Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 93


__ADS_3

"Non! Bangun, Non! Jangan buat Bibi khawatir, Non Christie!" jerit bik Nah sambil mengguncang tubuh majikannya.


Christie terkapar tak sadarkan diri setelah menenggak beberapa pil peluntur. Tampak darah merembes di sekitar bo kongnya. Sprei berwarna putih itu tidak putih lagi.


"Toloongng! Toloongng!" bik Nah kembali berteriak sambil berlari menuruni tangga untuk meminta bantuan pada pekerja yang lain.


"Ada apa sih, Bik? Teriak-teriak kek ketemu hantu di siang bolong." tanya Kusman, salah satu pekerja yang biasa bertugas membersihkan kebun.


"Ada hantu!"


"Hantu? Yang benar, Bik?"


"Benar! Ehh, bukan! Non Christie pingsan." jawab bik Nah latah.


"Non Christie pingsan? Aduh, Bibik ini!" gerutu Kusman sambil berjalan cepat menuju kamar nona majikan mereka.


Betapa terkejutnya Kusman melihat mulut Christie yang berbuih dan membiru, apalagi dilihatnya ada darah yang mengotori sprei di bawahnya.


"Cepat bantu aku, Bik!" kata Kusman seraya mengangkat tubuh Christie yang sudah lemas.


Bik Nah membuka lebar-lebar pintu kamar Christie, agar Kusman mudah membawa nonanya ke mobil. Bik Nah berlari kecil di belakang Kusman, untuk mengimbangi langkah lebar nan cepat si tukang kebun itu.


"Pak Saril, cepetan buka pintu mobil!" teriak Kusman masih dengan nona majikannya dalam dekapannya.


Sopir yang selalu setia mengantar kemanapun majikannya pergi itu, bergegas membuka pintu mobil bagian belakang. Kusman segera meletakkan Christie dengan posisi kepala di pangkuan bik Nah. Dimana sebelumnya bik Nah sudah melalui pintu satunya.


"Kus, kamu hubungi Nyonya Agatha. Kalau anaknya sekarat, percobaan bunuh diri keknya!" pesan bik Nah pada Kusman.

__ADS_1


"Astaga! Sekarat? Nggak ada kata-kata yang lebih kejam lagi, Bik?" sahut tukang kebun yang masih muda itu.


"Lambemu! Cepet tutup pintunya, jangan lupa hubungi Nyonya!" bentak bik Nah.


Kusman langsung mundur dan menutup pintu mobil. Setelah itu dia menghubungi nyonya majikannya.


*


*


*


Rahma memasak sambil bersenandung, sedangkan bibi yang biasa memasak sudah disuruh pulang. Di rumah itu, para pekerjanya tidak menginap. Kecuali penjaga malam yang datang setiap habis maghrib dan pulang setelah subuh.


"Seneng banget keknya anak Ibu. Masak apa, hmm?" tegur bu Sarifah sambil mendekati anaknya dengan senyum mereka.


"Eh, Ibu. Tiara mana?" jawab Rahma dengan pertanyaan.


"Ini masak tumis kangkung sama cumi saos Padang. Ada juga ayam goreng saos telur asin." jawab Rahma sambil mengangkat ayam dari penggorengan.


"Enak nih, keknya! Frans pulang jam berapa katanya?" ujar bu Sarifah sambil mencium aroma masakan Rahma.


"Seperti biasa, Bu. Sebentar lagi juga pulang." jawab Rahma sambil menumis bawang untuk membuat saos yang akan disiram ke ayam goreng.


Tak lama kemudian terdengar suara motor terparkir di garasi.


"Itu sepertinya Frans sudah pulang, Bu," kata Rahma menoleh melihat ibunya.

__ADS_1


"Dia lebih tua darimu, jangan biasakan memanggil nama suamimu dengan nama. Tidak sopan dan tidak pantas." nasehat bu Sarifah pada Rahma.


"Iya, Bu. Nanti Rahma ubah panggilannya," jawab Rahma patuh walaupun dalam hati tidak ikhlas, gerundel.


"Hmm, harumnya... masak apa nih?" seru Frans yang baru saja bergabung di dapur.


"Masakan rumahan yang sederhana saja, kok!" jawab Rahma sambil memindahkan masakannya ke dalam wadah-wadah yang telah disiapkan tadi.


"Justru masakan rumahan itulah yang enak dan sehat." puji Frans.


"Baru pulang, Nak? Sebaiknya kamu mandi dulu, setelah ini gabung sini! Kita makan bersama." tegur bu Sarifah.


"I-iya, Bu. Frans mandi dulu, ya," sahut Frans kikuk karena lupa menyapa ibu mertuanya.


Frans pun meninggalkan mereka.


"Kamu buatkan Frans teh madu sana, terus antar ke kamarnya. Tidak usah menunggu suami meminta, sebagai seorang istri itu harus peka." Bu Sarifah kembali mengingatkan tugas anaknya sebagai seorang istri.


"Iya, Bu! Iya!" sahut Rahma dengan berat hati.


Bu Sarifah yang melihat tidak ada keihklasan di mata Rahma, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Dengan menahan perasaan kesal, Rahma membuatkan minuman untuk suaminya. Ibu yang masih berada tidak jauh Rahma pun kembali mengingatkan.


"Harus ikhlas kalau ingin dapat pahala. Setiap apa yang kita lakukan untuk melayani suami itu ibadah. Jadi lakukan dengan hati yang ikhlas, agar pahala selalu mengalir."


Hai reader sekalian, mau numpang promosi novel milik teman saya yang berjudul 'Nona Muda dihamili Pelayan.

__ADS_1


Sambil menunggu Frahma up, silahkan mampir jika ada waktu luang.



__ADS_2