
Rahma mengantarkan teh madu ke kamar Frans setelah selesai membuat.
"Kak!" panggil Rahma sambil mendorong pintu kamar Frans yang tidak tertutup rapat.
Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi begitu Rahma berada di dalam kamar tersebut. Rahma meletakkan teh madu buatannya di atas meja kerja sekaligus meja belajar.
Saat Rahma berbalik, Frans kebetulan keluar dari kamar mandi. Frans menggunakan handuk yang lebarnya hanya untuk menutupi aset berharganya saja.
"Aaa!" pekik Rahma sambil memejamkan matanya karena terkejut melihat penampilan Frans saat ini.
Frans hanya mengulum senyum melihat istrinya menjerit.
"Tumben masuk kamar ini. Ada apa, hmm?" tanya Frans berjalan mendekati Rahma.
"Aku mengantarkan teh madu untukmu," jawab Rahma masih dengan mata terpejam dan jari menunjuk ke meja kerja yang ada di kamar itu.
Frans pun menoleh ke arah dimana tangan Rahma menunjuk. Kemudian berjalan mendekati meja itu dan mengambil cangkir berisi teh madu tersebut.
"Terima kasih." jawab Frans langsung menyeruput teh tersebut tanpa mengenakan pakaian terlebih dahulu.
"Aku keluar," ucap Rahma sambil menggeser kakinya bersiap keluar dari kamar itu. Matanya masih terpejam, sehingga langkahnya pun tertatih.
Saat Rahma mulai mempercepat langkahnya, dia tidak sengaja menabrak Frans. Frans langsung memeluk istrinya agar tidak terjatuh.
"Arghh!" jerit Rahma karena terkejut.
__ADS_1
"Makanya kalau jalan dibuka matanya!" ujar Frans sambil menyentil dahi Rahma.
Rahma pun menggeser posisinya agar menjauh dari Frans. Bukan menjauh tetapi malah tangannya tidak sengaja menyentuh perut Frans. Wajah Rahma semakin memerah saat tangannya tidak sengaja menyentuh perut sixpack suaminya.
"Boleh kok menyentuhnya. Meraba dan merasakan juga boleh!" ledek Frans dengan senyum terkulum. Jangan lupakan tangannya yang nakal memegang tangan Rahma dan mengarahkan ke perutnya.
Rahma langsung menarik tangannya kemudian memukul da da Frans berulang kali. Akan tetapi Frans hanya terkekeh geli melihat tingkah istrinya, tanpa melepaskan pegangan.
"Cepetan pakai bajunya! Sudah ditunggu Ibu untuk makan malam." kata Rahma ketus setelah lelah memukul da da bidang suaminya.
Frans akhirnya melepaskan tangan istrinya yang tadi dipegangnya dengan lembut.
"Iyaa, aku pakai baju dulu. Jangan keluar dulu, tunggu di sini aja!" sahut Frans jahil.
Tanpa mereka sadari jika Tiara menyaksikan bagaimana Frans dan Rahma tadi selama di dalam kamar Frans. Tiara hanya mengulum senyum bahagia melihat interaksi kedua temannya itu.
"Semoga kalian berdua bisa menua bersama, berbagi suka dan duka. Aku tahu kalian berdua sama-sama saling mencintai, hanya ego kalian terlalu tinggi untuk mengakui." batin Tiara sambil meninggalkan tempat dimana tadi dia mengintip sepasang suami istri itu.
Frans akhirnya ikut bergabung di meja makan.
"Lama banget! Nggak tahu orang sudah kelaparan juga." omel Tiara begitu Frans duduk di samping Rahma.
"Lima menit aja lama? Kalau sudah lapar kenapa tidak makan duluan? Dasar bumil!" gerutu Frans.
"Sudah! Kalian kebiasaan ribut di meja makan." lerai bu Sarifah.
__ADS_1
Rahma dengan sigap mengambilkan nasi beserta sayur dan lauk pauknya untuk Frans. Tidak lupa ia juga menuangkan segelas air putih lalu diletakkan di dekat piring suaminya itu.
Mereka makan malam dengan tenang, hanya terdengar suara denting sendok dan piring yang beradu. Di saat mereka sedang menikmati makan malam bersama, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di halaman.
Rahma pun mendongakkan kepalanya melihat Frans, kemudian beralih pada ibunya dan Tiara. Sesaat mata mereka saling tatap dan hanya mengangkat kedua bahu masing-masing, tanda sama-sama tidak tahu.
Bu Sarifah yang terlebih dahulu menghabiskan makannya pun berdiri, untuk melihat siapa yang datang.
"Lanjutkan makan kalian, biar Ibu yang melihat. Ibu sudah selesai makan!" tegas bu Sarifah.
Mereka bertiga mengangguk dan melanjutkan makan malam mereka masih dengan keheningan.
"Ekhem... Frans bisa ngomong sebentar?" ucap Rahma begitu selesai makan.
"Ingat kata Ibu, nggak boleh panggil suami dengan nama saja!" sindir Tiara tanpa melihat ke arah Rahma maupun Frans.
"Kamu pergi aja deh! Sudah selesai ini makannya." usir Frans pada Tiara.
"Enak aja Lo ngusir Gue! Belum kelar Gue makannya." jawab Tiara tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.
"Diem kalau nggak mau pergi!" ketus Frans kesal.
"Mau ngomong apa? Kalau tidak mau diganggu kita ngobrol di kamar atau teras belakang saja," lanjut Frans kemudian pada Rahma.
"Ke kamar aja kalian, sana!" Tiara balik mengusir Frans.
__ADS_1