Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 81


__ADS_3

"Daddy kemana aja selama ini? Sampai apa yang terjadi pada anaknya tidak tahu. Terlalu sibuk dengan sugar baby-nya sampai lupa anak istri!" cerca Agatha pada suaminya.


"Jaga mulutmu, Agatha! Semakin hari, semakin kurang ajar kamu sama suamimu. Apa pantas semua itu keluar dari mulut kamu? Hah!" jawab pak Dewa tidak kalah emosinya.


Saat ini pak Dewa pulang ke rumahnya, rumah yang ditempati bersama istri sirinya selama belasan tahun. Di saat badannya butuh istirahat, istri keduanya mengajak ribut.


"Pantas katamu? Kamu mengatakan pantas tidak aku menanyakan keberadaan suamiku sendiri. Seharusnya kamu bertanya pada dirimu sendiri pantas tidak kelakuan kamu saat ini! Memelihara gundik seusia anakmu." balas Agatha terengah-engah.


"Gundik seusia anakku? Anakku katamu, anak laki-laki yang tidak bertanggungjawab yang menitipkan benihnya di perutmu maksudnya? Christie bukan anakku, dia anakmu dengan laki-laki lain. Seharusnya kamu bersyukur karena aku mau menikahi kamu!" jawab pak Dewa sambil berjalan menuju ruang kerjanya meninggalkan Agatha.


Agatha terkejut, ternyata apa yang ditutupinya sejak belasan tahun lalu, akhirnya terbongkar.


"Dia tahu dari siapa? Pasti ada yang membocorkan rahasia ini. Aku harus cari tahu siapa yang telah membocorkannya!" gumam Agatha lirih.


Agatha tidak menyangka bangkai yang ditutupnya dengan rapat bisa tercium oleh suaminya.


Sementara itu, di ruang kerjanya, pak Dewa sedang meredam emosinya. Dia tidak menyangka akan keceplosan mengatakan kebenaran siapa ayah kandung Christie.

__ADS_1


Beberapa bulan terakhir dia sudah curiga jika Christie bukan darah dagingnya. Wajah dan perangai Christie yang jauh berbeda dengan Dennis, membuat pak Dewa ingin melakukan tes DNA. Baru Minggu kemarin hasil itu keluar, ternyata memang benar dia anak Agatha tapi bukan darah dagingnya. Betapa kecewanya pak Dewa pada Agatha.


Menilik dari masa lalu mereka yang tiba-tiba menikah setelah keluar dari rumah sakit, pasti ada kejadian yang tidak beres. Pak Dewa mulai mengurutkan kejadian demi kejadian saat dia kecelakaan hingga menikah dengan Agatha.


"Sungguh licik kau Agatha! Menolong tapi sekaligus menjebak. Kenapa harus dia yang menolongku, Tuhan?" gumam pak Dewa dengan perasaan hancur.


Dia menelantarkan anak dan istri sahnya, hanya untuk membalas budi pada wanita ular seperti Agatha. Pak Dewa berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Perusahaan yang dipimpinnya adalah peninggalan mertuanya, orang tua Agatha. Itulah kenapa Agatha sering berbuat semaunya sendiri karena merasa dia pemiliknya, sedangkan pak Dewa hanya pekerja.


"Sebelum aku meninggalkan Agatha, aku harus bisa memindahkan sebagian hartaku atas nama Rahma. Tanpa kerja kerasku perusahaan ini tidak akan sebesar sekarang. Aku juga punya hak atas perusahaan ini, akan tetapi melihat sifat Agatha yang seperti itu. Aku harus segera menyisihkan bagianku, anggap saja gajiku selama bekerja di perusahaan." batin pak Dewa.


*


*


*


Tiara mengurungkan niatnya untuk segera pulang ke kota tempat tinggalnya. Dia masih ingin menemani sahabatnya yang terpuruk. Walaupun Dolly sudah memohon padanya untuk pulang, akan tetapi Tiara tetap kekeuh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Ingat, Doll! Bumil selalu menang dan benar. Jadi biarkan dia di sini, toh ada Frans dan ibu mertuanya yang akan menjaga Tiara," pesan pak Edward pada Dolly sebelum pulang ke kota tempat tinggalnya.


"Kenapa jadi begini sih? Elo sih Frans, bikin masalah aja!" gerutu Dolly menyalahkan adiknya.


"Iya, Gue salah!" aku Frans sendu.


Dia sebenarnya tidak ingin kejadian ini sampai terjadi. Apa daya semua sudah menjadi garis jalan hidupnya. Sejak awal merasa yang kurang beres dengan dirinya setelah meminum minuman dalam gelasnya, dia langsung menghindari perempuan. Tujuannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Saat dia akan masuk ke kamarnya mendinginkan diri, Rahma tiba-tiba hadir di depan matanya. Setan yang ada dalam dirinya pun telah berkuasa, sehingga terjadi malam pemerkosaan itu.


Frans selalu merutuki kebodohannya yang selalu mudah dibujuk untuk ke jalan sesat. Seandainya dari awal menolak ajakan Sheila ke club, pasti kejadian itu bisa dihindari. Akan tetapi kembali pada garis kehidupannya, dia hanya bisa menjalani.


Akhirnya Frans dan Tiara melepas kepulangan orang tua serta mertua mereka.


"Ma, kamu harus semangat untuk sembuh. Aku akan selalu berada di samping kamu. Kamu harus sembuh ya!" ucap Tiara dengan air mata menetes.


Maaf jika tidak dapat feel-nya, othor belum sehat betul. Kemarin habis berobat, semoga cepat sehat kembali dan bisa menyuguhkan bacaan yang menghibur juga bermanfaat 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2