Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi
Bab 110


__ADS_3

"Namanya Chico Admaja. Anak dari pengusaha terkenal, Raka Admaja." jawab Dennis.


"Siapa?" teriak Frans terkejut mendengar nama yang disebut oleh adik iparnya itu.


"Nggak usah norak! Biasa aja kali." celetuk Sheila.


"Kenapa sih Lo nggak bilang kalau si monyet yang tunangan?" tanya Frans kesal.


"Kak, udah. Kita sama Ayah saja di sana," ucap Rahma seraya menunjuk ke arah ayahnya.


"Iya, deh iya. Kita ke sana, Sayang. Sabar, belum kelar urusan ma monyet monyet ini."


"Ya, udah kalau begitu aku ke sana sendiri. Ayok, Den!" ucap Rahma sambil melepaskan diri dari pelukan posesif sang suami.


"Eh, tunggu sebentar, Sayang!" Frans menarik tangan Rahma, akan tetapi Rahma tetap berjalan mendekati ayahnya bersama Dennis.


"Ishh, nggak sabaran banget sih istrinya Frans ini!" gerutu Frans seraya mengikuti langkah sang pujaan hati.


Saat Frans tiba di kursi dekat istri dan keluarga ayahnya, acara pertunangan dimulai.


Frans mengacungkan tinju pada Chico karena tidak mengabari tentang pertunangan tersebut.


Chico yang kebetulan melihat kehadiran Frans di acaranya hanya melebarkan senyumnya. Kemudian melangkah mendekati Christie sesuai arahan MC. Mereka saling memakaikan cincin pada pasangannya secara bergantian.


Sambutan dari kedua belah pihak keluarga berjalan lancar. Kini saatnya acara santai untuk berbincang dengan para tamu undangan.


"Dasar kampret Lo! Nggak kasih kabar kalau tunangan." cerca Frans pada Chico.


"Ini sebenarnya masalah yang kita bahas di kafe waktu itu." bisik Chico pelan, hanya dia dan Frans saja yang mendengar.


Frans mengangguk tanda mengerti tanpa bersuara karena itu aib yang harus ditutupi. Kemudian Frans mengacungkan jempol sebagai pujian atas keputusan yang diambil oleh Chico.


"Ini bini Lo? Cantik ya, pantes Lo nggak melirik sana sini. Pawangnya aja kek bidadari!" puji Chico sambil menatap wajah Rahma.


"Mata Lo mau Gue congkel, hah?" ujar Frans kesal karena istrinya ditatap penuh kagum oleh temannya.


"Posesif amat sih Lo, cuma ngelihat aja sudah terbakar. Apalagi kalau pegang, hangus langsung!" ledek Chico.

__ADS_1


Christie yang saat itu berada di belakang Chico, merasa kesal karena Chico memuji Rahma. Walaupun di hatinya belum ada rasa cinta untuk Chico, dia tidak ingin tunangannya memuji wanita lain di dekatnya ataupun di hadapannya.


"Jangan salah, cari cewek kek dia itu nggak gampang. 1000 cuma 1, skala perbandingannya!" jawab Frans jumawa.


"Iya deh, yang punya bini langka! Nanti bini gue juga gue buat langka, dan tidak satu orang pun boleh ngelirik apalagi menyentuh!" ujar Chico mengompori Frans.


"Serah deh serah! Puas Lo sekarang?"


"Belum!"


"Buahahaha!" gelak tawa terdengar dari belakang mereka. Ternyata Sheila dan Jojo tertawa lebar mendengar perdebatan dua temannya itu.


"Kalian berdua selalu saja berantem kalau bertemu, tidak bertemu saling mencari. Giliran ketemu saling mencaci! Hadeehh, kalian memang cocok jadi sahabat." Jojo mencibir keduanya.


"Biarin yang penting happy dan nggak mencampuri ranah pribadi!" jawab Frans ketus. Tingkat kekesalannya sudah pada ujung, sebentar lagi pasti akan meledak.


*


*


*


"Mm, bentar ya, Kak. Rahma ganti baju sama cuci muka dulu. Habis itu ke kamar Kakak." jawab Rahma sambil menuju kamarnya.


Rahma bergegas berganti pakaian dan membersihkan wajahnya. Setelah itu dia langsung menuju kamar Frans.


"Kak?" panggil Rahma seraya mendorong pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup.


Ketika Rahma masuk, Frans sudah bertelungkup di atas ranjang hanya menggunakan boxer.


"Kak, kalau mau dipijit pakai bajumu! Kalau nggak pakai baju, aku keluar saja." ancam Rahma dengan wajah kesal karena Frans sering hanya memakai boxer jika berada di kamar.


"Oh, kamu sudah ke sini. Sorry tadi ketiduran!" ujar Frans sambil memakai kaos yang tadi diambilnya dari lemari.


"Sudah nih! Tolong ya, sakit banget nih kaki." lanjut Frans kembali telungkup dengan mata terpejam. Frans tampak sekali kelelahan, membuat Rahma menjadi iba.


Rahma pun mulai memijit kaki Frans dengan lembut. Dia menuangkan minyak gosok untuk urut agar kaki Frans terasa hangat dan mengurangi capek. Tidak lama dipijit, Frans tertidur karena saking lelahnya.

__ADS_1


Sejam kemudian Rahma pun ikut tertidur di dekat kaki Frans. Mereka akhirnya tidur satu ranjang, akan tetapi dengan posisi yang tidak pernah terbayangkan oleh Frans sebelumnya. Rahma tidur di kaki Frans dengan tangan melingkar di betis. Sedangkan Frans tidur tengkurap memeluk bantal.


Jam tiga pagi, Frans terbangun karena merasa kakinya berat seperti ada yang menimpa. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Rahma tidur di kaki. Frans pun bangun dan membetulkan posisi tidur Rahma. Setelah itu dia ke kamar mandi untuk menuruti panggilan alam.


Frans kembali merebahkan tubuhnya di samping istrinya dengan senyum mengembang. Walaupun tidak melakukan kegiatan suami istri pada umumnya, dia sudah merasa bahagia bisa tidur memeluk Rahma.


Pernikahannya yang sudah berjalan selama lima bulan, akhirnya menunjukkan perkembangan. Frans merasa bahagia karena Rahma tidak takut lagi berduaan dengan dirinya.


Pagi hari, Rahma terbangun karena tidak bisa bergerak bebas seperti biasanya. Ada tangan kekar yang membelit pinggang sehingga membatasi ruang gerak. Perlahan mata Rahma terbuka, betapa terkejutnya ia ketika melihat pinggangnya tertimpa tangan kekar suaminya.


"Aaa..." jerit Rahma sambil melepaskan belitan tangan Frans.


Frans yang masih mengantuk pun hanya menggumam pelan.


"Hmm... tidurlah aku masih mengantuk!"


"Kenapa aku bisa tidur di sini?" tanya Rahma bingung.


"Aku juga tidak tahu. Aku kira kamu sengaja mau tidur di sini. Hooaammm!" jawab Frans masih mengantuk.


Rahma pun mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam. Rahma langsung memukul kepalanya pelan begitu teringat jika dirinya tertidur saat memijit kaki Frans.


"Jangan dipukul kepalanya, nanti kamu gegar otak terus melupakan Kakak!" kata Frans dengan mata terpejam, tapi tangannya meraih tangan Rahma yang digunakan untuk memukul kepala.


"Ishh!" gerutu Rahma kesal, suaminya itu selalu saja bertingkah mengejutkan.


"Aku mau bangun, Kak. Mau masak buat sarapan." ujar Rahma berusaha melepaskan belitan tangan Frans yang selalu kembali walaupun berulang kali dilepaskan.


"Ada art, ngapain repot-repot masak. Tidur aja lagi, belum ada jam enam." perintah Frans kembali membelit pinggang Rahma.


"Sudah pagi, Kak! Waktunya bangun."


"Tidur apa aku tiduri?"


"Kok..."


"Jangan membantah!"

__ADS_1


Rahma langsung terdiam mendengar ancaman dari Frans. Walaupun kesal dia harus nurut pada suaminya. Ibunya sudah memesannya agar patuh pada suami dan tidak membantah selagi itu baik dan bisa ditoleransi.


Akhirnya Rahma pun mencari posisi tidur yang nyaman. Mereka kembali tidur karena memang lelah setelah menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat yang cukup langsung menghadiri acara pertunangan Christie hingga larut malam.


__ADS_2