Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 99


__ADS_3

Bu Sarifah merasa janggal dengan jawaban anaknya. Rahma adalah gadis yang cerdas, selama ini dia menjalani kuliah dan menjadi asisten dosen bukan masalah untuknya. Bahkan dia selalu semangat jika menghadapi jadwal yang bentrok.


Bu Sarifah tidak ingin mendesak anaknya untuk bercerita masalahnya. Saat ini Rahma sudah dewasa dan menikah, jadi bu Sarifah percaya jika Rahma bisa mengatasi masalahnya.


Sementara itu Frans sampai di kampus dengan waktu yang sangat mepet. Dia berlari menuju kelasnya agar tidak terlambat mengikuti kuis. Dengan nafas terengah-engah, Frans memasuki kelas yang ternyata sudah banyak mahasiswa yang duduk di dalam kelas tersebut.


"Hai, bro! Lama tidak tampak batang hidungmu. Kemana saja kamu?" sapa Jojo begitu Frans duduk di sampingnya.


"Gue nguli! Buat kasih makan anak orang." jawab Frans sekenanya.


"Cie yang nguli buat kasih makan anak bini! Sudah jadi belum?" kata Jojo sambil memainkan matanya.


"Belum. Do'ain aja, biar Frans junior sebentar lagi hadir!" jawab Frans yang tahu arah pembicaraan temannya itu.


"Eh, kok Gue gak lihat Chico ya? Sudah sebulan dia ngilang." tanya Jojo penasaran.


"Entahlah, gue sibuk kerja jadi nggak begitu merhatiin urusan orang lain," ujar Frans cuek.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa seorang dosen pria setengah baya dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi tapi gemuk.


"Pagi, Pak!" jawab para mahasiswa siswa serentak.


"Fokus kuliah, usah mikirin orang!" bisik Frans sebelum kuis dimulai.


*


*


*


Keadaan Rahma sudah membaik setelah Frans pergi meninggalkan rumah itu. Rahma berharap Frans tidak segera pulang karena akan memperparah sakitnya. Rahma sakit karena tindakan Frans tadi malam yang ingin tidur di kamar Tiara.


Rasa trauma itu kembali datang ketika Frans kembali menyentuh kulit Rahma di tempat tertutup. Sebenarnya sampai saat ini trauma itu belum hilang, akan tetapi Rahma menekan rasa takutnya. Mulai membiasakan berinteraksi dengan Frans, walaupun hanya bisa dilakukan di tempat terbuka.


Flash back on


"Sayang, Kakak bobok di sini boleh?" tanya Frans sambil masuk kamar Rahma tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


Rahma yang saat itu sedang mengganti baju untuk tidur terjengit kaget. Saat dia menoleh sudah ada Frans di belakangnya. Ada ketakutan di mata Rahma yang ditahan.


"Maaf, Kak. Lain kali saja ya? Malam ini aku harus menyiapkan materi untuk besok pagi," tolak Rahma.


"Satu malam saja. Janji nggak ngapa-ngapain. Cuma peluk aja, boleh ya? Ya?" rengek Frans seperti anak kecil yang minta dibelikan jajan.


"Rahma mohon, Kakak keluar." ucap Rahma lirih karena sudah ketakutan. Bahkan keringat sebiji jagung sudah mulai keluar di dahinya.


Frans bukannya keluar dari kamar itu, akan tetapi dia malah memeluk Rahma kemudian mencium bibir Rahma. Rahma melakukan penolakan karena rasa takut itu semakin menjadi. Rahma meronta dan melepaskan diri dari pelukan Frans. Badannya gemetar hebat.


"Maaf..." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Frans ketika dilihatnya sang istri sudah gemetar ketakutan.


"Aku akan keluar. Kamu tidak usah takut." Sebenarnya hati Frans sangat sakit melihat kondisi Rahma saat ini. Walaupun sudah dinyatakan sembuh, ternyata masih sering kambuh.


Dengan langkah gontai, Frans meninggalkan kamar istrinya itu.


Rahma masih gemetar ketakutan, dia mengunci pintu kamarnya. Kemudian merebahkan dirinya di kasur empuknya, rasa takut yang hebat membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Dia takut jika tidur nanti Frans masuk dan memeluknya.


Rahma tertidur ketika adzan subuh berkumandang.


Flash back off


"Bu, Rahma ngampus dulu, ya!" pamit Rahma pada ibunya yang sedang menyiapkan bahan masakan untuk makan siang di dapur.


"Lho, tadi katanya sakit. Kenapa sekarang sudah mau ngampus? Kamu sudah baikan?" cerca bu Sarifah sambil meletakkan sayuran di wastafel.


Bu Sarifah pun mendekati anaknya, kemudian meletakkan telapak tangannya di kening dan leher Rahma.


"Apa tidak lebih baik kamu istirahat dulu, hmm? Pekerjaan bisa kapan saja diselesaikan jika tubuhmu sehat." nasehat bu Sarifah.


"Rahma beneran sudah sehat, Bu. Sekarang Rahma kuliah dulu, ok! Daagh Ibu." ucap Rahma sambil berlalu begitu saja dari hadapan ibunya.


"Ck, anak ini memang keras kepala sekali!" gerutu bu Sarifah sambil kembali mendekati wastafel.


*


*

__ADS_1


*


Sebelum berangkat tadi, Rahma sudah menghubungi Vani dan Rio. Dia menanyakan tentang kuis tadi pagi. Ternyata kuis diundur Minggu depan karena dosennya berhalangan hadir. Walaupun kuis diundur, akan tetapi diganti dengan tugas yang harus segera dikumpulkan. Jadi mau tidak mau para mahasiswa harus segera menyelesaikan tugas tersebut.


Rahma langsung menuju perpustakaan, tadi mereka sudah janji bertemu di perpustakaan. Mereka akan mengerjakan tugas itu bersama-sama agar cepat selesai dan segera dikumpulkan.


"Serius amat yang mau nyusun skripsi." bisik Rahma saat sudah sampai di meja panjang kursi berisikan Vani dan Rio, dengan buku berserakan di meja tersebut.


"Lo ngagetin aja!" bisik Vani kesal.


"Hehehe!" Rahma hanya menjawab dengan senyum yang menampakkan giginya.


"Cepat bantuin kami! Nama Lo sudah masuk kelompok kami. Jadi Lo bantu ngerjain!" titah Vani bak tuan putri.


Rio hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Dia tetap melanjutkan mengerjakan tugas tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya.


Mereka bertiga mengerjakan tugas itu dengan konsentrasi penuh. Sehingga mereka tidak menyadari jika waktu sudah menunjukkan jam satu siang.


"Laper Gue!" ucap Rio sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. Dia tidak sadar jika saat ini masih berada di perpustakaan.


"Ssstttt!!!"


"Ups!" ujarnya lirih sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Dasar! Sudah pikun." ejek Vani.


"Sudah kelar nih, kita makan siang dulu, yuk!" ajak Rahma dengan bisik-bisik.


Mereka pun membereskan buku-buku yang tadi mereka ambil dari rak untuk referensi. Mereka mengembalikan buku pada tempatnya semula.


Setelah selesai, mereka langsung menuju kantin kampus.


Rahma tidak mengecek ponselnya, padahal banyak sekali panggilan dan pesan dari Frans. Ponsel dalam mode silent sehingga Rahma tidak mendengar jika panggilan dan pesan masuk. Bahkan Rahma lupa jika ponselnya dalam mode silent.


Mereka duduk membawa pesanan masing-masing. Sesaat setelah meletakkan makanannya, ponsel Rio bergetar. Rio langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari sahabatnya, Frans.


"Frans cariin Lo! Katanya Lo sudah berulang kali dihubungi tidak diangkat. Coba Lo hubungi dia, biar nggak gelisah!" kata Rio setelah selesai berbicara dengan Frans via ponsel.

__ADS_1


"Astaga, aku lupa! Ponselku dalam mode silent, jadi nggak tahu kalau bunyi." teriak Rahma ketika menyadari kelalaiannya.


Dia langsung membuka ponselnya dan menghubungi Frans.


__ADS_2