
Ternyata pertolongan dari Allah itu sungguh tak terkira, jika kita terus berusaha dan berdo'a Allah pasti akan mengabulkannya. Jika kita meminta 10, rencana Allah 1 juta sangat jauh dari yang kita bayangkan. Aku tidak menyangka, pertolongan dari Allah melalui perantara Pak Ardi begitu cepat. Aku sangat bersyukur kepada Allah atas segala pertolongan dan nikmat yang sungguh luar biasa ini. Aku sendiri sudah berbohong pada Pak Jamal tentang biaya operasi nya Ibu.
"Jadi Bapak yang sudah memborong semua kerajinan nya Ilyas ?" Tanya Pak Jamal pada Pak Ardi, aku benar-benar merasa bersalah sudah berbohong kepada beliau. Akhirnya akan ketahuan kalau aku berbohong
"Benar Pak, saya orang yang sudah memborong semua kerajinannya Ilyas"
"Terima kasih banyak Pak, kalau gak ada Bapak saya tidak tau bagaimana dengan kondisi istriku"
"Sama-sama Pak, ini semua atas pertolongan dari Allah, saya cuma perantara nya saja"
"Iya benar Pak, tapi tetap saja karna Bapak.
"Sama-sama Pak"
"Semua ini berkat kamu juga nak, terima kasih banyak berkat kerajinan-kerajinan kamu, Ibu jadi tertolong dan akan segera di operasi"
"Tapi Pak sebenarnya....." ucapan ku di potong oleh Pak Ardi
"Iya Ilyas ini hebat banget Pak, walaupun masih kecil tapi sudah mandiri dan bisa membantu orang tua"
"Iya nak Ilyas ini memang pekerja keras Pak, dari kecil sampai sekarang dia sendiri yang membiayai sekolah nya. Dia kerja apa saja, kadang bekerja jualan koran, membantu di pasar bahkan kerja jadi kuli. Aku sangat bangga padanya, selain itu Ilyas juga orangnya pintar selalu juara pertama terus di sekolahnya kemarin juga dia jadi juara lomba matematika tingkat provinsi" Pak Jamal terus memuji ku
"Oh iya-iya, aku pernah lihat di TV dan baca di koran. Oh jadi dek Ilyas ini yang juara matematika itu ya ? wah hebat, Bapak tidak menyangka akan bertemu dengan orang nya langsung"
"Saya biasa aja ko Pak, saya masih belajar" ucapku malu, aku sebenarnya tidak suka jika terus di puji
Aku takut nantinya akan jadi orang yang sombong, jika seseorang terus di angkat derajatnya semakin tinggi, maka rasa percaya diri nya akan semakin tinggi dan orang itu akan jadi orang sombong. Aku tidak mau seperti itu, siapakah aku yang cuma manusia biasa, tak pantas untuk menyombongkan diri hanya Allah yang pantas untuk sombong sebagai pemilik seluruh semesta alam ini.
"Kamu ini dek memang rendah hati, sekarang Ibu akan segera di operasi mudah-mudahan operasinya lancar"
"Aamiin, kita kembali ke tempat yang tadi Pak !" ucapku dan mengajak mereka untuk kembali ke depan ruangannya Ibu
"Iya ayo !"
Kita kembali ke ruangan, aku ingin berbicara pada Pak Jamal tentang kebohongan yang aku perbuat. Aku juga harus berkata jujur pada Pak Ardi, aku merasa gak tenang jika berbohong seperti ini.
"Pak, Dek Ilyas, sepertinya saya harus kembali ada pekerjaan yang harus saya kerjakan !"
"Iya Pak, sekali lagi terima kasih banyak atas pertolongan Bapak" ucap Pak Jamal sambil bersalaman dengan Pak Ardi
__ADS_1
"Sama-sama Pak"
"Terima kasih Pak, kalau gak ada Bapak aku gak tau gimana" ucapku sambil bersalaman dan merunduk
"Sama-sama dek, oh ya ini kartu nama Bapak kalau ada apa-apa hubungi Bapak aja dan ini alamat kantor Bapak !" sambil memberikan kartu nama padaku
"Iya Pak terima kasih nanti saya hubungi"
"Kalau begitu saya permisi dulu, assalamu'alaikum !"
"Wa'alaikumsalam !" sahut kami
Pak Ardi pun pergi, aku dan Pak Jamal duduk hingga kemudian ada suster yang datang.
"Dengan keluarganya Bu Nana !"
"Benar sus"
"Mari ikut saya Pak !"
"Iya sus, sebentar ya nak !"
Aku berdiri dan melihat di kaca pintu kondisi Ibu yang terbaring, semoga operasinya lancar dan Ibu kembali sehat. Bu Nana sangat baik, sangat amat baik. Aku membayangkan saat sedang bersana Bu Nana, dia sangat perhatian sekali padaku, dia begitu tulus dan menyayangiku. Aku menemukan kasih sayang seorang Ibu dari Bu Nana ini yang tidak aku dapatkan dari Ibu kandungku sendiri. Ya Allah sembuhkan Bu Nana, angkat penyakitnya berikan kelancaran dalam operasinya. Aku sangat menyayanginya, aku gak mau kehilangannya. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak ku dari belakang, saat aku lihat ternyata teman-teman ku.
"Yas, kami benar-benar minta maaf sama kamu, ternyata dugaan kami salah, kami telah salah paham sama kamu" ucap Adin
"Iya Yas, seharunya aku sudah tau karna aku sudah mengenalmu dari waktu SD" sahut Tomi
"Gak apa-apa ko, maafin aku ya bukan bermaksud untuk menyuruh kalian berhenti" jawab ku
"Iya gak apa-apa, kami sudah tau semuanya dari Arya, dia mengatakan semuanya aku merasa sangat bersalah saat Arya mengatakannya" jawab Dimas
"Iya Yas, kenapa kamu gak bilang aja yang sebenarnya ? Kita ikhlas Yas membantu kamu, gak perlu di bayar juga gak apa-apa, kamu jangan memikirkan itu. Bagi kami bisa membantu kamu dan melihat kamu sukses sudah lebih dari cukup" ucap Jefri
"Maaf Yas, aku kasih tau mereka karna aku gak mau kalian bertengkar gara-gara salah paham" ucap Arya
"Iya Ya gak apa-apa, aku berterima kasih sama kamu. Bukannya aku gak mau mengatakannya pada kalian, tapi kan kalian mengorbankan waktu kalian demi membantu, gak mungkin kalau aku gak membayar kalian. Gak mungkin kan kalau cuma mengatakan terima kasih saja, harusnya hari ini kalian gajian. Waktu itu aku gak tega melihat kalian terus bekerja membantuku, sementara uang nya habis, makanya aku nyuruh kalian libur. Aku sendiri berusaha mencari uang untuk mengganti uang kalian, tapi ternyata tidak mudah" ucapku lirih
"Ya Allah Yas, kamu ini kayak sama siapa aja kita ini teman kamu, bukan orang lain. Sekarang jangan memikirkan soal gajih lagi" ucap Arif
__ADS_1
"Tapi Rif....."
"Yas kalau kamu masih menganggap kita ini teman mu, jangan pernah lagi membahas soal gajih. Bukannya sesama teman itu jangan perhitungan ? Kita itu harus saling membantu, kamu sendiri sudah sering membantuku" jawab Tomi
"Sekarang ini yang harus di pikirkan kesehatan Ibu Nana, gimana sekarang keadaannya ?" ucap Arya
"Ibu baru saja mau di operasi, dari kemarin sampai sekarang masih tetap kritis" jawabku
"Yang sabar Yas, aku yakin Bu Nana akan kembali sembuh" ucap Jefri
"Aamiin minta do'a nya saja agar Bu Nana cepat sembuh" jawabku
"Tadi kamu izin gak masuk sekolah, Arya mengatakan semuanya pada kami. Dari tadi kami nunggu pulang sekolah, agar bisa menjenguk Bu Nana di rumah sakit" ucap Tomi
"Kalian tau dari mana kalau Bu Nana sakit ?" tanya ku
"Kita kan pulang sekolah ke rumah kamu tapi pintunya di kunci gak ada siapa-siapa, terus kami tanya tetangga dan katanya kemarin sore Bu Nana masuk rumah sakit" jawab Adin
"Makasih ya kalian sudah datang" ucapku
"Sama-sama, oh ya Pak Jamal mana ? Tanya Arif
"Lagi bersama suster di ruang dokter, mungkin ada beberapa yang harus di jelaskan oleh dokter mengenai operasinya Bu Nana" jawabku
"Oh, Yas katanya kamu lagi bikin karya baru ?" tanya Tomi
"Iya biar gak bosen, kali ini memanfaatkan barang-barang bekas seadanya, gak akan membeli lagi" jawabku
"Nah betul itu, jadi kan lebih hemat dan lebih kreatif" sahut Tomi
"Iya betul, kita juga bisa membantu membersihkan sampah-sampah dan mengubahnya jadi sesuatu yang menarik dan bermanfaat" ucapku
"Iya dari pada sampah nya menumpuk dan malah bikin kotor, mending di manfaatkan gini" jawab Dimas
"Nah nanti, kamu jangan melarang kita untuk membantumu, pokoknya kita ini sesama teman harus saling membantu. Jangan sampai di tolak lagi !" ucap Arif
"Terima kasih ya, kalian memang teman terbaikku" pundaku di tepuk-tepuk oleh mereka tanda kalau mereka peduli padaku
Aku bahagia punya teman seperti mereka, mereka teman terbaikku aku tidak akan pernah melupakan mereka sampai kapanpun.
__ADS_1