
Saat sedang makan rasanya gak karuan, banyak sekali yang sedang aku pikirkan.
"Ilyas, kenapa kamu melamun terus dari tadi ?"tanya Arya mengagetkanku
"Gak apa-apa, aku gak melamun ko"
"Kita ini teman kamu Yas, sesama teman itu harus saling tolong menolong. Bu Nana kan lagi mau di operasi jadi kita do'akan saja agar lancar dan akan segera sembuh lagi" ucap Adin
Tapi bukan cuma itu yang sedang aku pikirkan, aku tidak mengerti dengan Ibu ku, kenapa dia tidak mengerti ? Yang ada dalam pikiran Ibu cuma uang dan uang. Uang dari hasil kerajinan ku, rencananya mau aku berikan pada teman-temanku walaupun mereka bilang tidak mengharapkannya, tapi tetap saja mereka pasti memerlukannya. Bukan hanya itu, uangnya untuk keperluan Ibu Nana di rumah sakit karna pasti akan ada biaya yang lainnya. Tapi aku juga gak mau di anggap anak durhaka, mungkin uang nya sebagian saja akan aku berikan pada Ibu.
"Iya Yas, kalau ada masalah kamu cerita saja sama kita. Jangan sungkan-sungkan, barang kali kita bisa bantu" ucap Tomi
Mungkin mereka benar, aku cerita saja sama mereka tapi bukan berarti aku akan membuka aib kelurga ku sendiri. Aku akan cerita yang intinya saja, aku tidak bisa menggenggam masalah ini sendiri.
"Kalau kita gak bisa bantu, mungkin kita bisa ngasih solusi nya" ucap Jefri
"Nanti akan aku ceritakan pada kalian tapi tidak di sini"
"Yaudah kalau gitu, kita makan dulu aja" jawab Arya
Mungkin aku bisa minta solusi, apa yang seharusnya aku lakukan sekarang. Setelah selesai makan, kita semua kembali ke rumah sakit, aku juga membungkus makanan untuk Pak Jamal. Saat kulihat, Pak Jamal masuk ke dalam ruangannya Ibu, aku langsung berlari diikuti oleh teman-teman ku.
"Ibu mau di operasi sekarang Pak ?"
"Iya nak, sekarang mau di pindahkan ke ruangan operasi"
"Semoga operasinya lancar ya Pak"
"Iya nak do'a kan saja"
Ibu di dorong oleh suster di bawa ke ruangan operasi, kita semua ikut mengantarnya. Aku lihat Bapak begitu sedih melihat kondisi Ibu, saat sedang berjalan aku mendengar suara hati Ibu yang sedang berbaring 'La ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah... La ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah... La ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah... Ya Allah hamba ikhlas dan siap menghadap Mu, aku pasrahkan semuanya pada Mu... Aku ingin saat terakhir aku hidup, aku ingin melihat anak ku. Semoga dia pulang, aku sangat rindu padanya. Tapi jika itu tidak mungkin, aku ingin suamiku dan Ilyas menemaniku. Saat anak ku tak kunjung datang, Engkau menghadirkan seorang anak soleh padaku. Aku bahagia sejak Ilyas tinggal bersamaku, walaupun dia bukan anak ku tapi aku sudah menganggapnya seperti anak ku sendiri. Jika aku meninggal, tolong jagalah mereka ya Allah lindungilah mereka dan semoga Ilyas jadi orang sukses dan berguna bagi nusa dan bangsa'
"Ibu jangan ngomong aneh-aneh, Ibu harus kuat Ibu pasti bisa melewatinya. Aku mohon Ibu harus bertahan, aku dan Bapak sangat menyayangi Ibu" ucapku pada Ibu
Mereka semua melihatku yang tiba-tiba berkata seperti itu, aku lupa hanya aku yang bisa mendengarnya. Setelah berada di ruangan operasi, Ibu langsung di masukan ke dalam kita semua menunggunya di luar.
__ADS_1
"Aku permisi dulu Pak !" sambil berlari
"Ilyas, kamu mau kemana ?" jawab Bapak berteriak
"Yas, mau kemana ?" teman-teman ku berteriak
Aku membalikan tubuhku
"Aku mau ke kamar mandi dulu" ucapku
Aku pergi ke mushola, aku mengambil air wudhu kemudian langsung sholat. Saat ini Ibu sedang di operasi, aku ingin berdo'a untuk Ibu agar semuanya di lancarkan. Aku menutup mataku sambil berdzikir dan terus berdo'a memohon kepada Allah. Aku membayangkan wajah Ibu, hingga rasanya aku telah masuk ke alam bawah sadar Ibu. Entah aku sedang dimana, di sekelilingku sangat indah banyak sekali bunga-bunga, rumput yang hijau, langit yang biru, udara yang segar pokoknya sangat indah sekali. Baru pertama kali aku melihat tempat yang indah seperti ini, hingga tiba-tiba ada orang yang memanggilku.
"Ilyas ! Ilyas !"
Aku membalikan tubuhku, di depan sana aku melihat ada Bu Nana yang sedang berdiri tersenyum. Wajahnya sangat segar bercahaya, dia memakai pakaian putih.
"Ibu ..... Aku mendekatinya, Aku dan Ibu duduk di kursi panjang.
"Ibu sedang apa di sini ?"
"Maksud Ibu, apa ?"
"Kamu jangan bersedih, Ibu sudah di panggil oleh Allah untuk menghadap Nya"
"Ibu jangan ngomong gitu, aku dan Bapak masih ingin bersama Ibu"
"Setiap manusia itu pasti akan kembali nak, kita hidup di dunia ini cuma untuk sementara saja. Kamu harus ikhlas, tolong jaga Bapak ya hanya kamu orang yang bisa Ibu percaya"
"Tapi Bu... baru kali ini Ilyas merasakan kasih sayang dari seorang Ibu. Ilyas tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Ibuku sendiri, aku ingin lebih lama lagi merasakan kasih sayang Ibu pada Ilyas"
"Apapun yang terjadi, kamu harus tetap menyayangi Ibu mu. Dialah Ibu mu, orang yang sudah melahirkan kamu ke dunia ini. Kamu harus menghormatinya, Ibu yakin suatu saat nanti Ibu mu akan berubah. Saat ini kamu harus terus menjaganya, jangan pernah melawan dan membuat dia kecewa ataupun menangis"
"Iya Bu, selama ini Ilyas tetap sayang sama Ibu. Tapi Ilyas bingung, sekarang harus bagaimana menghadapinya"
"Kamu harus tetap sabar, jangan pernah melawan atau menyakitinya. Turuti semua kemauannya, insyaallah nanti akan berkah jika kamu ikhlas memberinya. Semua yang kamu lakukan sekarang pada Ibu mu, suatu saat nanti dia akan sadar"
__ADS_1
"Iya Bu, Ilyas akan menuruti perintah Ibu"
"Sekarang kamu belajar yang rajin, tingkatkan lagi ibadah mu, raihlah mimpimu setinggi mungkin. Gali lah ilmu sebanyak-banyaknya, jangan pernah menyerah dan putus asa. Jika sudah di atas nanti, kamu jangan pernah melihat ke atas, lihatlah ke bawah perjuangan yang telah kamu lalui. Jangan pernah bersikap sombong, tetapkan rendah hati jadilah Ilyas yang sekarang jangan pernah berubah"
"Baik Bu, Ilyas akan mengingat nasehat Ibu sampai kapanpun. Aku akan tetap menjadi diriku sendiri, aku tidak akan pernah berubah"
Hingga kemudian di depan sana ada cahaya dari langit
"Sudah saatnya Ibu pergi, jaga diri baik-baik dan jaga Bapak" Ibu berdiri dan berjalan ke depan
"Ibu... Jangan pergi Bu..." Aku menangis sambil mengejar Ibu
"Kamu anak soleh dan kuat, kamu pasti bisa melewatinya"
Saat berada tepat di bawah cahayanya, Ibu terbang ke langit dan dia melambaikan tangannya.
"Ibuuuuuuuu...... Ibuuuuuuuuuu..... Ibuuuuuuuu..... Jangan pergi Bu... !"
Ibu terus terbang ke atas hingga kemudian cahaya membawanya pergi.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuu....... !"
Aku tersadar saat sedang berdzikir di mushola, aku langsung berdiri dan berlari ke ruangan operasi. Dan benar saja, Ibu telah keluar dari ruangan operasinya, seluruh badannya di tutupi kain. Aku lihat di sana Bapak dan teman-temanku ikut membawa Ibu keluar dari ruang operasi.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuu.... " aku berlari sambil menangis
Hingga kemudian berhenti, aku membuka kain yang menutupi wajahnya. Dan benar saja, itu Ibu aku benar-benar sangat sedih aku menangis sejadi-jadinya. Aku memeluknya dan terus menangis, beliau seperti Ibuku sendiri kasih sayangnya begitu tulus padaku.
"Ibuuuuuuuu jangan tinggalkan Ilyas Bu.... !
"Sabar nak, kamu harus ikhlas Ibu sudah tenang di alam sana" Bapak sendiri menangis
"Iya Yas, kamu yang sabar" teman-teman ku menenangkan ku
Ibu kembali di bawa oleh suster, dia di pindahkan dan sedang di urus semua surat-suratnya. Ibu akan segera di mandikan karna berhubung tidak ada lagi keluarganya yang akan melihat. Baru kali ini aku benar-benar rapuh, rasanya hatiku benar-benar sesak, badanku terasa lemas. Tapi aku harus ikhlas, jika aku terus menangis maka Ibu juga di sana akan menangis. Aku harus benar-benar ikhlas, aku harus menerima kenyataan ini. Ibu sudah bahagia di alam sana bersama Allah, Ibu tidak akan merasakan sakit lagi. Allah lebih sayang pada Ibu, aku akan kirimkan do'a selalu pada Ibu.
__ADS_1