
"Rahma, bisa ke ruangan administrasi sebentar?" tanya pak Haris saat melihat Rahma dan kawan-kawan sedang bercengkrama di depan gedung administrasi.
"Siap. Iya, Pak!" jawab Rahma sambil berteriak karena jaraknya agak jauh, setelah memanggil Rahma pak Haris langsung berlalu begitu saja.
"Aku tinggal dulu, kalian duluan saja jika mau pergi. Aku tidak tahu cepat atau lama di dalam sana," ucap Rahma pada ketiga temannya.
"Sans! Kita masih ingin ngobrol di sini kok."
"Iya, kita tunggu di sini. Semangat!" sahut Vani memberi semangat pada sahabatnya itu.
Frans hanya memberikan senyuman dan anggukan sebagai tanda setuju dengan kedua temannya.
Rahma pun berjalan meninggalkan mereka menuju ruang administrasi, dia mencari pak Haris di kubikelnya. Ruang administrasi cukup luas, banyak kubikel di sana. Bangunannya pun berdiri sendiri, berbeda dengan ruang dosen yang menyatu dengan bangunan aula.
"Pak Haris!" sapa Rahma begitu berdiri di depan kubikel Haris.
Haris pun mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya.
"Masuk sini, Ma!" titah Haris.
Rahma pun melangkahkan kakinya memasuki kubikel yang berukuran dua setengah kali dua setengah meter itu.
__ADS_1
"Duduk." lanjutnya.
Rahma pun duduk di kursi yang ada di depan meja pak Haris.
"Ini menyangkut mahasiswa yang demo, aku sudah berbicara dengan perwakilan mereka. Kamu kapan ada waktu untuk menjelaskan foto yang tempo hari terpajang di papan pengumuman? Nanti aku undang juga pak Dewa. Jadi nanti kalian berdua yang klarifikasi, biar masalah tidak berlarut-larut." Haris mulai menjelaskan tujuannya memanggil Rahma.
"Aku percaya padamu, jika hubungan kalian berdua hanya sebatas ayah dan anak. Oleh karena itu aku ingin membantu kamu agar kamu bisa tenang kuliah di sini. Juga kamu bisa menjadi asisten dosen lagi. Bagaimana?" tanya Haris menutup penjelasannya.
"Rahma sih kapan saja bisa, selagi itu tidak ada kelas. Kalau pun ada kelas bisa minta ijin sekali, selama ini absensi kehadiran Rahma juga full. Jadi masih bisa untuk bolos kuliah, hehehe!" jawab Rahma nyengir menampakkan giginya.
"Oke kalau begitu, aku hubungi Pak Dewa dulu. Beliau kapan bisa ke sini, kita samakan jadwalnya dengan beliau karena beliau orang sibuk. Sudah cukup, kamu bisa kembali lagi bersama teman-teman kamu!" ucap Haris
"Apa?" jawab Haris.
"Kok Pak Haris bisa kenal Pak Dewa? Itu kalau boleh tahu." tanya Rahma sambil meringis.
"Aku dulu bekerja di perusahaan beliau. Hanya sebentar sih, akan tetapi bisa membuat kami dekat karena beliau orangnya baik. Sangat baik malah, kenapa?" jawab Haris.
"Enggak, heran aja kok Pak Haris langsung percaya begitu saja pada kami. BTW terima kasih, Pak. Atas bantuannya." kata Rahma sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Haris sebagai ucapan terima kasih.
Haris pun menyambut uluran tangan Rahma. Mereka bersalaman sebelum Rahma meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Rahma sangat senang karena masih ada yang percaya padanya. Walaupun tidak banyak, setidaknya bisa menambah semangat untuk menghadapi masalah yang datang. Dengan wajah ceria Rahma berjalan menuju ke tempat teman-temannya berkumpul.
"Eh, itu Rahma sudah kelar urusannya sama Pak Haris. Sudah berjalan ke arah sini dia!" teriak Vani saat dilihatnya Rahma berjalan menuju ke arah mereka.
Frans dan Rio langsung menoleh ke arah Rahma yang berjalan terburu-buru dengan wajah ceria.
"Bagaimana?" tanya Frans dengan raut wajah penasaran karena rasa ingin tahu yang tinggi.
"Bagaimana apanya, Nyet?" ledek Rio ingin mencairkan suasana karena melihat mimik wajah Frans.
"Bagaimana keputusan pihak kampus 'lah, Lo pikir apa?" jawab Frans kesal merasa dipermainkan Rio.
"Lha, Lo orang baru datang langsung ditanya bagaimana. Bukannya diajak ke kantin minum atau Lo kasih minuman ke dia malah langsung diberondong pertanyaan. Dasar nggak peka Lo!" ujar Rio sambil memukul lengan Frans.
"Iya, nih! Jadi cowok nggak peka, gimana Rahma mau terima dia jadi pacar coba?" imbuh Vani memanas-manasi.
Frans langsung mengusap tengkuknya yang tidak gatal setelah mendapat serangan bertubi-tubi.
"Kalian ngomongin apa sih? Nggak paham aku. Serius!" tanya Rahma bingung melihat tingkah Rio dan Vani.
"Sudah! Usah bahas lagi. Kita ke kantin aja!" ajak Frans sambil berjalan menuju ke kantin meninggalkan ketiga temannya.
__ADS_1