
"Gue... Gue hamil! Huwaaaa!"
"Apa? Lo hamil! Kenapa bisa? Lo hamil anak siapa?" berondong Sheila tidak berjeda sama sekali.
"Lo kalau nanya satu-satu bisa nggak?" balas Christie ketus.
"Syok Gue dengar Lo hamil!" jawab Sheila dramatis.
"Lo kenal nggak ma cowok yang duduk pas depan Gue?" tanya Christie.
"Yang mana?"
"Cowok yang wajahnya kek bule, rambutnya pirang!" jelas Christie.
"Ehm, Chico?" tebak Sheila.
"Lo 'kan waktu itu pulangnya diantar Chico 'kan?" lanjut Sheila.
"Iya, kali?" ucap Christie bingung.
"Iya kali, iya kali! Yang jelas dong, jangan ngambang!" bentak Sheila.
"Habis Lo nggak ngenalin Gue ke teman-teman Lo sih, jadi Gue nggak tahu namanya!" bantah Christie.
"Lo 'kan punya mulut, bisa tanya siapa namanya, atau paling tidak ngajak kenalan. Lo udah gede, Christie! Jangan bodoh jadi orang itu!" teriak Sheila kesal karena sepupunya itu terlalu lemot berpikir.
"Terus, sekarang gimana dong?" tanya Christie dengan lugunya.
"Nanti Gue temuin Lo ma Chico aja deh! Kalian bicarakan berdua. Pusing pala Gue gara-gara Lo!" jawab Sheila sambil bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi.
"Eit, tunggu dulu! Gue belum kelar ngomong..."
__ADS_1
"Bodo amat!" potong Sheila dibalik pintu kamar mandi.
"Ishh! Dasar sepupu lucknut, nolong setengah-setengah!" gerutu Christie saat Sheila memilih mandi dari pada ngobrol bersamanya.
*
*
*
"Rahma, nanti malam mungkin aku pulang terlambat. Kamu nggak usah nungguin aku, langsung tidur aja. Aku bawa kunci kok," pamit Frans pada Rahma.
Rahma diam saja tidak menanggapi perkataan suaminya. Seperti itulah Rahma setiap kali hanya berdua dengan suaminya. Dia akan acuh dan menganggap suaminya tidak ada di dekatnya.
Frans menghela nafasnya kasar ketika tidak ada tanggapan sama sekali dari wanita yang sangat dicintainya itu. Mungkin dia harus lebih sabar lagi menunggu Rahma memaafkan dan menerima dia sebagai suami.
Belum juga mendapat tanggapan dari istrinya, akhirnya Frans pergi bekerja tanpa mencium kening istrinya.
Frans mengendarai motornya karena menurutnya lebih gesit menggunakan motor dari pada mobil. Walau tidak dipungkiri jika menggunakan mobil saat bekerja, lebih aman dan santai.
Setelah kepergian Frans, Rahma pun bersiap berangkat ke kampus. Dia berencana ke perpustakaan karena banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan. Rumah itu kebetulan sepi karena bu Sarifah menemani Tiara jalan-jalan keliling komplek perumahan.
Usia kandungan Tiara yang sudah menginjak tri semester terakhir, mengharuskan dirinya banyak gerak agar persalinannya lancar. Oleh karena itu, dia meminta bu Sarifah untuk menemaninya jalan-jalan pagi. Sebenarnya sudah berulangkali Dolly mengajaknya pulang, tetapi selalu ditolaknya.
"Ada kuliah pagi 'kah?" tanya Tiara ketika mereka berpapasan di pintu pagar.
"Nggak juga, aku mau ke perpustakaan. Mencari bahan buat tugas kuliah. Mumpung senggang, lebih baik aku kerjakan aja sekarang." jelas Rahma sambil berjalan menuju taksi yang sudah menunggunya.
"Okelah kalau begitu, hati-hati!" ucap Tiara sambil berjalan memasuki halaman rumah.
Sedangkan Rahma mencium punggung tangan ibunya sebelum naik ke mobil.
__ADS_1
"Rahma berangkat, Bu. Mohon do'anya!" pamit Rahma pada bu Sarifah.
"Iya, Nak. Do'a Ibu selalu mengiringi setiap langkah kakimu," tutur bu Sarifah dengan mata sayu.
"Terima kasih, Bu!" jawab Rahma sambil mencium pipi ibunya.
*
*
*
Frans meminta tolong pada Rio untuk menjaga Rahma selama dia tidak bersama mereka. Rio hanya mengiyakan saja tanpa mau mendebat permintaan sahabatnya.
Kebetulan Rio pagi ini juga hendak ke perpustakaan. Dia juga berniat mengerjakan tugas kuliah yang baru saja diberikan kemarin.
"Ma! Rahma!" teriak Rio saat melihat Rahma berjalan hendak masuk ke perpustakaan.
Rahma yang merasa namanya dipanggil pun mencari sumber suara yang memanggilnya tadi.
"Eh, Rio! Ada apa?" jawab Rahma begitu mendapati Rio sudah di depan matanya.
"Lo mau ngapain?" tanya Rio sambil memandang map di tangan Rahma.
"Ini ada tugas yang belum kelar, rencananya mau aku selesaikan di sini," ucap Rahma sambil mengangkat tangannya yang memegang map.
"Kamu mau ngerjain tugas juga?" imbuh Rahma kemudian.
"Iya, mana teman kelompok Gue nggak ada yang bisa kerjain ini lagi!" gerutu Rio kesal karena harus mengerjakan tugas sendirian.
"Sabar. Kerjakan pelan-pelan dan teliti. Agar puas dengan hasil kerja keras selama ini." nasehat Rahma.
__ADS_1
"Ok! 'Dah yuk, masuk!" ajak Rio sambil melangkah kakinya memasuki perpustakaan.