
Agatha tercengang mendengar kata-kata suaminya.
"Apa maksudnya berkata seperti itu?" gumam Agatha.
Amarah yang dirasakan karena cemburu berubah menjadi kepanikan, kala pak Dewa sudah mengetahui Christie bukanlah anak kandungnya.
"Bagaimana ini? Dia sudah mengetahui jika Christie bukan darah dagingnya. Bisa-bisa dia meninggalkanku. Aduhh! Mikir Agatha! Mikir!" batin Agatha.
Agatha berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang gelap.
Di saat Agatha sedang memikirkan nasib pernikahannya, Christie baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat. Padahal waktu masih menunjukkan jam sebelas malam.
Ibu dan anak itu tidak sengaja bertabrakan karena pencahayaan yang redup.
"Ahh!" jerit Agatha terkejut karena telah menabrak seseorang hingga badannya terhuyung ke belakang. Agatha langsung menyalakan lampu yang kebetulan tombol saklar lampu berada tidak jauh dari jangkauannya.
"Arghh! Silau." gumam Christie tidak jelas sambil menutup matanya dengan sebelah tangan.
"Christie!" sentak Agatha menarik tangan Christie yang dipakai untuk menutupi matanya.
"Apa-apaan ini!" teriak Agatha ketika disadarinya Christie dalam keadaan mabuk.
Christie yang dibentak oleh ibunya hanya dijawab dengan cegukan, bahkan badannya sudah mulai condong hendak rubuh.
__ADS_1
Agatha langsung menyeret Christie menuju kamar anak tersebut. Setelah sampai di kamar, didorongnya tubuh Christie ke dalam kamar mandi hingga terjatuh tepat di bawah shower. Agatha dengan cekatan memutar kran, air pun keluar dengan setelan dingin.
"Mommy! Ampun Mommy, ma... tikan sa... luran airnya!" ucap Christie terbata.
Christie merasakan sakit pada bo kongnya yang membentur lantai saat di dorong oleh mommy Agatha. Christie juga kesusahan mengambil oksigen karena air dingin yang tiba-tiba mengguyur badannya.
Agatha mematikan saluran air setelah melihat anaknya menggigil kedinginan.
"Siapa yang mengajari kamu mabuk-mabukan, hah? Apa pernah kamu melihat Mommy atau Daddy mabuk alkohol?" Agatha kembali berteriak sambil menarik rambut Christie dengan emosi yang memuncak.
"Ti-tidak ada, Mom."
"Lalu? Apa ini? Apa yang kamu lakukan di luar sana?"
"Cepat ganti bajumu! Mommy akan menunggumu," perintah Agatha sebelum akhirnya meninggalkan Christie di kamar mandi.
Christie pun langsung membuka pakaiannya yang sudah basah, kemudian memakai bathrobe. Christie menemui mommy Agatha setelah memakai piyama.
"Mom!" panggil Christie sambil mengetuk pintu kamar orang tuanya. Tanpa menunggu lama, Christie pun masuk ke dalam kamar tersebut.
Tampak oleh Christie sang ibu yang duduk bersandar di sofa sambil memijit pelipisnya. Christie mendekati mommy Agatha, lalu duduk bersimpuh di kakinya.
"Maafkan Christie, Mom. Christie salah." Christie kembali memohon ampunan pada ibunya.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan ini, Christie? Apa yang kurang dari? Semua kami berikan untukmu dan adikmu. Bagi kami, kalian berdua adalah harta paling berharga kami. Tapi... apa yang kamu lakukan sungguh membuat Mommy kecewa."
"Apa yang kamu minta, pasti kami akan berusaha memenuhi walaupun kadang tidak masuk akal. Apa kami pernah membedakan antara anak laki-laki dan perempuan? Jangan sampai Dennis mengikuti jejakmu ini!" ucap mommy Agatha panjang dan lebar.
Christie hanya terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut ibunya. Dia diam karena merasa bersalah dan menyesal.
"Mulai malam ini, semua fasilitas kamu Mommy sita. Kamu pergi dan pulang kampus diantar sopir, selain itu kamu dilarang keluyuran ke manapun. Semua kartu akan Mommy batasi pemakaiannya!" imbuh Agatha setelah tidak ada jawaban apapun dari Christie.
"Jangan, Mom. Nanti kalau Christie ada tugas kuliah gimana dong? Masak tugas kelompok juga gak boleh." protes Christie akhirnya.
"Kalian bisa mengerjakan tugas kuliah bersama-sama di rumah ini. Kenapa dibuat ribet?" jawab mommy Agatha.
"Sudah, kamu tidak usah banyak protes. Apa yang menjadi keputusan Mommy tidak bisa diganggu gugat!" tegas Agatha sambil berdiri dari duduknya.
Christie hanya bisa pasrah atas hukuman yang diberikan oleh mommy Agatha padanya. Selama ini mommynya selalu memenuhi semua keinginannya dan sekarang dia tidak mungkin lagi merengek. Mau meminta tolong ke daddy-nya pun tidak mungkin karena mereka tidak sedekat itu.
Dengan langkah gontai, Christie meninggalkan kamar orang tuanya. Mommynya hanya tahu dia mabuk saja sudah begitu marah, apalagi jika tahu dia hamil tanpa tahu siapa yang menghamilinya.
"Hhh!" Christie menghela nafasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak memikirkan kehamilannya.
Chico tidak mau menemui dirinya ataupun Sheila. Bahkan dia dan Sheila tadi sore nekat mendatangi tempat tinggalnya. Akan tetapi, Chico ternyata sudah pindah kos-kosan.
Sheila pun sudah menyerah karena Chico tidak satu jurusan dengannya di kampus. Sheila dan Christie di fakultas ekonomi sedangkan Chico di fakultas tehnik. Mereka memang satu kampus tapi berbeda blok. Jadi kemungkinan bertemu kecil jika tidak membuat janji terlebih dahulu.
__ADS_1