
"Sekarang, Gue yang tanya sama Lo! Perasaan Lo ke Frans sebenarnya bagaimana sih?" tanya Tiara mengalihkan pembicaraan.
Rahma terdiam tidak menjawab karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Kan diem! Setiap kali ditanya soal itu pasti diem. Habis itu nangis. Kek Lo sendiri aja yang mengalami kejadian seperti itu," ujarnya kesal setelah melihat Rahma diam saja.
"Mau sampai kapan Lo meratapi nasib Lo? Banyak di luaran sana yang habis diperkosa ditinggalkan begitu saja, hamil lagi. Harusnya Lo bersyukur, Frans mau nikahin Lo walaupun Lo nggak hamil. Jadi nama baik Lo dan keluarga Lo tetap terjaga. Kurang apalagi coba?" nasehat Tiara akhirnya keluar juga karena sudah tidak tahan melihat Frans yang terluka.
Tiara tidak tega setiap hari melihat Frans menatap sendu pada Rahma. Seolah-olah kesalahannya begitu besar dan tak termaafkan. Padahal semua usaha telah Frans lakukan untuk mendapatkan maaf dari Rahma.
Tiara memang sudah mempersiapkan kata-kata tadi sejak lama. Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya. Menurutnya tadi adalah saat yang tepat karena Rahma sendiri yang memulai pembicaraan. Dia berharap Rahma mau membuka pintu hatinya dan berlapang da da menerima semua ini.
"Aku... aku sudah memaafkan Frans," ucap Rahma lirih.
"Iya, terus? Memaafkan belum tentu melupakan, begitu? Basi!" jawab Tiara sinis.
"Aku ingin minta maaf pada Frans!"
"Baguslah kalau Lo sudah sadar!"
"Bantu aku, please!" mohon Rahma sambil mengatupkan kedua tangannya di depan da da.
__ADS_1
"Lo masakin dia makan malam kesukaannya, atau Lo ajakin dia makan malam di luar. Terus minta maaf. Beres!" sahut Tiara acuh.
Tiara kesal sekali sehingga ingin mengerjai temannya itu. Walaupun Tiara manja, akan tetapi begitu bersama Dolly, sikap manjanya sedikit demi sedikit mulai terkikis. Dia dituntut bersikap dewasa oleh keadaan. Walau sebenarnya semua kata-kata yang terucap dari mulutnya hanya sebuah copy paste, setidaknya bisa membuka pintu hati Rahma.
"Katanya dia pulang malam, nggak usah ditunggu. Begitu pesannya tadi pagi." jujur Rahma.
"Nggak harus malam ini juga, Rahma! Bisa besok pagi Lo masakin makanan kesukaan dia terus Lo minta maaf. Atau Lo bisa buatin minum terus Lo antar ke kamarnya, habis itu minta maaf. Ck, begitu saja minta diajarin. Nilai cumlaude tapi hal kek gitu aja nggak bisa!" ejek Tiara dengan emosi yang hampir meledak karena Rahma tidak kunjung mengerti.
"Okelah kalau begitu! Terima kasih, Tiara. Kamu emang bestie yang paling mengerti!" kata Rahma sambil memeluk Tiara dari samping karena perut buncit Tiara menghalangi.
"Gue yang di depan Lo saat ini, makanya Lo bilang bestie, coba Vani yang di depan Lo. Pasti Lo juga bakalan bilang kalau dia bestie Lo!" sahut Tiara sewot karena merasa cemburu.
"Uluh-uluh... bumil cemburu nih ceritanya?" ledek Rahma.
"Iya, iya, kagak cemburu. Aku ke kamar dulu ya, met istirahat bumil!" pamit Rahma masih dengan tawanya.
*
*
*
__ADS_1
"Daddy dari mana?" tanya Agatha dengan posisi duduk tenang di sofa ruang tamu rumahnya.
Lampu di rumah itu hampir semuanya dipadamkan karena malam sudah larut. Pak Dewa yang baru saja pulang dari kantor dibuat kaget olehnya. Saat orang sudah terlelap, istrinya belum tidur.
"Tumben menungguku pulang?" sahut pak Dewa.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Dad!" kata Agatha menahan emosinya.
"Mau bicara apa? Katakan saja! Mau di sini, di ruang kerja atau di kamar?" cerca pak Dewa. Sepertinya dia tahu jika cepat atau lambat istrinya akan curiga.
"Daddy habis mengunjungi siapa tadi? Bukankah Daddy sudah pulang saat jam kantor selesai?"
"Daddy makan malam di rumah sahabat lama! Yah, semacam reuni 'lah!" bohong pak Dewa.
"Yang benar? Sebaiknya Daddy jujur atau aku hancurkan wanita itu!" ancam Agatha.
"Hancurkanlah jika itu membuat kamu puas. Sekali kamu berulah aku akan membalasnya berkali lipat." hardik pak Dewa.
"Daddy sudah berani melawanku? Ingat Dad, semua kemewahan yang kamu nikmati adalah harta orang tuaku!" teriak Agatha.
"Aku tidak akan melupakan itu! Tapi... kamu harus ingat, tanpa campur tangan dinginku. Perusahaan dan kemewahan yang kita nikmati ini tidak akan pernah ada. Jadi tidak usah mengancamku!" balas pak Dewa tidak mau kalah.
__ADS_1
"Sekarang yang harus kamu pikirkan, siapa ayah kandung Christie dan temukan dia sebelum perut anakmu mengundang perhatian teman sosialitamu!" imbuhnya sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.