
"Apa aku salah menginginkan kejujuran dari perempuan yang mengatasnamakan dirinya seorang istri?" tanya pak Dewa pada Dennis.
"Kenapa mommy tidak mau mengatakan yang sejujurnya pada Daddy?" balas Dennis dengan pertanyaan.
"Mungkin dia merasa malu dengan aibnya." jawab pak Dewa asal.
"Pantas saja, Christie tidak menyayangiku. Ternyata kami bukan saudara kandung. Dia juga memiliki sifat yang berbeda dengan kita. Bukan begitu, Dad?"
"Bisa jadi!"
"Lalu gadis itu, benar anak kandung Daddy atau hanya mengaku saja?" Dennis kembali bertanya tentang masa lalu pak Dewa.
"Gadis itu memang anak kandung Daddy yang telah Daddy tinggalkan. Daddy sudah menemukan anak istri Daddy dari pernikahan yang sah. Itulah kenapa Daddy sangat sibuk akhir-akhir ini." jawab pak Dewa dengan mata berbinar karena telah bertemu anak istrinya.
"Daddy lebih memilih mereka dari pada kami. Apakah Daddy tidak takut diusir mommy? Setahu Dennis, semua harta kita adalah peninggalan dari orang tua mommy," tebak Dennis
Dennis merasa kecewa karena ayahnya memilih wanita lain bukan ibunya.
"Daddy terpaksa harus meninggalkan mommymu. Dia lebih menyayangi Christie dari pada kamu. Sebenarnya Daddy juga ingin mengajakmu tinggal bersama Daddy. Tapi Daddy ragu, apakah kamu bisa hidup sederhana bersama Daddy?"
Dennis membulatkan matanya mendengar apakah dia bisa hidup sederhana?
"Daddy tidak akan meninggalkanmu di rumah ini sendiri tanpa kasih sayang dari seorang ibu," kata pak Dewa seolah tahu apa yang dirasakan oleh anak laki-lakinya itu.
"Terima kasih, Dad. You'r still my hero!" ucap Dennis sambil menghambur ke pelukan ayahnya.
Pria remaja itu menangis bersyukur memiliki seorang ayah yang menyayanginya dengan sepenuh hati. Walaupun tidak mencintai ibu dari anaknya, akan tetapi pak Dewa bersyukur dikaruniai seorang anak laki-laki yang perangainya mirip dirinya walau sedikit manja.
"Sudah! Sekarang kamu tidur, besok kamu harus sekolah, bukan?" titah pak Dewa pada anaknya.
"Tapi, Dad.."
"Tidak ada kata tapi! Sudah jam sebelas malam, waktunya istirahat." tegas pak Dewa tidak mau dibantah lagi.
"Baiklah. Daddy juga tidur, jangan terlalu keras bekerja. Harta banyak tidak akan ada artinya jika badan tidak sehat." tutur Dennis bijak.
__ADS_1
"Jagoan Daddy sudah besar ternyata! Sudah pandai menasehati orang tua." puji pak Dewa sambil terkekeh mendengar nasehat bijak anaknya.
*
*
*
Rahma seperti biasa, tidur di kamar terpisah dengan suaminya. Sampai saat ini Rahma masih sering ketakutan, jika hanya berdua dengan Frans di dalam tempat tertutup.
Sudah banyak cara digunakan oleh Frans, untuk menghilangkan rasa trauma Rahma. Akan tetapi semua itu membutuhkan waktu sebagai proses. Bagi Frans, Rahma sudah mau menerima dirinya saja sudah bersyukur. Masalah kewajiban suami istri itu bisa dilakukan kapan saja.
"Ma, Rahma!" panggil bu Sarifah sambil membuka pintu kamar anaknya.
Sudah jam enam pagi tetapi Rahma belum juga keluar dari kamarnya. Biasanya Rahma akan keluar sebelum jam enam untuk menyiapkan sarapan mereka. Para pekerja yang dibayar oleh pak Dewa hanya mengurus rumah beserta isinya dan pakaian kotor.
Bu Sarifah masuk ke kamar Rahma dengan berjalan pelan-pelan. Tampak olehnya Rahma masih tertidur, meringkuk di dalam selimut. Bu Sarifah mendekati Rahma kemudian menyentuh dahinya.
"Agak hangat, pantas saja jam segini belum bangun." gumam bu Sarifah setelah merasakan telapak tangannya sedikit panas.
"Euhh..." Rahma hanya melenguh lemah mendengar pertanyaan ibunya.
"Bangun dulu. Ini sudah jam enam lebih, sebentar lagi Frans pasti keluar dari kamarnya. Nanti Ibu bawakan sarapan dan obat untukmu," ucap bu Sarifah akhirnya sebelum kembali keluar.
Frans yang kebetulan keluar dari kamar melihat ibu mertuanya keluar dari kamar sang istri.
"Ibu, Rahma kenapa? Tidak biasanya pagi-pagi keluar dari kamar Rahma." tegur Frans pada ibu mertuanya.
"Katanya Rahma ada kelas pagi ini, makanya Ibu hendak membangunkannya. Sejak tadi dia belum keluar kamar, Ibu baru saja melihat dia. Ternyata badannya panas, ini Ibu mau ambilkan sarapan dan obat untuknya." Bu Sarifah menjelaskan kenapa keluar dari kamar Rahma.
"Tidak biasanya dia sakit." gumam Frans lirih sambil membuka pintu kamar istrinya.
Dilihatnya Rahma masih meringkuk di dalam selimut.
"Kamu kenapa, hmm?" tanya Frans setelah duduk di ranjang, tepat di dekat kepala Rahma.
__ADS_1
"Kepalaku tiba-tiba sakit sekali." jawab Rahma lirih dengan mata terpejam.
Frans pun memijit kepala Rahma pelan dengan penuh cinta.
Tak lama kemudian bu Sarifah masuk membawa nampan berisi bubur, air putih hangat dan obat untuk Rahma.
"Sarapan dulu!" perintah bu Sarifah sambil meletakkan nampan tersebut ke meja.
"Belum selera, Bu. Nanti saja!" tolak Rahma halus.
"Kamu harus segera minum obat, Sayang. Makan dulu ya, biar Kakak suapin?" bujuk Frans pada istrinya.
Sebenarnya pagi ini Frans ada kuis untuk mata kuliah dosen killer, akan tetapi melihat keadaan sang istri membuat Frans mengurungkan niatnya pergi pagi.
Rahma hanya menurut saja ketika Frans dan ibunya memaksa dirinya, untuk makan tanpa gosok gigi terlebih dahulu. Walaupun rasa makanan di mulutnya terasa pahit dan asam, Rahma tetap memakan bubur itu hingga setengah mangkuk.
"Sudah, Kak!" ucap Rahma sambil mendorong mangkuk yang berada di dekatnya.
"Baiklah, kalau begitu kamu minum obat dulu. Jika nanti siang belum ada perubahan, nanti sore kita ke dokter." putus Frans sambil meletakkan mangkuk yang berisi bubur itu ke atas nakas.
Rahma pun meminum obat, setelah itu dia kembali merebahkan tubuhnya. Frans membetulkan selimut Rahma hingga menutupi da danya.
"Kakak, ada kuliah pagi ini. Kamu cepet sembuh, ya. Habis kuliah aku akan langsung pulang. Sekarang kamu tidur lagi biar cepat sembuh!" pamit Frans dengan beberapa pesan untuk istrinya.
Frans mencium kening Rahma, setelah Rahma mencium punggung tangannya. Kemudian Frans meninggalkan rumah itu tanpa sarapan terlebih dahulu.
Bu Sarifah menghampiri Rahma yang masih tergeletak di ranjang.
"Kamu kenapa? Tiba-tiba sakit seperti ini." tanya bu Sarifah merasa heran karena tadi malam keadaan Rahma baik-baik saja.
"Entahlah, Bu! Kepalaku sakit banget sejak bangun tidur tadi." keluh Rahma dengan mata terpejam.
"Kamu mikirin apa sih? Ibu ada bersamamu, suami yang penyayang dan penyabar juga sudah punya, ayah juga ada sekarang. Apalagi yang menjadi bebanmu, hmm?" cerca bu Sarifah kesal.
"Mikir kuliah sama kerjaan, Bu! Pagi ini jadwal bentrok. Aku ada kuis jam delapan, sedangkan jam setengah delapan aku harus mengajar. Jadi tadi malam aku belajar dua mata kuliah bersamaan," kilah Rahma mencari alasan.
__ADS_1