
Rahma hanya mele nguh mendapat sentuhan dari Frans. Matanya terlalu lengket untuk dibuka. Selain karena rasa lelah dia juga sedang bermimpi. Frans semakin berani menyentuh kulit Rahma karena tidak ada penolakan.
Frans bahkan telah melucuti pakaian Rahma dan pakaiannya sendiri. Melihat tubuh naked istrinya, membuat Frans semakin bersemangat untuk menyentuh Rahma. Apalagi suara de sah an dan er@ng an keluar dari mulut Rahma walaupun dengan mata terpejam.
Saat akan memposisikan diri, melebarkan p@ha istrinya. Tiba-tiba sang istri terbangun karena merasa ada benda keras dan tumpul menyentuh daerah intinya.
"Kakak!" panggil Rahma dengan mata mengantuk.
Frans tidak menyahut, dia masih berusaha membobol gawang lawan. Gawang itu serasa menutup sendiri, apalagi sudah enam bulan gawang tidak dibobol. Gawang hanya sekali kena bobol sehingga gawang kembali rapat seperti semula. Membutuhkan perjuangan ekstra untuk kembali membobol.
Setelah berulang kali berusaha, Frans tetap tidak menyerah.
Namun ia menambah kekuatannya, hingga dengan sedikit hentakan yang penuh tenaga. Akhirnya gawang pun jebol juga.
"Arghhhh... sakit..." teriak Rahma seraya mere mas sprei.
Frans langsung membungkam mulut Rahma dengan bibir dan mulai menjelajahi mulut sang istri. Dia menunggu milik Rahma terbiasa dengan kehadirannya. Setelah dirasa sudah bisa menerima dan menyesuaikan, Frans pun bergerak perlahan.
Frans membisikkan kata-kata cinta di setiap gerakannya. Dia pun berbisik agar Rahma melirihkan suara agar tidak terdengar oleh orang lain.
Satu jam kemudian, Rahma sudah berulang kali merasakan pe lepas an tapi Frans masih jauh. Frans pun mempercepat gerakannya untuk meraih pe lepas an.
"I love you... Terima kasih, Sayang." Frans merasa bahagia karena istrinya sudah bisa menerima dirinya, walaupun dengan sedikit paksaan.
"Aku belum ingin hamil, kenapa Kakak lakukan ini?" ucap Rahma terisak dalam pelukan Frans.
"Maaf aku sudah tidak tahan lagi. Kita berdo'a saja semoga tidak hamil. Jangan nangis lagi, hmm!" Frans memeluk istrinya setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Frans terus menciumi wajah Rahma dan sesekali mencium kepalanya. Rahma yang kelelahan kembali tertidur dalam pelukan Frans. Frans pun ikut tertidur dengan senyum terukir di bibir.
*
*
*
Jam tiga pagi, Frans terbangun karena merasakan adik kecilnya kembali terbangun. Rahma yang berada dalam dunia mimpi tidak sadar jika tangannya memainkan sesuatu yang menjadi kebanggaan sang suami. Awalnya Rahma hanya menyentuh saja, entah kenapa akhirnya dia memainkan barang itu.
__ADS_1
"Nakal!" ucap Frans serak saat melihat kelakuan istrinya.
Frans kembali memasuki Rahma dalam keadaan tertidur seperti sebelumnya. Rahma kembali terbangun ketika di bawah sana dimasuki benda tumpul panjang yang keras.
"Kakak! Aku tidak mau hamil. Kenapa lagi?" protes Rahma ketika Frans belum menggerakkan senjatanya di dalam inti istrinya.
"Nanti dibuang di luar. Tenang saja!" sahut Frans sambil bergerak.
Frans menepati janjinya, dia membuang kecebongnya di atas perut Rahma saat pe lepas an.
Setelah hilang rasa lelahnya, Frans langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu bergantian dengan Rahma.
Bu Sarifah keluar kamar saat Rahma membuka pintu kamarnya hendak masuk lagi ke kamar usai mandi.
"Untung Ibu tidak tahu. Huftt!"
"Kamu kenapa? Kok seperti orang ketakutan begitu." tanya Frans ketika dilihatnya sang istri berdiri bersandar di pintu kamar.
"Deg-degan... Jangan sampai ketahuan Ibu. Malu!" jawab Rahma dengan nafas masih sedikit memburu.
"Kenapa mesti malu? Kita sudah sah, sudah halal. Jadi wajar melakukan itu. Sedangkan mereka yang belum halal aja tidak pernah malu melakukannya. Bahkan setiap malam mereka melakukan itu. Sedangkan kita, setelah enam bulan menikah baru kali ini. Itupun karena Kakak main paksa, mana tahan menikah tanpa melakukan itu." jelas Frans panjang dan lebar.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kalau perlu kata maaf, itu Kakak yang seharusnya yang mengatakan bukan kamu. Karena aku memper kosa kamu hari itu, kita menjadi renggang. Percayalah, aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali kenal." jawab Frans.
Frans kemudian membuka tas ransel yang dibawanya kemarin. Dia mengeluarkan sebuah kotak.
"Kamu masih ingat ini, bukan? Ini semua dariku. Aku tidak ingin semua orang tahu bagaimana perasaanku padamu. Cukup kita berdua saja yang tahu. Aku hanya berharap kamu juga memiliki rasa yang sama denganku."
"Kamu tahu kata Frahma berasal dari mana?" tanya Frans kemudian karena istrinya hanya diam saja.
"Frans dan Rahma!" sahut Rahma yakin.
"Benar sekali! Istriku memang cerdas." puji Frans seraya mencium kening sang istri.
*
*
__ADS_1
*
Dua bulan kemudian...
"I love you..." ucap Frans setelah melewati malam panas.
"I love you too..." jawab Rahma malu-malu.
Akhirnya perasaan Frans terbalaskan. Tidak sia-sia usahanya selama bertahun-tahun untuk mendapatkan cinta Rahma.
"Terima kasih sudah mau menerimaku yang penuh dengan kekurangan ini. Tetaplah di sisiku, menjadi pelengkap atas kekuranganku. Tanpa kamu, aku akan selalu kekurangan. Semoga kita menjadi pasangan yang selalu melengkapi dan menyempurnakan satu dengan yang lain." Frans terus menciumi wajah Rahma hingga istrinya itu kegelian.
"Sudah, Kak! Geli."
Frans tidak mendengar ucapan istrinya itu, dia malah makin menjadi. Frans malah menyerang bibir Rahma dengan rakus.
"Kak, aku lelah! Mau tidur, besok pagi aku harus mengajar." ucap Rahma begitu bibir mereka terlepas.
"Baiklah, kita tidur. Setelah satu ronde lagi, tentunya." sahut Frans tersenyum.
Akhirnya pergulatan panas itu kembali terjadi sesuai keinginan Frans. Setelah melakukan pergulatan panas mereka langsung terlelap karena kelelahan.
Pagi harinya, Rahma terburu-buru karena bangun kesiangan. Badannya terasa remuk redam setelah digempur Frans satu malam. Frans bangun saat istrinya hendak berangkat ke kampus.
"Kak, aku berangkat duluan. Kalau Kakak mau sarapan, sudah aku hidangkan di meja. Baju Kakak juga sudah aku siapkan," kata Rahma sambil membangunkan laki-laki yang telah mengisi seluruh ruang hatinya.
Frans hanya menggeliat tanpa menyahut, pura-pura tidur. Frans langsung menarik tangan Rahma begitu istrinya itu lengah, sehingga Rahma jatuh menimpa dada bidangnya.
"Kakak, ishh! Aku harus berangkat sekarang, nanti aku telat." rengek Rahma seraya memukul dada suaminya.
"Morning kiss dulu, nanti aku lepaskan!" perintah Frans pada wanita pujaan hatinya.
Rahma pun menci um pipi kanan dan kiri kemudian di kening suaminya. Akan tetapi Frans tidak kunjung melepaskan istrinya.
"Kakak, lepas! 'Kan sudah aku kasih morning kiss."
"Bukan di situ, Sayang! Tapi di sini." ucap Frans sambil menunjuk pada bibirnya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Rahma pun menempelkan bibirnya pada bibir sang suami. Namun, ketika akan memundurkan tubuhnya, Frans langsung mendekap erat dan melu mat bibir Rahma dengan rakusnya.
"Hhhh! Kakak jahat, jadi berantakan dandananku!" kata Rahma cemberut.