
Rahma dan Rio sama-sama mengerjakan tugas kuliah dengan tenang. Sesekali Rio bertanya pada Rahma jika ada yang tidak ia ketahui maksudnya. Tanpa terasa mereka mengerjakan tugas hingga waktu makan siang tiba. Rahma yang sudah selesai mengerjakan tugas-tugasnya pun pamit pada Rio.
"Rio, aku duluan ya! Sudah lapar." ucap Rahma sambil menunjuk ke perutnya.
Ucapan Rahma hanya dijawab dengan anggukan kepala dan acungan jempol dari Rio. Rio masih tetap menekuni tugas-tugasnya yang sebentar lagi selesai.
Rahma memilih makan siang di kafe langganan yang tidak jauh dari kampus. Dia menyukai masakan di kafe tersebut, selain menyukai rasa masakannya yang pas di lidah. Kafe itu tenang dan tidak berisik karena pengunjungnya rata-rata orang berdasi. Walaupun harus merogoh kocek yang dalam, akan tetapi kepuasan konsumen tetap yang utama.
Saat Rahma duduk, tidak sengaja mendengar percakapan dua orang yang membelakanginya.
"Gara-gara Lo telat datang, jadi salah sasaran deh kita! Harusnya Lo datang lebih cepat biar Frans bisa nidurin Lo. Frans pergi begitu saja setelah minuman yang Gue campur obat perangsang. Ehh, tiba-tiba Lo datang langsung menyeruput minuman sisa Frans. Sekarang Lo bunting. Mau minta tanggung jawab siapa?" cerocos Sheila menyalahkan Christie yang telat datang ke Club dua bulan yang lalu.
"Terus gimana dong? Temen Lo yang namanya Chico kemana? Katanya tadi dia mau ketemuan ma kita di sini," jawab Christie tampak khawatir.
"Gue sudah hubungi dia berulang kali tapi nomornya sudah tidak aktif," ujar Sheila sambil menunjukkan ponselnya pada Christie.
"Lo ngomong apa aja ke dia, kok dia keknya menghindar?" cerca Christie.
"Nggak ada ngomong apa-apa! Cuma bilang kalau ada cewek yang mau kenalan. Udah gitu aja." jawab Sheila sambil mengambil kentang goreng dan mencocolnya ke saus.
"Ada kuliah kali, dianya!" tebak Christie mengikuti apa yang dilakukan Sheila memakan kentang goreng yang dicocolkan ke saus terlebih dahulu.
__ADS_1
"Bisa jadi. Soalnya kalau pas dosen killer yang ngajar mending matiin ponsel, dari pada di silent entar penasaran terus ma ponsel, nggak konsen kuliahnya." jelas Sheila.
"Kalau Gue minta tanggung jawab ke Frans saja gimana menurut Lo?" tanya Christie meminta pertimbangan Sheila.
"Jangan gila! Lo sama dia belum kenal dekat, lagian dia sudah nikah. Pantang bagi Gue merusak rumah tangga orang lain. Lagian anak dalam perut Lo bukan darah dagingnya," cegah Sheila. Dia masih memiliki hati untuk tidak menyakiti sesama perempuan.
Rahma yang menikmati makan siangnya sambil mendengarkan obrolan Sheila dan Christie, akhirnya paham dengan duduk masalah yang sebenarnya.
Rahma buru-buru menghabiskan makan siangnya kemudian dia langsung pulang. Padahal seharusnya dia ada kuliah satu jam lagi.
Sementara itu tanpa sepengetahuan Sheila dan Christie, Chico duduk tidak jauh dari mereka. Dia menguping pembicaraan antara mereka berdua. Chico ingin tahu seperti apa cewek yang akan dikenalkan padanya. Betapa terkejutnya Chico saat melihat cewek itu adalah orang dia renggut mahkotanya.
"Kalau Gue tanggung jawab, bisa-bisa Gue cuma jadi kacungnya. Dilihat dari penampilannya dia anak berada. Tapi Gue yakin kalau orang tua Gue pasti tidak kalah tajir dibandingkan orang tuanya."
"Oke, Gue lihat seberapa besar perjuangan Lo buat dapetin cowok yang mau bertanggung jawab atas kehamilan Lo!" gumam Chico tersenyum smirk.
*
*
*
__ADS_1
Rahma gelisah memikirkan omongan yang didengarnya tadi saat makan siang di kafe. Dia bolos kuliah hanya karena hal sepele. Rasa tidak percayanya pada Frans membuat dia dan Frans menjadi seperti ada jarak yang membentengi mereka.
"Tiara, ada waktu nggak? Sebentar aja!" ucap Rahma saat memasuki kamar Tiara.
Tiara disediakan kamar sendiri untuknya karena kadang-kadang Dolly datang menginap. Jadi bu Sarifah berinsiatif menjadikan kamar tamunya menjadi kamar Tiara.
"Ada banyak! Lo mau ngajakin Gue nge mall atau game?" tantang Tiara.
"Bukan itu! Ada yang mau aku tanya tentang hal pribadi. Sangat pribadi pokoknya." elak Rahma sambil duduk di samping sahabatnya itu.
"Saat kesucianmu diambil Dolly, bagaimana perasaan kamu?" tanya Rahma kemudian menggigit bibirnya takut Tiara tersinggung.
"Nggak kenapa-kenapa sih. Biasa aja! Eh, bukan. Aku malah seneng karena rasa penasaranku sudah terjawab. Di kalangan mahasiswa kek gitu sudah biasa kali!" cerita Tiara.
"Dasar dudul!" kata Rahma sambil memukul kepala Tiara.
"Enak kok dilarang!" sahut Tiara.
"Astaga, Tiara!" teriak Rahma menggelengkan kepalanya.
"Pantas saja Lo tekdung duluan sebelum nikah!" sambungnya.
__ADS_1