
Seminggu setelah kelahiran baby twins, Frans mengadakan syukuran di rumahnya. Dia mengundang semua teman dekatnya, baik teman kuliah maupun teman kerja. Selain itu dia juga mengundang anak yatim yang tinggal di sekitar kompleks perumahan. Anak-anak panti asuhan juga tidak ketinggalan dia undang.
Baby Arka dan baby Arsha sudah dipakaikan baju putih, seperti kedua orang tuanya. Baby twins itu tidak rewel sama sekali, mereka lebih banyak tidur karena usianya masih terlalu dini. Vani sangat antusias bermain dengan baby twins, sehingga sering diledek Frans dan Rahma.
"Enak ya, digendong Aunty Vani?" ucap Rahma ketika dilihatnya Arsha sudah berada di gendongan Vani.
"Kalau pengen baby, buat sendiri sana!" celetuk Frans yang kebetulan melewati mereka.
Baby Arsha baru saja terbangun karena buang air kecil. Vani yang berada di dekat baby Arsha langsung mengganti diapers dengan sigap.
"Enak aja kalau ngomong! Punya mulut lemes banget." gerutu Vani kesal.
"Habis, sejak anak-anak Gue lahir Lo nggak mau pisah sama anak-anak Gue. Kalau pengen cepet-cepet cari pasangan. Ada si Rio noh, nganggur!" sahut Frans berjalan mendekati teman dan istrinya, urung untuk menemui kedua orang tuanya di depan.
"Mana mau Rio sama Gue! Lagian ya, Gue masih pengen bebas kelayapan. Kalau Gue nikah terus punya anak, yang ada Gue dimadu ma laki Gue karena ngelayap aja!"
"Makanya jangan ngelayap terus! Untung bini Gue nggak ketularan virus Lo itu."
"Enak aja ngatain Gue virus!"
"Bukan Lo virusnya, Dudul! Hobi Lo yang kelayapan itu yang virus." jelas Frans.
"Jadi harus dibasmi, gitu? Kalau Gue nggak boleh kelayapan, nanti ayam tetangga mati dong!" bantah Vani.
"Kenapa jadi ayam tetangga mati? Apa hubungannya sama Lo yang nggak kelayapan?" tanya Frans heran, sedangkan Rahma yang sedang menyusui baby Arka hanya tersenyum mendengar perdebatan antara suami dan temannya.
"Pasti ada hubungannya dong! Kalau Gue gabut, 'kan bengong aja. Ayam tetangga mati karena stress lihatin Gue bengong. Makanya jadi mati." cerita Vani yang langsung mengundang gelak tawa pasangan suami istri itu.
Arsha yang berada dalam gendongan Vani pun menangis, bayi itu kaget tiba-tiba mendengar suara yang keras.
"Cup, Sayang! Mama sama Papa jahat ya, ngagetin aja 'kan?" hibur Vani sambil menepuk-nepuk pan tat baby Arsha.
Baby Arsha pun terdiam begitu diajak berbicara oleh Vani. Vani yang penyayang bisa dengan mudah menangani baby Arsha.
"Dasar sinting!" ucap Frans sambil meninggalkan Vani dan Rahma.
"Kalian kenapa selalu berantem kalau ngumpul? Ini belum ada si Rio, sempat ngumpul pasti ramai banget rumah ini." kata Rahma seraya meletakkan baby Arka di box bayi.
"Begitulah kalau sudah akrab, sudah seperti keluarga sendiri. Kalau nggak berantem nggak ramai, padahal sebenarnya sayang." jawab Vani tersenyum dengan menampakkan giginya.
Sambil menunggu Frahma up, yuk mampir ke karyaku yang sudah lama terbelengkalai
Cinta Sendiri...
Menceritakan tentang adik Rendy dengan sahabatnya. Kisah mereka dimulai setelah Rendy jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal.
__ADS_1
Perjuangan Gita yang ingin mendapatkan balasan atas cintanya pada Brandon. Akankah Brandon membalas cinta Gita atau malah sebaliknya, hanya menganggap seorang adik? Ikuti terus kisah mereka hanya di "Cinta Sendiri".
Bab 1. Awal Pertemuan
"Paa!" terima Hotmaida setelah selesai menerima panggilan di ponselnya.
"Papaaaa!" teriaknya lagi sambil berjalan mencari suaminya di rumah besar itu.
"Ada apa sih, Ma?" tanya Gita yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar suara sang mama yang ribut.
"Abang, Gita! Abang kritis!" jawab sang mama panik.
"Mama pesen tiket pesawat dulu, Gita cari Papa!" saran Gita sambil berjalan ke sisi kanan rumah.
Hotmaida langsung membuka sebuah aplikasi di HP-nya untuk memesan tiket pesawat tujuan Yogyakarta. Sementara Gita mencari keberadaan sang papa saat ini.
"Papa!" teriak Gita saat melihat sang ayah berdiri di dekat timbangan saat ini ada petani sawit yang menjual sawitnya.
"Papa dicari Mama! Penting katanya." kata Gita begitu berdiri di dekat ayahnya.
"Kau lihat sendiri 'kan Papa sedang apa?" Candra menjawab anaknya dengan pertanyaan.
"Tapi ini penting, Pa!" kata Gita sambil menghentakkan kakinya.
"Ini lebih penting, Anggita Nur Anggraini!" jawab Candra sang ayah.
"Ini juga menyangkut nyawa! Kau makan dari sini, Kau beli pakaian, Kau sekolah, Kau..."
"Uang! Uang terus dalam pikiran Papa! Papa itu egois tahu nggak?" teriak Gita dengan mata berkaca-kaca.
"Lae, Kau urus ini! Jangan sampai salah kerah!" teriak Candra pada anggotanya.
(Lae \= panggilan untuk laki-laki. Kerah \= hitung.)
"Siap, Bos!" jawab pemuda itu.
"Sebenarnya kenapa Kau ini? Tiba-tiba marah nggak jelas, sekarang nangis. Kau kenapa, hmm?" tanya Candra pada anak gadisnya.
"Abang sakit, Pa! Kritis. Huwaaaa!" jawab Gita dengan meraung.
"Ck, anak itu lagi!" gumam Candra kesal.
"Siapa yang bilang kalau Abang Kau itu sakit?" tanya Candra.
"Mama! Sekarang sedang berkemas mau berangkat ke Yogya." jawab Gita masih menangis.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke rumah untuk menemui Hotmaida. Kabar buruk tadi pertama kali diterima oleh ibunda Rendy, jika Rendy kembali kritis. (Untuk lebih jelasnya baca Sepenggal Kisah Ary, cerita ini berawal dari sana.)
"Kata Gita, Rendy sakit. Betulkah itu?" tanya Candra begitu bertemu dengan istrinya di ruang keluarga.
"Tadi ada kawan Abang yang telepon Mama, katanya Abang koma sudah dua hari," jawab sang istri sambil sesenggukan karena menangis sejak tadi.
"Ada apa ini? Heh, Hotma kenapa pula Kau menangis?" tanya Norma, ibu Hotmaida.
"Ini Mak, pahopu Mamak sakit katanya!" jawab Hotma masih terisak. (Pahopu \= cucu)
"Sudah! Tunggu apalagi? Kalian pergi sana, Aku jaga rumah saja! Kalau ada orang hendak menimbang ada Mamak di sini." kata nenek Gita memberi solusi.
"Baiklah kalau begitu, Kami bersiap sekarang!" jawab Candra pada sang ibu mertua.
Mereka begitu panik mendengar kabar sakitnya penerus keluarga, Renaldy Pratama, biasa dipanggil Rendy. Selama ini Rendy memilih tinggal terpisah dari keluarganya yang mendewakan uang. Rendy lebih dekat pada adik dan neneknya dari pada orang tuanya.
*
*
*
"Wow! Kota Yogya ternyata keren ya, Ma?" ucap Gita terkagum-kagum melihat pemandangan sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah kakaknya.
Mereka baru saja keluar dari bandara Adi Sucipto Yogyakarta, setelah dua jam perjalanan di udara. Penerbangan mereka kali ini tanpa delay sehingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di Yogya.
"Iya! Salah sendiri, setiap Mama ajak ke sini Kau tak pernah mau. Nyesel 'kan, kenapa nggak dari dulu ikut Mama tengok Abang?" jawab Hotma mencibir.
"Kan Gita belum tahu kek mana tempatnya, makanya Gita nggak mau. Kalau sudah tahu kek gini pasti Gita sering ke sini tengokin Abang, hehehe!" kata Gita nyengir lebar karena malu.
Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Rendy dirawat. Mereka disambut oleh Brandon. Salah satu teman Rendy, berbadan tinggi tegap, tampak lebih dewasa dibandingkan dengan Rendy.
Gita yang baru pertama kali melihatnya langsung tercengang. Baru kali ini dia melihat pria berwajah blasteran secara langsung. Brandon keturunan Belanda - Surabaya. Wajah tampan Brandon membuat air liur Gita serta merta ingin menetes.
"Nak Brandon, terima kasih sudah mau menjaga Rendy selama ini. Kami tidak bisa membalas kebaikan Nak Brandon selama ini. Sekali lagi terima kasih!" ucap Hotma dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Ma! Mama tidak usah sungkan sama Saya. Kami bertiga sudah seperti satu kesatuan, sudah menjadi tugas kami saling menjaga dan membantu jika ada salah satu dari kami yang terkena musibah." jawab Brandon dengan senyum manisnya.
Gita, anak remaja berusia 16 tahun itu ingin sekali berkenalan dengan sahabat sang kakak. Oleh karena itu dia berulangkali menarik baju ibunya. Sang ibu pun seolah mendengar jeritan anak gadisnya.
"Oh iya, Nak Brandon kenalkan ini Papa Rendy dan ini adik kesayangan Rendy." kata Hotma memperkenalkan suami dan anaknya pada Brandon.
"Candra!" ucap Candra sambil menerima uluran tangan dari Brandon, Brandon mencium punggung tangannya dengan takjim.
"Gita!" ucap Gita dengan malu-malu tapi mau.
__ADS_1