
Kondisi Bu Yanti mengalami lebam di mukanya, banyak luka memar di tubuhnya, tega sekali Sandi menyakiti Ibunya sendiri. Aku dan teman-teman menjaga Bu Yanti di rumah sakit, aku menghubungi Pak Jamal dan beliau datang menjenguk. Aku tidak mengerti gak ada satupun keluarganya yang datang, kata Bu Yanti setelah kemarin mengalami musibah, semua kerabatnya menjauh tidak ada satupun yang peduli. Ternyata memang benar jika sedang di atas yang tidak kenal juga mendadak jadi sodara lawan jadi teman tapi sebaliknya jika semuanya hilang mereka akan menjauh. Dengan begitu kita jadi tau mana orang yang benar-benar teman, dia tidak akan meninggalkan kita walaupun hidup kita sedang susah. Esok harinya Bu Yanti diperbolehkan untuk pulang tapi aku bingung karna beliau di rumahnya sendirian tidak ada yang merawat. Sementara Sandi gak tau entah kemana, sejak kemarin dia belum ada kabarnya.
"Bu apakah tidak ada sodara Ibu yang lain ?" tanya Pak Jamal
"Tidak ada Pak, mereka semua menjauhiku setelah musibah kemarin"
"Sebenarnya bisa jika Ibu untuk sementara ini tinggal di rumah saya, tapi apa kata orang lain karna status kita..
"Iya Pak saya mengerti, saya tidak mau merepotkan orang lain saya tinggal di kontrakan saja, insyaallah saya bisa"
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kami ya Bu ?" ucapku
"Iya nak terima kasih, sudah terlalu banyak nak Ilyas menolong Ibu"
Kita mendorong Bu Yanti yang duduk di kursi roda, hari ini Bu Yanti boleh pulang. Kasihan beliau lagi sakit gini hidup sendirian, saat kita semua berjalan ada pasien yang di bawa oleh blankar. Sepertinya korban kecelakaan, orang itu berteriak-teriak aku ngeri karna badannya bersimbah darah.
"Bukannya itu Sandi ?" ucap Adin
"Masa sih ?"jawabku
"Sandiiiiiiiiii...... Bu Yanti langsung berdiri dan mengejar blankar itu
Kita semua ikut melihat dan ternyata benar itu Sandi, kondisinya sangat mengenaskan.
"Ibuuu.... sakit Bu..... " Sandi menangis
"Kamu yang sabar nak, kamu akan baik-baik saja"
Kemudian Sandi langsung di bawa ke dalam ruangan, kita menunggunya di depan.
"Sus anak yang tadi kenapa ?" tanyaku pada suster
"Korban kecelakaan dek, dia tertabrak truk katanya di kejar warga karna ketahuan menjambret tas milik seorang Ibu"
__ADS_1
"Astaghfirullah, kenapa kamu nekat seperti ini nak ? Maafkan Ibu, hidup kita jadi seperti ini" Bu Yanti terus menangis
Aku sangat prihatin melihat kondisinya, belum juga selesai masalah Ayahnya, kini Ibu dan anaknya sakit. Semoga mereka diberikan ketabahan dan kesabaran, aku sangat sedih melihat mereka. Walaupun Sandi beberapa kali menjahiliku tapi aku sudah memaafkan semua perbuatannya. Allah saja maha pemaaf, apalagi aku yang cuma manusia biasa. Setelah beberapa jam kemudian, kita semua melihat kondisi Sandi. Aku sangat kaget dan sedih melihat kondisinya, kedua tangan dan kakinya di amputasi. Aku sungguh tak sanggup melihatnya, kasihan Sandi nasibnya jadi seperti ini. Kemudian dia mulai siuman dan Ibunya duduk di sebelahnya sambil menangis.
"Nak, kamu sudah sadar syukurlah. Kamu harus banyak istirahat"
Saat Sandi akan bergerak, dia baru sadar kalau kedua tangan dan kakinya tidak ada.
"Mana tangan dan kaki ku ? Apa yang terjadi ? Ibuuuuuuuu kenapa ini Bu ? Mana tangan dan kaki Sandi ?" Sandi histeris dan berteriak
"Kamu yang sabar nak, ini semua cobaan dari Allah kamu harus tetap tabah"
"Enggak-enggak aku gak mau, tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk... !"
Aku benar-benar gak kuat melihatnya, Ibunya memeluk Sandi. Dia terus berontak dan mengamuk, hingga perlahan dia mulai tenang kemudian tertidur. Karna aku sendiri punya kerjaan dan harus sekolah, kita semua pulang. Ibunya setia merawat Sandi, aku sudah membayar semua biaya rumah sakitnya. Aku benar-benar tidak menyangka akan seperti ini, aku kembali melanjutkan aktivitas ku.
Singkat waktu beberapa bulan alhamdulilah usahaku semakin lancar, kalau gak ada teman-teman ku aku tau gimana. Sejak saat itu Sandi kecelakaan, dia tidak mau melanjutkan sekolah kasihan dia seakan semangat untuk hidup sudah padam. Ibunya Sandi bekerja di tempatku, sebenarnya aku tidak mau mempekerjakannya karna aku merasa tidak enak tapi Bu Yanti terus memaksa. Akhirnya beliau bekerja di tempatku, Sandi menunggu di kontrakannya. Kondisi keluargaku sendiri tidak sedang baik, Ibuku akhir-akhir ini sedang sakit karna dia belum bisa menerima kenyataan yang terjadi. Ibu jarang mau makan, dia tidak pernah mau keluar dari kamar selalu saja mengurung diri di kamar. Ayah sangat khawatir dengan kondisi Ibu, aku tidak tau gimana caranya agar Ibu bisa berubah dan menyadari kesalahannya. Ibu masih tetap sama, yang dia pikirkan hanya barang-barangnya saja. Dia tidak mau barang-barang yang telah dia beli di jual. Padahal tidak mungkin lagi bisa di pakai, seperti sepatu, sandal dan beberapa pakaian lainnya. Hingga kemudian ada telpon dari Ayah
"Wa'alaikumsalam" suara Ayah lirih seperti menangis
"Ayah ada apa ?"
"Kamu sedang sibuk ?"
"lagi ngerjain pesanan sih tapi sebentar lagi beres, ada apa Yah ?"
"Kamu kesini ya Bapak tunggu !"
"Iya Yah, tapi ada apa Yah ?"
"Kamu kesini dulu"
"Yaudah Yah aku kesana sekarang"
__ADS_1
Aku gak tau ada apa, yang jelas perasaanku gak enak. Aku simpan dulu pekerjaan yang belum aku selesaikan, aku bersiap-siap untuk pergi.
"Din, aku mau pulang dulu ya Ayah nyuruh aku pulang gak tau ada apa"
"Yasudah Yas, kamu pulang dulu aja takutnya penting"
"Iya, kasih tau yang lain ya aku pulang dulu"
"Ok Yas, kamu hati-hati"
Perasaanku rasanya gak tenang, aku langsung segera pergi. Anehnya aku tidak bisa melihat sesuatu yang terjadi, biasanya aku bisa melihat dan mengetahuinya. Hingga kemudian aku telah sampai di rumah, suasana rumah ku sangat ramai sekali banyak orang berkumpul. Dari raut wajahnya seperti sedih, aku cepat-cepat masuk kedalam. Aku melihat seseorang berbaring di ruang tengah seluruh tubuhnya di tutupi oleh kain. Seketika seluruh tubuhku terasa dingin rasanya aku tidak sanggup untuk berdiri. Ayah dan Agus sedang duduk di sebelahnya menangis, aku langkahkan kakiku yang terasa sangat berat. Perlahan aku duduk di sebelahnya, aku buka perlahan kain yang menutupi wajahnya. Seluruh aliran darah ku rasanya membeku, aku tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.... !" aku memeluknya sambil menangis tersedu-sedu
Rasanya seperti mimpi, Ibu pergi meninggalkanku. Ayah menenangkanku, aku tidak bisa menahannya aku terus menangis tanpa henti. Hingga kemudian Ibu di mandikan kemudian segera di kuburkan, kita mengantarkannya sampai ke peristirahatan terakhir.
"Kamu yang sabar nak, Ibu kamu sudah tenang di alam sana"
"Iya Yah, aku akan mencoba ikhlas. Awalnya gimana Yah Ibu seperti ini ?"
"Setiap hari kan Ibumu selalu mengurung diri di kamar, paling Ayah masuk untuk memberikan makan dan kalau mau ke kamar mandi di antar Agus. Siang tadi saat Ayah memberikan makan, Ibu terus menutup matanya Ayah kira sedang tidur. Tapi wajahnya sangat pucat, setelah Ayah periksa ternyata Ibu sudah tidak ada. Padahal tadi pagi tidak apa-apa, Ayah masih memberikan sarapan. Setelah itu Ayah langsung menghubungi kamu, sengaja Ayah tidak bilang takutnya kamu kenapa-kenapa di jalan"
"Innalilahi, aku tau ini sudah takdir tapi aku merasa berdosa Yah. Selama ini aku dan Ibu tidak pernah baik, aku ingin sekali bisa merasakan kasih sayang Ibu, aku ingin seperti yang lainnya tapi ternyata selamanya aku tidak akan pernah merasakan kasih sayang dari Ibu. Apakah Ibu tidak pernah menyayangiku ? Begitu bencinya Ibu padaku. Tapi aku tidak pernah sedikitpun membencinya, semoga Ibu tenang di alam sana"
"Aamiin, dalam hati kecilnya Ibumu pasti sayang sama kamu, tidak ada seorang Ibu yang membenci anaknya"
"Iya Yah, apa Yudi sudah mengetahuinya Yah ?"
"Belum nak, nanti akan Ayah kasih tau. ayo sekarang kita pulang !"
"Iya Yah"
Kehilangan seorang Ibu begitu sangat sedih, walaupun aku tidak pernah merasakan kasih sayangnya tapi aku yakin Ibu pasti menyayangiku. Semoga Ibu tenang di alam sana, aku akan selalu mendo'akan Ibu.
__ADS_1