Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Tetap bersyukur


__ADS_3

"Alhamdulillah ya nak karya kamu diminati, Bapak bangga sama kamu semoga ini jadi awal keberhasilan kamu" ucap Pak Jamal


"Aamiin, iya Pak mudah-mudahan. Pak gimana kalau warungnya di pindahkan aja jadi menyatu sama toko kan nanti warungnya jadi rame. Orang-orang selain membeli hiasan, mereka juga bisa membeli makanan sama Bapak"


"Tapi nak, kurang pas sepertinya kalau toko kelontongan menyatu sama toko kerajinan. Mungkin lebih cocok makanan siap saji atau cafe anak-anak muda. Kalau itu lebih cocok"


"Iya juga sih Pak"


"Sekarang satu-satu aja dulu, kamu fokus sama kerajinan kamu dulu. Buat banyak karya-karya yang banyak dan bagus, semoga sukses ya nak !"


"Aamiin, iya Pak kalau gitu"


"Teman-teman nanti kita kerjanya pindah !"


"Pindah kemana Yas ?" tanya Arya


Saat tadi kita lagi ngobrol-ngobrol, teman-teman ku dan anak-anak tidak tau soal ini semua karna kita ngobrolnya di dalam rumah.


"Tadi Pak Rudi menawarkan ruko, alhamdulilah nanti kita bisa kerja di sana sambil memamerkan karya seni yang sudah jadi. Tenang saja kalian juga akan dapat keuntungan yang menjanjikan, untuk anak-anak kalian bisa menempati ruko nya kalian bisa menginap jadi jangan tidur di jalannya lagi ya !"


"Beneran kak ? Tanya Dian


"Iya, do'kan Kakak ya biar usahanya lancar !"


"Asiiiiiikk iya Kak" anak-anak terlihat bahagia


"Alhamdulillah Yas aku senang mendengarnya, usaha kamu selama ini membuahkan hasil" ucap Arya


"Keren Yas, kita bisa makan-makan dong ! Sahut Jefri

__ADS_1


"Wih mantap sekarang Ilyas jadi pengrajin sukses" ucap Arif


"Ah belum sukses, bukan aku tapi kita. Kita semua sama-sama jalankan usaha ini, semoga saja usahanya lancar nanti kalian bisa membeli apa saja yang kalian mau sebagai hadiahnya"


"Alhamdulillah denger nya aja sudah seneng Yas, kalau aku gak minta apa-apa lihat teman kita sukses aja itu sudah cukup" ucap Adin


"Iya benar, kamu fokus menjalankan usahanya. Semoga kedepannya lancar tidak ada hambatan apapun" Ucap Tomi


"Iya tapi usaha ini kita bangun bersama jadi kalian juga harus menikmatinya. Kita bagi hasil, semuanya atas bantuan kalian juga"


"Kita cukup di bayar yang biasa aja Yas, kan idenya juga kamu yang buat. Semua kerajinan ini kamu yang buat kita cuma membantu aja, ini rezeki kamu Yas" ucap Arya


"Iya Yas jangan berlebihan, secukupnya saja mending kamu kasih sama orang tua kamu" ucap Dimas


"Makasih ya kalian memang sahabat terbaik, tapi kali ini jangan ditolak nanti kita makan-makan. Oh ya dek bawa teman-teman kamu yang lainnya kesini, ajak mereka untuk makan !"


Setelah selesai sholat isya kami semua makan bersama, anak-anak jalanan ikut berkumpul. Aku senang bisa berbagi dengan mereka, aku lihat meraka begitu bahagia saat menikmati makanan. Setelah selesai makan, kita ngobrol-ngobrol dan menawarkan mereka untuk bekerja bersamaku. Hingga setelah itu mereka pulang dan teman-teman ku juga pulang. Aku masih merasa semua ini seperti mimpi, saat sholat tahajud aku mengucapkan rasa syukurku kepada Allah SWT. Allah telah begitu baik dan selalu memberikan aku kebahagiaan yang tak terkira, rasanya benar-benar seperti mimpi, uangnya sendiri sebagian aku kirim ke Ibuku, sebagian lagi aku berikan pada teman-teman dan anak-anak. Tanpa sepengetahuan ku, Pak Ardi dan Pak Rudi mengirimkan uang katanya sebagai uang muka pembuatan kerajinannya. Beliau mengatakan, jika pembuatannya itu bahan dasarnya dari batang pohon jadi mungkin batang pohonnya harus beli. Memang benar, batang pohonnya tidak akan selalu ada dan terbuang aku harus membelinya khusus. Tapi jadinya tidak enak karna barangnya sendiri belum aku buat.


Alhamdulillah dari hasil, hiasan batang pohon dan kerajinan tangan, rumah dan toko sudah kembali di miliki. Ayah dan Ibuku kembali menempati rumahnya, aku mengumpulkan anak-anak jalanan, bukan hanya memberikan pekerjaan yang layak dan bermanfaat tapi aku juga mengajarkan mereka menulis dan berhitung. Kasihan mereka tidak ada yang sekolah, andai aja aku punya banyak uang, ingin aku sekolahkan mereka semua. Esok harinya sepulang dari sekolah, aku ingin pergi ke tempat tinggalnya Dian dan teman-temannya, aku pergi sendirian teman-teman ku tidak ada yang tau mereka tau nya aku pergi ke toko. Saat tiba di kolong jembatan, aku melihat tempat tinggal mereka yang terbuat dari kardus dan kayu bekas yang di susun tanpa ada atap. Aku benar-benar kasihan sama mereka, kalau gak ada jembatan mungkin akan kehujanan dan kepanasan. Aku lihat ada orang yang sedang tidur, aku mencari keberadaan Dian. Hingga tak berapa lama dia datang membawa karung.


"Kakak... !"


"Dek, kamu habis nyari barang bekas ?"


"Iya Kak seperti biasa"


"Mulai sekarang jangan terlalu lama ya, kamu jangan panas-panasan terus, kan sekarang sudah kerja bersama kakak"


"Iya Kak, ini aku nyari botol plastik bekas untuk kakak !" sambil memperlihatkan botolnya

__ADS_1


"Wah banyak juga ya, kakak ikut kamu nyari botol bekas boleh ? pengen tau juga kamu kerjanya gimana ? Oh ya ko Kamu sendirian ?"


"Teman-teman ku masih nyari barang bekas Kak, boleh aja sih Kak kalau mau ikut tapi apa kakak gak capek ? kan kakak baru pulang sekolah"


"Gak apa-apa sekalian kita pergi ke ruko, oh ya kamu sudah makan ?"


"Belum Kak"


"Yaudah nanti kita makan, tapi yang lain belum pada datang ya tapi nanti mereka akan pergi ke ruko kakak kan ?"


"Pasti kak, mereka habis nyari barang bekas akan langsung pergi ke ruko kakak"


"Ok kalau gitu, ayo kita langsung pergi !"


"Ayo Kak"


Aku dan dian pergi menyelusuri kota, aku menemaninya mencari botol bekas. Dengan begini, aku bisa tau mereka bekerja. Aku sendiri dulu bekerja seperti ini, aku menjual koran dan pernah menjual kue. Aku tau gimana rasanya, dulu saat bekerja saat umurku 7 tahun. Aku bisa merasakan betapa perihnya hidup, tapi aku masih beruntung karna aku punya tempat tinggal, kedua orangtua dan masih bisa sekolah. Maafkan aku ya Allah, aku pernah mengeluh dan ternyata ada yang lebih kurang beruntung dibandingkan aku. Setelah mencari barang bekas, kita pergi ke warung makan aku mengajak Dian untuk makan. Aku sendiri membungkus makanan untuk Pak Jamal, teman-temanku dan anak-anak lainnya. Aku punya keinginan ingin membuat rumah untuk mereka, agar mereka tinggal di tempat yang layak.


"Kak, beli makannya banyak banget ?"


"Untuk teman-teman kamu dan teman Kakak juga"


"Makasih ya Kak"


"Sama-sama dek, habiskan makan nya ! Mau nambah lagi gak ?"


"Enggak Kak, aku sudah kenyang"


Setelah selesai makan, kita langsung pergi ke ruko. Kita membawa makanan untuk mereka, pasti mereka belum pada makan.

__ADS_1


__ADS_2