Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 75


__ADS_3

"Bugh... bugh...bugh!!!"


Arya terus memukul wajah dan perut Frans, Arya tersulut emosinya setelah mendengar cerita Frans yang sebenarnya. Sebagai seorang ayah dia tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. Walaupun dengan alasan dijebak, akan tetapi di mata Arya, Frans tetaplah salah.


Seharusnya dari awal, Frans menolak ajakan teman-temannya itu. Namun, waktu tidak bisa diputar lagi. Semua sudah terjadi percuma juga disesali karena tidak akan pernah bisa kembali lagi.


Arya menghentikan ayunan tangannya karena lelah. Arya duduk terengah-engah dengan nafas memburu karena emosi bercampur lelah.


"Sabar, Mas! Kamu pukuli dia tidak akan mengembalikan kesucian Rahma. Lebih baik kita terima saja lamarannya dan menikahkan mereka berdua sebelum terlambat."


"Dia sudah mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hanya restu yang dapat menyelesaikan masalah ini." ucap bu Sarifah bijaksana.


"Arya, kamu selama ini menghilang kemana saja? Kami mencarimu kemana-mana bertahun-tahun tapi tidak kunjung bertemu. Tiba-tiba sekarang kita bertemu di sini sebagai calon besan." ujar pak Edward sambil mengulurkan tangannya untuk membantu teman lamanya berdiri.

__ADS_1


"Aku mengalami kecelakaan yang parah sehingga mengakibatkan aku amnesia. Orang yang menolongku memintaku untuk menikahinya. Karena aku tidak mengingat apapun, jadi aku menerima permintaan itu," terang Arya, walaupun tidak seperti kenyataannya tetapi dia sudah mengatakan yang sejujurnya.


"Abangku yang menjadi atasanmu secara langsung menuntut ganti rugi, atas menghilangnya dirimu padaku karena aku yang merekomendasikanmu padanya. Sekarang aku meminta anakmu untuk menjadi pendamping hidup anakku. Dia sudah tergila-gila pada anakmu sejak SMA, asal kamu tahu!" kata pak Edward sambil merangkul pundak pak Dewa.


"Baiklah kalau begitu kita bersiap-siap ke ibu kota untuk menikahkan anak kita. Atau Rahma saja yang pulang?" jawab Arya Dewanto yang kini dipanggil dengan pak Dewa.


Saat para pemimpin rumah tangga berbincang, para ibu mengobati luka Frans.


"Kenapa kamu diam saja dipukuli oleh mas Arya? Seharusnya kamu lawan dia tadi!" tanya bu Sarifah dengan nada emosi.


"Mana mungkin Frans berani melawan Bang Arya, bisa-bisa lamarannya ditolak mentah-mentah oleh Arya. Keinginan menikahi pujaan hati jadi gagal deh." sahut bu Ratna.


"Kalau kamu tidak berani, biar nanti aku yang akan menghajarnya dengan caraku sendiri. Seenaknya saja memukuli menantuku, huh!" bu Sarifah mengomel karena Frans tidak melakukan perlawanan sama sekali ketika dihajar Arya.

__ADS_1


Sejak kedatangan Frans yang pertama kali bersama Rio, bu Sarifah sudah memiliki firasat jika Frans 'lah yang akan menjadi menantunya. Oleh karena itu, bu Sarifah selalu mendukung Frans mendekati anak perempuan satu-satunya.


"Sayang, kamu siap-siap sana. Sebentar lagi kita akan berangkat ke ibu kota untuk mengurus pernikahan anak kita," teriak Arya dari ruang tamu.


"Sayang, sayang kepalamu peyang! Enak aja manggil sesuka hatinya." gerutu bu Sarifah sambil masuk ke kamarnya meninggalkan Frans dan mamanya di dapur.


Gerutuan bu Sarifah sangat kuat sehingga terdengar oleh orang-orang yang berada di rumah itu. Mereka semua tersenyum mendengar gerutuan bu Sarifah.


Pak Dewa hanya bisa menunduk lesu ketika mendengar gerutuan istrinya itu. Tampak sekali kemarahan itu masih ada dan melekat di hati istrinya.


Bu Sarifah membawa beberapa lembar pakaian untuk ganti selama di ibu kota. Sedangkan pakaian yang menjadi tanggung jawabnya akan dia serahkan pada Saroh. Banyak baju yang belum selesai digosok.


Bu Sarifah menghubungi Saroh agar tinggal di rumah ini serta melanjutkan pekerjaannya. Saroh langsung menyanggupi permintaan bu Sarifah.

__ADS_1


"Terima kasih, Bibi! Lumayan, bisa buat beli pulsa nanti." seru Saroh begitu bu Sarifah memberinya sejumlah uang.


"Nanti upah nyuci dan gosok pakaian kamu ambil saja semua. Aku belum tahu kapan pulang ke sini. Nitip rumah ya Sar, kamu hati-hati di rumah ini. Kalau perlu ajak teman-teman ke sini biar kamu tidak kesepian." pesan bu Sarifah pada Saroh, dia menganggap Saroh sudah seperti anaknya sendiri.


__ADS_2