
Tiara setiap hari menemani Rahma jika berada di rumah. Rahma sudah menjalani aktivitas seperti sebelum kejadian malam itu. Bahkan Rahma sudah tampak mengajar lagi, walaupun tidak sepenuhnya karena dosennya sudah standby.
Rahma sudah tidak takut lagi melihat Frans karena Frans tinggal satu rumah dengannya. Selama mereka tinggal bersama, Frans berusaha menghindari kontak langsung dengan Rahma. Jadwal kunjungan psikiater yang menangani Rahma pun sudah mulai berkurang. Dahulu setiap hari, kemudian tiga kali seminggu dan sekarang sudah seminggu sekali.
Rahma terus menunjukkan perubahan yang signifikan. Dia tidak mudah histeris lagi. Bahkan sudah mulai memasak. Ternyata dia tidak lupa menu kesukaan Frans, tanpa disadarinya dia memasak menu kesukaan Frans setiap hari. Frans yang merasa perhatian Rahma kembali seperti dulu, menjadi lebih tenang dan berharap pernikahannya berhasil menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri kek orang gila?" tegur Tiara ketika dilihatnya Frans makan sambil tersenyum.
Bagaimana tidak tersenyum bahagia, jika setiap hari menu kesukaannya terhidang di meja. Apalagi yang memasak dan menghidangkan adalah wanita pujaan hati.
"Emang kenapa kalau senyum, ada yang larang?" balas Frans tidak mau kalah.
"Dasar adik ipar laknat, ditanya baik-baik jawabnya kurang ajar!" gerutu Tiara kesal.
"Lo jangan kesel ma Gue, entar anak Lo mirip Gue. Mau?" sahut Frans lagi.
"Kalau mau berantem jangan di meja makan!" teriak Rahma ketika melihat mereka berdua yang tidak berhenti bicara.
__ADS_1
Sedangkan bu Sarifah memakluminya karena beliau sering melihat keduanya berantem.
Frans dan Tiara langsung menutup mulutnya rapat-rapat, ketika mendengar teriakan Rahma yang menggelegar. Padahal selama ini mereka tahu, Rahma adalah tipe wanita yang lemah lembut. Jika dia sudah bersuara kuat berarti ada yang tidak berkenan di hatinya.
Akhirnya mereka makan dengan diam. Hanya suara denting sendok dan piring saja yang terdengar.
Selesai sarapan, Frans berpamitan hendak bekerja. Dia pun mencium punggung tangan ibu mertuanya, setelah itu dia mendekati Rahma. Tanpa disuruh lagi oleh ibunya, Rahma pun mencium punggung tangan suaminya itu dan dibalas dengan kecupan di kening oleh Frans.
Rahma melakukan itu jika dihadapan ibunya saja. Jika ibunya tidak ada di dekatnya, Rahma pun bersikap acuh seolah-olah tidak ada Frans di dekatnya.
"Lo jangan terlalu benci, Ma! Sejatinya rasa benci dan cinta itu tidak berjarak. Gue dulu benci banget sama Bang Dolly, eh nggak tahunya sekarang Gue malah cinta mati sama dia," kata Tiara ketika mereka hanya tinggal berdua saja di dapur.
Bu Sarifah tadi hanya mengangkat piring saja, sekarang Rahma dan Tiara yang mencuci tumpukan piring tersebut.
"Aku nggak benci, hanya kecewa. Kenapa dia tidak menolak saat diajak ke Club. Padahal kita sudah janjian akan makan malam bersama di rumah. Dia batalin janjinya hanya untuk mabuk-mabukan. Kalau kamu jadi aku, bagaimana perasaan kamu?" jujur Rahma.
Rahma sedikit mulai sedikit sudah bisa menerima keadaannya. Untung saja kejadian malam itu tidak membuat dirinya hamil. Sehingga Rahma bisa tenang dan mulai menerima jalan hidupnya.
__ADS_1
"Iya sih, kecewa pakai banget 'lah! Dia janji ma siapa, pergi sama siapa. Dih, emang bikin kesel tuh anak!" sahut Tiara membenarkan ucapan Rahma.
"Eh, ngomong-ngomong! Lo hamidun nggak sih?" lanjutnya dengan pertanyaan kepo maksimal.
"Kagak?" jawab Rahma sambil tersenyum tipis.
"Yang bener? Berarti nggak tokcer dong dia!" ledek Tiara.
"Bukan tidak tokcer, kejadian itu pas bukan masa suburku. Dua hari setelah kejadian itu, aku kedatangan tamu bulanan. Bahkan bulan ini, aku juga sudah menerima tamu bulananku," jelas Rahma sambil mengelap tangannya setelah selesai mencuci piring.
"Oh, kirain nggak tokcer! Kami berulang kali melakukannya juga baru jadi." ujar Tiara tanpa sadar membuka aibnya.
"Hah?"
"Ups, keceplosan! Jangan ceritakan siapa-siapa ya! Malu deh." Tiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku belum ingin menikah, sebenarnya. Masih banyak mimpiku yang belum terwujud. Akan tetapi biarkanlah seperti ini dulu. Aku juga belum bisa sepenuhnya memaafkan, apalagi menerima. Memaafkan itu gampang tapi melupakan kejadian di malam itu yang susah." jujur Rahma lirih, tampak matanya mengembun menahan air mata yang akan jatuh ke pipi.
__ADS_1