
Sudah seminggu berlalu, Dennis sudah meninggalkan rumah utama peninggalan kakeknya. Saat ini Dennis tinggal bersama ayahnya di apartemen. Dennis memutuskan ikut bersama ayahnya setelah mengetahui cerita yang sebenarnya, tentang pernikahan kedua orang tuanya.
Dennis belum membawa semua barang-barangnya, masih ada beberapa yang tertinggal di rumah utama. Dia berencana akan mengambil barang itu sepulang sekolah.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring di seluruh lorong sekolah. Dennis pun langsung mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. Dennis berjalan cepat menuju tempat parkir.
"Den, Lo mau kemana? Buru-buru amat." tanya Rayyan teman dekat Dennis.
"Mau pulang! Ada apa?" jawab Dennis singkat, dia tampak terburu-buru.
"Kek orang dikejar se Tan aja Lo!" ucap Rayyan.
"Sorry, Gue lagi buru-buru. Nanti malam kita ketemu di tempat biasa. Oke?" kata Dennis seraya menghidupkan mesin motornya.
Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah utama. Dennis langsung berlari menuju kamarnya di lantai dua. Kemudian mengambil barang yang dibutuhkannya.
Saat Dennis berjalan menuruni tangga, ada yang suara seseorang yang memanggilnya.
"Dennis! Mau kemana kamu?" tegur Agatha pada anak laki-lakinya.
Dennis terkejut melihat ibunya sudah berada di rumah itu.
"Eh, Mommy! Kapan Mommy pulang?" sahut Denni sembari menghentikan langkahnya.
"Mommy sudah di rumah sejak kemarin. Rumah kosong hanya para pekerja saja yang tinggal. Kamu kemana saja, heh?" bentak Agatha.
"Dennis sekarang tinggal di apartemen, Mom," jawab Dennis dengan santainya, dia bersandar pada pegangan tangga.
"Siapa yang memberi kamu ijin? Usiamu belum cukup untuk tinggal sendiri!" tanya Agatha penuh selidik.
"Daddy yang kasih! Dennis sudah besar, Mom. Sudah tujuh belas tahun. Teman-teman Dennis banyak kok yang tinggal di apartemen. Mereka diberikan fasilitas lengkap oleh orang tua mereka, sejak memakai seragam abu-abu. Mereka bisa, jadi Dennis pikir, Dennis juga bisa seperti mereka. Belajar hidup mandiri sejak dini." terang Dennis seraya menegakkan badannya dan mulai berjalan turun dari tangga.
Agatha semakin kesal melihat anaknya sudah berani melawan.
"Oh iya, Mom! Bagaimana keadaan tuan putri kesayangan Mommy?" tanya Dennis sinis.
"Dia punya nama Dennis. Sopan sedikit kamu jadi anak! Christie belum sadarkan diri hingga Mommy meninggalkan rumah sakit kemarin. Rencananya besok malam, Mommy akan kembali ke Singapura. Sepertinya anak dan suami Mommy tidak membutuhkan Mommy, jadi Mommy percepat saja kembali ke sana." sindir Agatha.
__ADS_1
"Baguslah kalau Mommy sadar. Toh, Mommy di rumah atau tidak, tidak ada bedanya. Mommy lebih memilih tuan putri Mommy dari pada kami, para lelaki di rumah ini. Untuk apa tinggal, jika keberadaannya tidak dianggap!" ucap Dennis sambil berlalu dari hadapan ibunya.
Dennis meninggalkan rumah itu dengan emosi yang memuncak. Ibunya selalu menomorsatukan kakaknya dibandingkan dengan dia.
"Dasar, anak sama bapak sama saja! Tidak pernah peka sedikit pun jadi orang." gerutu Agatha.
Dennis dan pak Dewa sangat mirip, tidak hanya wajahnya saja. Sifat mereka juga sangat mirip. Terlalu dingin dan kaku. Belasan tahun mencoba menaklukkan hati suaminya, akhirnya Agatha menyerah kalah karena hati suaminya itu tertutup rapat. Meskipun mereka memiliki anak dan tinggal bersama, Agatha dan Dewa bak orang asing yang tinggal bersama.
Pak Dewa lebih mementingkan perusahaan peninggalan mertuanya. Sejak menikahi Agatha, Dewa mengemban tugas memajukan perusahaan orang tua Agatha. Jiwa bisnis yang dimiliki oleh Dewa sudah sejak lahir melekat. Sibuk mengurus bisnis, Dewa jarang bercengkrama bersama Agatha dan keluarganya. Tidak sedikitpun waktu ada untuk Agatha dan anak-anaknya.
*
*
*
Frans kalang kabut tidak mendapati istrinya di dalam kamar saat dia pulang dari kantor. Awalnya Frans berencana akan segera pulang begitu kuliah selesai, akan tetapi dia mendapat panggilan ke kantor. Sehingga mau tidak mau dia menunda kepulangannya.
"Bu, Rahma dimana?" tanya Frans setelah beberapa saat mencari Rahma tidak ketemu.
"Rahma sedang sakit, Bu. Kenapa Ibu membiarkan Rahma pergi, kalau terjadi apa-apa bagaimana?" cerca Frans panik.
"Kamu tenang saja, tadi Rahma sudah baikan. Tidak usah khawatir, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Agar kamu lebih tenang, kamu hubungi dia saja untuk memastikan!" tutur bu Sarifah seraya menepuk lengan Frans, memberikan ketenangan.
"Baiklah, Frans hubungi Rahma sekarang juga."
Frans melakukan panggilan berulang kali, akan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Dia pun mengirim beberapa pesan juga, hasilnya tetap sama. Tidak menunjukkan tanda-tanda online.
"Kamu kemana sih, kenapa tidak angkat teleponku?" gumam Frans pelan sambil berjalan bolak-balik.
"Bu, tadi Rahma pamit mau ketemu seseorang tidak?" tanya Frans kemudian pada bu Sarifah karena Rahma tidak kunjung menanggapi, pesan yang telah terkirim belum ada perubahan warna.
"Biasa! Ketemu sama Nak Vani, katanya tadi. Kenapa?" balas bu Sarifah mendekati menantunya.
"Telepon dariku nggak diangkat, Bu. Pesanku juga belum dibacanya. Frans khawatir, Bu!" adunya.
"Kamu hubungi saja si Vani atau Rio. Teman dekat Rahma 'kan hanya mereka," saran bu Sarifah.
__ADS_1
Frans memilih menghubungi Rio dari pada Vani, bagi dia berhubungan dengan laki-laki lebih aman.
"Rio, Rahma ada sama Lo?" todong Frans begitu Rio menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Ada, nih orangnya di depan Gue. Kenapa?" jawab Rio santai.
"Suruh cek ponselnya, sejak tadi Gue hubungi nggak ada tanggapan!" ucap Frans.
"Hmm, apalagi?" tanya Rio sebelum Frans mengakhiri panggilan.
"Sudah, itu aja! Thanks."
Frans tampak lega begitu mengetahui Rahma sedang bersama teman-temannya, dalam keadaan baik-baik saja.
Tak lama kemudian, ponselnya pun berdering. Ada panggilan masuk dari My Love.
"Halo, Sayang! Kamu kenapa susah banget dihubungi? Kamu sudah makan? Bagaimana masih sakit?" berondong Frans tanpa jeda.
"Kalau ngomong satu-satu, jangan diborong!" sahut Rahma kesal karena Frans memberondongnya dengan pertanyaan.
"Iya, Sayang. Maaf..."
"Aku sudah baikan, makanya ke kampus. Saat ini aku lagi makan sama Vani dan Rio," ujar Rahma datar.
"Baiklah kalau begitu, selamat makan. Cepat pulang, ya!" tutup Frans akhirnya.
Frans merasa tenang karena istrinya saat ini baik-baik saja.
"Nak Frans, makan siang dulu!" panggil bu Sarifah dari arah belakang. Beliau menunggu menantunya di ruang makan.
"Baik, Bu!'' sahut Frans seraya mendekati ibu mertuanya.
Sementara itu, Rahma yang juga sedang makan siang bersama teman-temannya. Tampak sangat menikmati makan siangnya sambil bercanda dengan kedua temannya.
"Laki Lo posesif banget! Ke kampus bentar aja sudah heboh!" kata Vani.
"Harap maklum, dia jatuh cinta pada Rahma sejak SMA. Jadi wajar jika bucin banget ke Rahma!" sahut Rio.
__ADS_1