Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 73


__ADS_3

Frans terus menyerang Rahma, Rahma sebenarnya sudah melakukan perlawanan dan penolakan. Akan tetapi tubuh mungil Rahma yang kalah tenaga pun akhirnya hanya bisa pasrah. Akhirnya terjadilah penyatuan diantara keduanya.


Penyatuan yang lama membuat Rahma langsung tertidur begitu mencapai pelepasan. Frans langsung mendekap erat tubuh Rahma yang mulai terlelap.


"I love you! Maaf." ucap Frans kemudian mencium kening Rahma.


Frans tertidur dengan senyum terukir di bibirnya. Ada rasa bangga dan puas karena ini adalah pengalaman pertama bagi keduanya. Frans sadar telah melakukan kesalahan, tapi dia tidak merasa menyesal.


Pagi harinya, Rahma terbangun dari tidurnya karena merasakan ada benda berat yang menimpanya. Ternyata lengan kekar Frans sedang memeluknya.


Rahma menggeser lengan tersebut dari atas pinggangnya. Saat bergerak, Rahma merasakan badannya remuk redam. Bagian intinya terasa perih dan mengganjal.


"Ssshh..." Rahma meringis ketika menggerakkan tubuhnya.


Rahma pun kaget melihat ke badannya yang polos tanpa tertutup selembar kain pun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


"Tidaaakkk!" jerit Rahma dengan kedua tangan memegangi kepalanya.


Frans langsung terbangun begitu mendengar jeritan di dekatnya. Frans terduduk sambil menguap karena rasa kantuk yang masih menderanya.


Rahma menangis sesenggukan di samping Frans. Menangis menyesali kebodohannya yang tidak bisa menjaga diri. Menangisi nasibnya yang selalu saja miris. Dari sekian banyak masalah yang menghadang, kejadian tadi malam yang paling membuatnya terpuruk.


"Maaf, tadi malam aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku dalam pengaruh obat perangsang, sehingga tidak bisa mengendalikan hasratku..."

__ADS_1


"Pergi!" teriak Rahma masih tetap pada posisi semula, duduk kepala bertumpu pada lutut dengan kedua tangan memegang kepala.


"Maaf, aku tidak bermaksud merusakmu. Aku akan bertanggung jawab!" ucap Frans yakin.


"Pergi kataku! Pergi!" teriak Rahma sambil melempar Frans dengan bantal yang ada di dekatnya.


Frans hanya bisa menelan ludah melihat Rahma, mengamuk tanpa memperhatikan badannya yang saat ini kembali terbuka karena Rahma melepaskan selimut yang tadi dipegangnya.


Frans pun akhirnya memutuskan ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya daripada kembali menerkam Rahma.


Rahma masih menangis sepeninggalnya Frans ke kamar mandi. Sambil menangis, dengan langkah tertatih Rahma mengambil bajunya kemudian memakainya.


Sementara itu di lantai bawah, Vani masih tertidur pulas karena waktu masih menunjukkan jam enam pagi. Sedangkan Rio juga masih tidur karena jam satu malam dia baru pulang.


Setelah memakai pakaiannya, Rahma langsung ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Rahma menggosok badannya dengan kuat sambil menangis. Merasa dirinya terlalu kotor. Rahma terduduk memeluk lututnya di bawah guyuran air shower.


Mendengar suara Vani bercampur gedoran pintu yang tidak berhenti, membuat Rahma akhirnya bangun dan menggunakan bathrobe. Dia mengusap wajahnya menggunakan handuk kecil, kemudian meletakkan handuk itu di pundaknya.


"Lama banget Lo di kamar mandi, Gue sudah sesak tahu!" omel Vani sambil langsung masuk ke kamar mandi tanpa memperhatikan Rahma.


Rahma menghembuskan nafasnya kasar.


"Hhhh!"

__ADS_1


Tidak menunggu lama, Rahma langsung mengenakan pakaian panjang untuk menutupi bekas kissmark yang ditinggalkan oleh Frans. Setelah selesai berpakaian, Rahma merebahkan tubuhnya dan menggulungnya dengan selimut.


"Ma! Rahma! Lo sakit?" ucap Vani sambil mendekati Rahma.


Vani merasa heran dengan sahabatnya itu. Berkas tugas kuliah masih berserak di atas meja tapi Rahma malah bergelung dalam selimut.


Vani meletakkan tangannya ke dahi Rahma, terasa hangat di kulit punggung tangannya.


"Lo makan dulu, habis itu minum obat, gih! Biar cepet baikan." titah Vani sambil menarik selimut agar Rahma bangun.


"Aku tidur sebentar. Nanti aku makan kok, kalau sudah tertidur sebentar. Kamu pergi kuliah aja sana, bilang sama dosen kalau aku kurang enak badan," jawab Rahma tidak begitu jelas.


"Okelah kalau begitu, Gue cabut dulu!" pamit Vani sambil meninggalkan Rahma sendirian di kamar.


Saat sarapan, Vani meminta mbok Darmi mengantarkan makan dan obat ke kamar Rahma. Dia bangun kesiangan sehingga sedikit terburu-buru pergi ke kampus.


*


*


*


Selesai mandi dan sarapan, Frans langsung melajukan motornya menuju rumah orang tua Rahma. Dia akan meminta maaf pada bu Sarifah dan melamar Rahma untuk menjadi istrinya. Frans berpikir jika dia meminta maaf pada Rahma pasti akan sia-sia. Lebih baik langsung melamarnya saja.

__ADS_1


Dengan pikiran tidak tenang, Frans memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera menemui bu Sarifah. Setelah dari rumah bu Sarifah, dia berencana pulang ke rumah orang tuanya untuk meminta restu dan melamar Rahma.


Maaf baru bisa up, tadi malam sebenarnya sudah aku tulis. Berhubung mata sudah ngantuk jadi aku setor pagi iniπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2