
Aku bahagia semakin hari semakin ramai, aku sebenarnya tidak mempekerjakan anak-anak karna bukan kewajiban mereka untuk bekerja. Tetapi karna keadaan lah yang memaksa, dari pada mereka terlunta-lunta di jalanan. Bukan cuma bekerja tapi aku juga mengajarkan pengetahuan. Sesekali kita belajar menulis, membaca dan berhitung. Mereka juga jadi punya kreatifitas bisa memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang yang bernilai. Seminggu telah berlalu, aku sudah menceritakan rencana Sandi pada teman-temanku. Kita semua sudah merencanakan sesuatu untuk mereka, untuk membalas perbuatan mereka.
"Biar terlihat membawa barang, kita pura-pura aja bawa barangnya nanti kita pergi ke alatnya" ucapku
"Iya nanti kita ikutin kamu, nanti kamu masuk ke dalam mereka juga harus masuk semua. Eh memangnya kamu bisa pergi dari rumah itu sementara kamu sudah berada di dalam" ucap Dimas
"Tenang aja, pokoknya tugas kalian usahakan Sandi dan semua temannya masuk juga kedalam rumah tua itu"
"Ok lalu setelah mereka semua masuk kedalam, kita semua kembali ke dalam mobil ?"
"Iya kalian semua tunggu di mobil, ayo kita langsung saja, kalian ikuti aku aja dari kejauhan takutnya Sandi tau"
"Ok siap, geregetan banget sama tuh anak dari dulu jail mulu sama Ilyas. Sudah saatnya sekarang ini kita kerjain balik" ucap Adin
Karna pesanan mereka banyak, jadi aku bawa mobil pick up khusus untuk antar barang dalam jumlah banyak. Sengaja agar seolah-olah aku benar-benar bawa barangnya, padahal cuma sampah yang di bungkus. Sementara teman-teman ku mengikutiku dari belakang membawa mobil juga, semuanya sudah di atur kita semua langsung berangkat. Aku pergi ke alamat yang sesuai di katakan oleh Sandi, hingga kemudian aku telah sampai tepat di depan rumah. Rumahnya ini terlihat tak terurus, halaman depannya cukup kotor sepertinya rumah ini sudah lama di tinggalkan. Menurutku Sandi dan teman-temannya itu kurang cerdik, harusnya mereka bisa berfikir kalau aku gak mungkin percaya mengantarkan barang pada rumah yang tidak berpenghuni. Seperti dulu, mereka mengurungku di pabrik kosong tapi saat itu aku masih bocah belum mengerti. Sekarang ini kita sudah sama-sama dewasa harusnya bisa berfikir lebih cerdik.
"Hallo mas, saya sudah di depan rumah. Tapi ko rumahnya seperti tidak berpenghuni ya ?"
"Oh karna aku baru pulang dari kampung mas, rumahnya lagi di bersihkan. Mas langsung masuk aja kedalam rumah sambil bawa barang-barang pesanan saya !"
"Iya mas, saya akan masuk kedalam tapi setelah aku didalam aku ingin mas nya mengecek dulu barang-barangnya takutnya mengecewakan. Oh iya mas karna mas pesan barangnya banyak, jadi saya kasih hadiah menarik"
__ADS_1
"Hadiah apa mas ?"
"Nanti dilihat saja mas pasti suka, tapi harus di bantu oleh beberapa orang. Mas didalam ada sodaranya gak ? Hadiahnya harus di buka oleh 3 sampai 4 orang"
"Oh gitu ya mas, ada mas saya ada teman 3 orang berarti sama saya ada 4 orang"
"Bagus kalau gitu mas, usahakan mas dan teman-temannya berkumpul saat membuka hadiah dari saya. Jadi dalam hadiah itu ada tali 4 buah, dari masing-masing ujung kotaknya harus di cabut secara bersamaan"
"Iya mas, kalau gitu langsung saja masuk ! Oh ya hadiah dan barangnya simpan di bawah aja dan mas naik ke lantai dua untuk membawa uangnya karna saya lagi di lantai dua lagi bersih-bersih"
"Ok mas, aku langsung masuk sekalian bawa barang dan hadiahnya"
"Iya mas" Sandi dan teman-temannya ini tidak curiga dengan yang aku katakan, mendengar kata hadiah langsung seneng.
"Si Ilyas benar-benar bodoh, dia sudah membawa barang-barang nya dan dia katanya bawa hadiah untuk kita karna kita beli barangnya banyak" ucap Sandi
"Haha dia itu memang bodoh, masa orang bodoh bisa jadi juara matematika" ucap Fajar
"Padahal kita kan ingin ngerjain dia, baik banget ya dia malah mau ngasih hadiah. Padahal dia nanti akan nangis gak bisa keluar dari rumah tua ini haha" ucap Akmal
"Nanti kita semua masuk dulu kedalam untuk bawa hadiahnya, katanya ada tali yang harus kita cabut secara bersamaan. Setelah dapat hadiah nya kita langsung keluar dan si Ilyas langsung kita kunci" ucap Sandi
__ADS_1
"Tapi nanti gimana kalau si Ilyas tau kan kita semua berada di dalam ruangan otomatis dia akan melihat kita" ucap Farid
"Ya enggaklah, gua gak bodoh. Tadi si Ilyas di suruh naik ke lantai dua untuk bawa uang, jadi kan gak mungkin ketemu, dia udah masuk duluan. Pokoknya pas si Ilyas sudah ada di lantai dua, kita langsung masuk dan bawa hadiahnya" ucap Sandi
"Pintar juga lu San, tapi barangnya kita bawa juga kan lumayan bisa kita jual hiasan dan kerajinannya" ucap Akmal
"Pinter lu Mal, haha kita akan untung nih dapat hadiah sekaligus hiasan mahal kita bisa jual" ucap Sandi
"Eh-eh itu si Ilyas sudah masuk tuh bawa barang-barang nya !" ucap Fajar
"Barang-barangnya lumayan banyak juga tuh sepertinya berat" ucap Farid
"Nah itu yang terakhir kotak besar pasti hadiahnya" ucap Sandi
"Ayo kita siap-siap mulai masuk juga !" ucap Akmal
Aku bisa tau rencana mereka dan yang mereka bicarakan, untung aja aku punya kekuatan. Tidak seperti dulu, aku sering di kerjain mereka. Setelah barang-barang nya aku masukkan kedalam rumah, pas aku masuk pintunya terbuka mungkin sengaja agar aku berfikir didalam rumah benar-benar ada orang. Aku berjalan menuju lantai dua, suasana didalam rumah sangat kotor dan senyap. Aku lihat disini banyak makhluk halusnya, aku kirim pesan pada teman-temanku untuk segera keluar dan mengunci mereka setelah semuanya masuk kedalam. Setelah aku berada di lantai dua, mereka semua masuk kedalam. Aku lihat disini tidak ada jalan keluar kecuali pintu utama tadi, rupanya sebelum aku tiba sengaja mereka tutup agar saat aku berada didalam tidak bisa keluar lagi. Justru mereka semua yang akan terkurung didalam rumah itu, setelah semuanya berada didalam teman-teman ku langsung mengunci pintunya dan langsung segera pergi dan berlari. Mereka kembali kedalam mobil, sementara itu aku menggunakan kekuatan ku melompat lewat atap rumah yang cukup tinggi. Di lantai dua ini ada atap yang berlubang, aku lompat lewat sana dan berdiri di atas genteng. Lalu aku lompat ke bawah dan kembali menutup gentengnya lalu segera masuk kedalam mobil. Mobilnya langsung aku nyalakan dan langsung pergi, sementara itu teman-teman ku belum mengetahui aju sudah berada di dalam mobil. Mereka masih menunggu di pinggir dekat rumah, aku membunyikan klakson agar mereka segera pergi.
"Hei, ayo kita pergi !"
"Lah, ko tau-tau kamu sudah ada di mobil ? Ucap Arif kaget
__ADS_1
"Udah, nanti aku jelaskan di ruko"
Aku langsung jalan dan mereka mengikutiku dari belakang, aku lihat mereka belum sadar kalau mereka di kunci. Mereka lagi mencari tali yang aku bilang di antara kotaknya, mereka menarik talinya dan kotaknya terbuka cuma ada sampah saja yang sudah kita kumpulkan. Mungkin tidak sebaiknya aku mengerjai mereka, tapi aku sendiri hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran aku ingin mereka berubah dan menyadari kesalahannya.