Saya berpikir bahwa saya sudah tidak dibutuhkan lagi di sini," Rahma menjelaskan kemana saja dia tidak pernah ada di rumah jika siang hari.


"Pindah? Kenapa? Gaji yang Kamu terima kurang besar?" tanya Frans sambil menautkan kedua alisnya.


Rahma menghirup oksigen sebanyak mungkin, sebelum menjawab pertanyaan dari teman sekaligus majikannya itu.


"Bukan karena gaji, akan tetapi sebuah kenyamanan. Di rumah ini sudah tidak seperti dulu lagi, banyak yang berubah sejak Anda memutuskan untuk bermain band. Meninggalkan orang-orang yang menemani Anda agar tetap berada di jalan lurus, demi sebuah hubungan yang membuat Anda menjadi tenar."


"Ketenaran hanya sebuah fatamorgana dunia, dia tak pernah kekal. Tidak akan memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. Akan tetapi jika Anda tetap di jalan yang semestinya, di jalan kebaikan Anda akan selamanya menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Semua itu terserah Anda. Anda sudah memutuskan untuk mengejar ketenaran. Jadi kami pun memilih mundur. Silakan Anda mengejar ketenaran dalam gelapnya dunia!"

__ADS_1


"Walaupun nantinya saya hanya tinggal di sebuah kos-kosan, itu lebih baik daripada saya menumpang hidup di sini. Toh anda sudah tidak membutuhkan saya lagi."


Rahma berkata panjang kali lebar ditambah tinggi, mengeluarkan semua yang ada dalam benaknya. Sedangkan Frans hanya diam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Rahma.


"Saya mohon maaf jika selama bekerja di sini sering membuat kesalahan dan tidak berkenan di hati Anda." Rahma menutup penjelasannya dengan permintaan maaf pada Frans.


Frans diam tak bergeming sama sekali, dia benar-benar merasa syok dengan kata-kata Rahma yang menohok. Sudut hatinya merasa tercubit.


"Semoga anda bukanlah termasuk orang yang meninggalkan teman yang mengajak kebaikan demi orang baru yang dikenal tapi mengajak ke jalan sesat," ucap Rahma sebelum akhirnya meninggalkan kamar Frans.


Rahma berlari ke kamarnya dengan air mata yang siap meluncur ke pipinya. Air mata Rahma menetes dengan derasnya. Rahma merasa tidak rela jika rusak di tangan teman barunya. Hanya saja Rahma bisa apa jika Frans lebih memilih itu.


Sementara itu di kamarnya, Frans pun tidak bisa berkata apa-apa. Dia terus memikirkan kata-kata Rahma.


"Arghh, persetan dengan itu semua. Dia yang berkhianat kenapa memberi ceramah seolah-olah dia yang paling baik. Huh!"


Frans masih merasa dikhianati oleh Rio dan Rahma tanpa meminta penjelasan pada kedua temannya itu. Apa yang didengarnya dari Sheila langsung masuk ke otaknya tanpa disaring benar tidaknya.


"Gue dengar sendiri, kalau mereka pacaran. Lagian mereka tuh kemana-mana selalu berdua, apa namanya kalau bukan pacaran? Lo aja yang bodoh masih mencintai cewek ke gitu."


"Kalau Lo nggak percaya sewa orang buat buntuti mereka agar Lo tahu apa yang mereka lakukan di belakang Lo!"

__ADS_1


Sheila selalu memanasi Frans sejak tahu Frans menaruh hati pada Rahma. Dia tidak suka jika orang lain mendapatkan Frans. Sejak pertama kenal saat pembukaan ekstrakurikuler di kampus mereka. Frans yang cuek dan tidak mudah didekati akhirnya bisa satu band dengannya.


Sheila melakukan banyak usaha agar bisa bergabung dengan band yang Frans bentuk. Band yang awal mulanya beranggotakan empat cowok itu tidak memiliki vokalis. Akhirnya dipilihlah Sheila sebagai vokalis setelah dilakukan tes.


Rio yang awalnya bergabung mengundurkan diri setelah satu bulan Sheila bergabung. Sheila terlalu mengatur personil lainnya, Rio tidak suka jika ada yang sok dalam kelompoknya. Akan tetapi Frans tetap mempertahankan Sheila sehingga Rio dan Ferry memilih mundur.


Sejak Rio dan Ferry hengkang, tingkah Sheila makin menjadi. Secara tidak langsung mempengaruhi kepribadian para personil grup band yang dibuat oleh Frans. Sheila yang sering Clubbing pun setiap malam mengajak para personil band pergi ke sana.


*


*


*


Frans pulang kuliah langsung pulang, tidak seperti biasanya nongkrong bersama teman band-nya. Frans ke kampus mengendarai motornya. Saat di tengah perjalanan hujan deras mengguyur ibu kota. Frans pun kehujanan karena tidak membawa jas hujan. Hingga sampai rumahnya hujan tidak kunjung reda.


"Tuan, kenapa Tuan Muda mandi hujan? Kalau sakit bagaimana?" teriak mbok Darmi sambil berlari mencari handuk tuannya.


Mbok Darmi langsung menyerahkan handuk pada Frans. Frans menerimanya dengan mulut terkatup. Diam seribu bahasa.


Rahma yang kebetulan berada di rumah, langsung keluar dari kamarnya. Melihat air yang berceceran di lantai, Rahma dengan sigap mengambil kain pel dan mengelapnya.

__ADS_1


"Non, buat minuman anget buat Tuan Muda ya?" ucap mbok Darmi.


__ADS_2