Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 105


__ADS_3

"Iya, sabar ya! Sebentar lagi sampai." jawab Dolly lembut.


Beberapa menit kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah rumah sakit ibu dan anak. Dolly langsung berlari keluar memanggil perawat dan meminta brankar untuk istrinya.


Dolly mengangkat istrinya dan kemudian meletakkan di atas brankar. Dia mengikuti langkah para perawat menuju UGD untuk diperiksa terlebih dahulu, setelah itu barulah Tiara dibawa ke ruang bersalin.


"Istri bapak sudah pembukaan tujuh. Kita tunggu hingga pembukaan lengkap ya, Pak. Bapak dan Ibu tenang dulu, untuk Ibu jangan mengejan dulu. Simpan tenaga Ibu untuk nanti saat pembukaan lengkap," jelas dokter kandungan yang menangani Tiara.


Dolly hanya mengangguk mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Dia selalu berada di samping Tiara. Lengannya terdapat banyak bekas cakaran. Bahkan bajunya juga tampak kusut karena seringnya ditarik oleh Tiara.


Selang satu jam kemudian, mama Ratna datang bersama pak Edward. Sedangkan orang tua Tiara masih dalam perjalanan dari luar kota.


"Dolly, bagaimana Tiara?" tanya mama Ratna begitu memasuki ruang bersalin bersama pak Edward.


"Baru pembukaan delapan, Ma. Kata dokternya, ini termasuk cepat karena hanya selang beberapa jam sudah pembukaan delapan." jawab Dolly menyampaikan penjelasan dari dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Baguslah kalau cepat prosesnya, jadi tidak terlalu lama merasakan sakit. Semakin lama proses pembukaan semakin habis tenaga yang terkuras. Semoga lancar persalinannya nanti." ucap mama Ratna menanggapi penjelasan dari anaknya.


Mama Ratna pun berjalan mendekati menantunya.


"Bagaimana perasaan kamu, Sayang?" sapa mama Ratna sambil mengusap rambut Tiara.


"Tiara takut, Ma!" sahut Tiara sambil meringis menahan sensasi nikmat kontraksi.


"Tidak usah takut, ada kami yang akan mendampingi kamu. Rasa sakit yang saat ini kamu rasakan akan tergantikan oleh kebahagiaan setelah anak kalian lahir." hibur mama Ratna.


"I-iya, Ma,"


Beberapa jam kemudian, seorang bayi laki-laki telah lahir dari rahim Tiara. Bayi laki-laki itu sangat mirip dengan Dolly. Saat ini Tiara sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Aku yang gendong kemana-mana, aku yang rasain sakitnya. Kenapa aku tidak ada di wajahnya? Nggak adil! Ini nggak adil!" gerutu Tiara setelah melihat dengan jelas wajah anaknya.


"Sabar, Tiara. Masih baru lahir, wajahnya masih berubah-ubah. Nanti juga ada yang mirip sama kamu. Yang penting anak kamu sehat dan tidak kekurangan suatu apapun. Sekarang kamu istirahat saja, biar cepat pulih tenagamu!" kata mami Tiara. Orang tua Tiara datang tepat saat terdengar tangis bayi laki-laki baru lahir.

__ADS_1


"Iya, Mi. Tiara mengantuk sekali. Mau tidur sebentar, nanti pas adzan jangan lupa bangunin!" ucap Tiara sambil menguap.


"Sudah makan belum Tiara-nya?" tanya papi Tiara.


"Sudah tadi, disuapi Dolly," jawab mami Tiara karena Tiara langsung terlelap begitu memejamkan matanya.


"Oh, ya udah biarin aja dia tidur. Nanti adzan Isya' dibangunkan." sahut papi Tiara.


Tiba-tiba terdengar adzan Isya' sesaat setelah papi Tiara terdiam.


"Bagaimana ini, Jeng? Tiara dibangunkan atau tidak. Dia baru memejamkan mata sudah adzan. Kalau dibangunkan kok kasihan." tanya mami Tiara pada mama Ratna, besannya.


"Biarkan saja dia tidur. Kasihan, banyak tenaganya yang terkuras setelah melahirkan." jawab mama Ratna.


*


*


*


"Kapan ya kita dikaruniai anak juga?" ucap Frans setelah menyampaikan kabar gembira dari abangnya.


"Uhukk... uhukk!" Rahma tersedak ludah sendiri saking terkejutnya mendengar ucapan Frans baru saja.


"Minum! Kenapa sih bisa tersedak? Nggak makan apa-apa juga tersedak." ujar Frans ketika didengarnya sang istri tersedak.


Frans jika bersama orang yang dekat dengannya akan keluar aslinya yang cerewet.


"Iya, ini mau minum!" sahut Rahma cemberut.


"Ya ampun, kek anak kecil. Cuma begitu saja sudah cemberut. Lama-lama aku cium nih!" ledek Frans sambil mengulum senyum.


Rahma langsung memukul lengan Frans. Sedangkan Frans makin tertawa lebar melihat tingkah istrinya yang malu-malu kucing.

__ADS_1


"Habisnya bibir kok dimaju-majuin, kek minta cium. Gemes tahu nggak?" ucap Frans lagi sambil mengacak rambut Rahma.


"Jangan diacak ish! 'Kan jadi berantakan rambutku," teriak Rahma yang masih cemberut menjadi semakin kesal, sehingga bibirnya semakin maju beberapa senti.


Frans langsung menyambar bibir itu karena sudah tidak tahan lagi. Saking gemasnya, Frans jadi lepas kontrol. Awalnya hanya menempel, akan tetapi Rahma tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan, Frans langsung menye sap dan menghi sap bibir mungil berwarna merah muda itu.


Rahma terkejut hingga tubuhnya kaku dan tidak melakukan perlawanan sama sekali. Setelah kesadarannya kembali, dia mendorong suaminya sekuat tenaga hingga ciuman itu terlepas.


Rahma berlari menuju kamarnya begitu bibir mereka terlepas. Rahma langsung mengunci pintu kamar dan terduduk bersandar di pintu, dengan nafas memburu.


Senyum Frans mengembang karena bisa menikmati bibir manis istrinya. Wajah Frans pun berbinar dan segar seperti baterai yang baru selesai dicharge.


Bu Sarifah yang melihat Frans senyum-senyum sendiri pun merasa heran dan mendekati menantunya tersebut.


"Nak Frans sepertinya lagi seneng. Ada berita apa, ya?" tanya bu Sarifah begitu berdiri di depan Frans.


"Eh, Ibu. Engng... Tiara baru saja melahirkan, Bu. Anaknya laki-laki." jawab Frans menutupi kelakuannya tadi.


"Oh, ya? Wah, selamat kalau begitu. Semoga ibu dan bayinya sehat selalu, anaknya bisa menjadi anak soleh. Tiara juga bisa menjadi ibu dan istri yang baik."


"Aamiin." ucap bu Sarifah dan Frans serentak.


"Si Rahma sudah tahu belum kalau keponakannya sudah lahir?" tanya bu Sarifah tiba-tiba teringat anaknya yang tidak terlihat di sana.


"Sudah, Bu. Mungkin Minggu depan kami permisi mau pulang ke rumah mama. Menjenguk Tiara dan bayinya." ijin Frans pada ibu mertuanya.


"Kalau kamu mau menengok mereka, Ibu ikut juga. Ibu sudah kangen banget dengan kampung halaman. Bisa 'kan, Nak Frans?" ungkap bu Sarifah tampak bersemangat mendengar kata pulang kampung.


"Apa sih yang tidak bisa buat Ibu dan Rahma? Nanti kita pakai mobil aja buat pulang." sahut Frans tersenyum.


"Kapan kita akan pulang? Biar Ibu bisa siapkan segala sesuatunya," tanya bu Sarifah.


"Tunggu bagaimana Rahma, Bu. Dia 'kan masih asisten dosen, jadi dia harus meminta ijin ke dosen dan bagian administrasi dulu. Kalau Frans menyesuaikan saja. Kalau pekerjaan Frans bisa diatur, tinggal menghadap paman. Beres semua, apalagi jika ijin karena acara keluarga." jelas Frans panjang dan lebar.

__ADS_1


Bu Sarifah pun mengangguk tanda mengerti. Menantunya itu bukanlah orang biasa yang harus tunduk dan patuh pada aturan perusahaan. Memiliki beberapa persen di perusahaan tersebut membuat Frans bebas keluar masuk kantor.


__ADS_2