Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 97


__ADS_3

Pak Dewa sampai di rumahnya setelah menempuh perjalanan setengah jam. Tampak semua lampu utama sudah berganti dengan lampu yang lebih redup.


Pak Dewa langsung menuju kamar Dennis begitu sampai. Dilihatnya Dennis masih belajar, padahal sudah lebih jam sembilan malam.


"Kenapa belum tidur, hmm?" tanya pak Dewa pada anak laki-laki satu-satunya itu.


"Nungguin Daddy pulang. Daddy kemana saja sudah seminggu lebih tidak pulang?" cerca Dennis.


"Maafkan Daddy, Nak! Daddy terlalu sibuk sehingga abai padamu," jawab pak Dewa.


"Sibuk dengan wanita lain, pengganti Mommy?"


"Tidak. Bukan itu, Son! Daddy tidak pernah mencari wanita pengganti. Daddy benar-benar sibuk akhir-akhir ini."


"Saking sibuknya dengan wanita lain, sehingga abai pada anak-anaknya. Apa Daddy tahu, jika saat ini Christie dalam keadaan koma?"


"Tahu, sangat tahu! Bahkan dia setiap malam ke club pun Daddy tahu. Seandainya dia bisa diatur, kejadian ini tidak perlu terjadi. Kalian berdua masih muda, jalan kalian masih panjang. Masa depan kalian berada di tangan kalian sendiri. Jika kamu lebih memilih merusaknya sedari awal, maka kamu akan kehilangan masa depanmu lebih cepat dari pada membalik telapak tangan!" Pak Dewa pergi dari kamar anaknya begitu saja setelah berkata demikian.


Dennis semakin kecewa dengan sikap ayahnya. Dia berpikir sang ayah sudah berubah karena menemukan wanita pengganti ibunya. Tanpa dia ketahui masalah yang terjadi sejak dia belum ada hingga kini.


Dennis lahir setelah Agatha dan pak Dewa dua tahun menikah. Saat ini dia duduk di bangku SMA kelas XI. Dennis lebih dekat dengan ayahnya sejak kecil. Akan tetapi semenjak pak Dewa mengetahui jika Christie bukan darah dagingnya, pak Dewa lebih memilih tinggal terpisah dari mereka.

__ADS_1


"Siapa wanita yang telah merebut Daddy dari Mommy? Kenapa Daddy cepat sekali berubah, bahkan langsung meninggalkan rumah ini?" monolog Dennis.


Sementara itu, pak Dewa berada di ruang kerja sedang memikirkan cara untuk mengakhiri pernikahannya dengan Agatha, tanpa melukai perasaan anaknya. Dennis masih labil, sehingga dengan mudah dia akan mudah terpengaruh dengan bujukan siapa pun. Oleh karena itu, pak Dewa berencana menceritakan semuanya pada Dennis. Hal ini dilakukan agar Dennis bisa mengerti.


Pak Dewa akhirnya memutuskan kembali ke kamar Dennis. Dia harus segera menjelaskan semua yang terjadi sebenarnya pada anak laki-laki satu-satunya itu.


"Den, boleh Daddy masuk?" tanya pak Dewa sambil membuka pintu kamar Dennis.


"Mau apalagi, Dad? Apa perempuan itu tidak mau membuka pintu rumahnya karena Daddy pulang terlambat?" cibir Dennis.


"Ada yang tidak kamu ketahui, Dude! Daddy akan menceritakan semuanya agar kamu bisa mengambil kesimpulan, siapa yang salah."


"Aku meninggalkan anak dan istri di kampung sebuah kota kecil untuk merantau di ibu kota. Dua bulan di ibu kota, terjadilah kecelakaan itu. Kecelakaan karena ada sabotase seseorang yang tidak menyukaiku. Menjadi tangan kanan dari seorang pemilik perusahaan besar, tidaklah mudah. Banyak yang menginginkan posisi itu, bahkan tidak sedikit orang menggunakan cara licik."


"Kamu tahu saat kecelakaan itu tidak ada satu orang pun dari perusahaan mencari aku? Mereka mengira aku meninggal di tempat. Keadaan mobil yang terbalik dan terbakar, membuat mereka berasumsi jika jasadku menjadi abu. Padahal saat mobil terbalik aku terlempar keluar dari mobil dan terjatuh di pinggir sungai. Agatha menemukan aku tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala penuh darah."


"Daddy mengalami kecelakaan yang hebat waktu itu, sehingga mengakibatkan amnesia disosiatif atau amnesia pasca trauma. Daddy lupa semuanya, bahkan Daddy lupa siapa nama Daddy. Keadaan Daddy dimanfaatkan oleh Agatha dan keluarganya. Mereka mengarang cerita, jika kami sudah menikah. Saat itu Agatha dalam keadaan hamil. Mereka mengatakan anak yang dikandung Agatha adalah anakku."


"Dengan alasan amnesia, mereka memaksaku menikahi Agatha. Mereka mengatakan aku harus menikah ulang agar pernikahan kami sah. Akhirnya dengan berat hati karena merasa berhutang budi, aku menikahi Agatha secara siri. Akan tetapi aku saat itu aku belum mencintai Agatha. Hingga bayi dalam kandungan itu terlahir, aku tidak pernah menyentuh Agatha."


"Aku merasa heran, jika itu anakku, darah dagingku, kenapa tidak ada kemiripan kami sema sekali. Sehingga semakin meyakinkan kecurigaanku. Akan tetapi saat itu aku tidak pernah berpikir jika mereka tega menipuku. Aku terus mencoba mengingat masa laluku. Mendatangi tempat terjadinya kecelakaan hampir setiap hari, tapi tidak memberikan hasil."

__ADS_1


"Setiap malam aku selalu bermimpi, melihat seorang anak perempuan kecil digendong ibunya menangis minta kugendong. Akan tetapi begitu tanganku terulur, bayangan ibu dan anak itu hilang. Kamu tahu siapa mereka? Mereka adalah anak dan istriku yang sebenarnya!"


"Lalu, aku anak siapa?" potong Dennis dengan perasaan hancur.


Pak Dewa menghentikan ceritanya karena intrupsi dari Dennis.


"Tentu saja kamu anak Daddy!" jawab pak Dewa menepuk bahu Dennis.


"Lanjutkan cerita Daddy, aku akan mendengar cerita itu sampai kejadian hari ini. Tepatnya malam ini!" pinta Dennis datar.


"Oke, Daddy akan melanjutkan cerita itu agar semuanya tampak jelas! Setelah setahun menikah, aku tetap tidak bisa mengingat masa laluku. Aku pun memutuskan untuk membuka hatiku untuk menerima Agatha sebagai istri. Oleh karena itu kamu ada, kamu anak Daddy dari pernikahan dengan mommymu. Kamu tidak usah meragukan itu!" jawab pak Dewa sambil kembali menepuk pundak Dennis.


Mata Dennis berkaca-kaca mendengar cerita ayahnya. Dia merasa terharu ternyata dia anak kandung kedua orang tuanya.


"Pernikahan kami berjalan seperti biasa, walaupun dalam hati kecilku tidak bisa mencintainya. Ternyata cinta tak dapat dipaksakan. Dengan alasan menjalankan kewajiban sebagai seorang suami, aku tetap bertahan dalam pernikahan sandiwara ini!" tegas pak Dewa, dia tidak bisa lagi menutupi perasaannya.


"Beberapa bulan yang lalu, Daddy bertemu dengan seorang anak gadis yang membutuhkan pertolongan. Aku menolongnya, gadis itu melihat wajah Daddy. Kamu tahu apa yang terucap dari mulut gadis itu? Ayah! Dia memanggilku ayah. Panggilan itu mengingatkanku tentang mimpi yang sering menghantui."


"Daddy pun mulai membayar seseorang untuk menyelidiki siapa gadis itu. Bahkan aku menghubungi orang yang sudah memiliki reputasi yang bagus dalam melakukan penyelidikan. Hasilnya begitu mencengangkan. Banyaknya pikiran dan emosi yang kalut membuat kepala Daddy sakit hebat sehingga mengakibatkan aku terjatuh dan pingsan. Saat tersadar dari pingsan, aku bisa mengingat semuanya."


"Daddy pun bertanya pada Mommy tentang kejadian beberapa tahun silam. Akan tetapi dia tidak mau menjawab dengan jujur."

__ADS_1


__ADS_2