Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 61


__ADS_3

"Aaahhhh!" jerit Rahma.


Rahma memejamkan matanya sambil menjerit histeris kala sebuah mobil mewah dengan kecepatan tinggi mendekatinya.


Mobil berhenti tepat menempel di tubuh Rahma tapi tidak sempat mendorong tubuh mungil itu. Mobil yang dikendarai seorang pria paruh baya itu berhenti pada waktu yang tepat. Sehingga Rahma bisa selamat.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya sang pengemudi.


Mendengar pertanyaan dari seseorang, perlahan mata Rahma terbuka. Kemudian pandangan mata Rahma menyapu sekelilingnya. Nafas lega keluar dari mulut dan hidung Rahma secara bersamaan.


"Alhamdulillah." ucap Rahma sambil mengusap-usap da danya.


"Nak, kamu tak kenapa-napa 'kan?" tanya pria itu lagi, ada nada khawatir dalam suaranya.


Rahma pun menoleh ke arah suara orang yang bertanya padanya.


"I-iya, Tuan. Saya tidak apa-apa," jawab Rahma terbata karena terkejut dan takut pada pengendara mobil tersebut.


Bila dilihat penampilan bapak itu seperti orang kaya, pasti pemilik mobil itu.


"Syukurlah kalau tidak apa-apa. Kamu mau kemana? Hari sudah mulai malam ditambah hujan yang tidak berhenti sejak tadi, apa kamu tidak takut di jalanan sendiri?


"Saya hendak mencari tempat kos, Tuan. Tempat kos yang lama biaya sewanya terlalu mahal untuk saya, selain itu juga jauh dari kampus," jawab Rahma sambil membetulkan letak ranselnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak naik taksi atau ojek saja?" tanya pria itu.


"Saya belum menemukan tukang ojek atau taksi melintas, Tuan. Saya akan menunggu di halte depan sana," jawab Rahma sambil menunjuk ke arah halte yang tidak jauh dari tempat mereka.


"Bagaimana kalau Bapak antar kamu ke tempat kos kamu yang baru? Kelihatannya di sana kurang aman. Itu kalau kamu percaya saya," tawar pria tersebut.


"Bapak ini baik banget, semoga dia malaikat penolong bukan malaikat pencabut nyawa."


"Saya tidak akan macam-macam, saya hanya kasihan. Melihat ada anak gadis malam-malam berjalan sendirian di bawah guyuran hujan gerimis. Kamu nggak takut?" ujar pria paruh baya itu.


Rahma akhirnya mengangguk mengiyakan tawaran dari pria itu. Kemudian barang-barangnya dimasukkan ke jok belakang, sedang Rahma diminta duduk didepan.


Betapa terkejutnya Rahma saat wajah pria paruh baya itu terlihat jelas olehnya.


"Ayah," gumamnya lirih tapi masih terdengar oleh telinga pria tersebut.


"Ayah?" tanya laki-laki itu dengan alis saling bertaut.


"Ma-maaf, saya sudah sangat merindukan ayah saya," jawab Rahma sendu sambil menunduk.


"Apa benar beliau adalah ayahku? Aku harus menyelidikinya. Semoga benar dia ayahku."


"Siapa namamu, Nak? Umurmu berapa saat ini?" tanya laki-laki itu lagi.

__ADS_1


"Nama saya Rahma, umur sembilan belas tahun, Tuan," jawab Rahma sambil menatap wajah yang sangat mirip dengan ayahnya itu.


"Hmm, nama yang bagus. Panggil saja pak Dewa jangan tuan," ucap bapak yang biasa dipanggil Dewa itu.


Kebetulan kemarin Rahma sempat memanjar sebuah kamar kos dekat kampusnya, sehingga dia bisa kapan saja masuk. Pak Dewa mengantar Rahma hingga jalan depan gang karena kos-kosan Rahma masuk ke dalam gang yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.


"Terima kasih, Pak. Atas pertolongan bapak, saya selamat sampai tujuan," ucap Rahma berterima kasih sebelum turun dari mobil.


Rahma berjalan perlahan menuju tempat kos karena jalanan licin.


*


*


*


Frans tidak menyadari jika Rahma sudah meninggalkan rumahnya. Tadi setelah meminum air jahe buatan Rahma dia tertidur.


Tengah malam Frans terbangun karena tenggorokannya kering. Dia turun untuk mengambil air minum. Saat melewati kamar Rahma dia heran karena pintunya tidak menutup rapat.


Frans pun mendekati kamar yang biasa ditempati Rahma setelah minum. Frans yang penasaran pun masuk dan menyalakan lampunya. Betapa terkejutnya dia tidak mendapati Rahma di dalam kamar tersebut.


Frans melihat HP yang dulu diberikan pada Rahma tergeletak di atas nakas. Di bawah HP tersebut ada kertas dengan tulisan 'terima kasih'. Frans lalu membuka lemari pakaian, kosong. Saat akan menutup lemari itu tidak sengaja Frans melihat sebuah kotak yang dikenalnya. Diambilnya kotak itu dan dibukanya sambil duduk di ranjang.

__ADS_1


"Dia masih menyimpan barang-barang ini. Kenapa dia meninggalkannya di sini? Apa dia sudah tahu kalau ini dariku?"


"Arghh!!! Bodoh! Bodoh! Lo bodoh, Frans!" jerit Frans.


__ADS_2