
Aku tidak menyangka teman-teman ku akan datang, mereka semua masih memakai seragam sekolah. Hingga kemudian Pak Jamal datang, mereka semua bersalaman dengan sopan.
"Gimana keadaan Bu Nana Pak ?" tanya Dimas
"Sekarang kondisinya masih kritis nanti sore akan langsung di operasi" jawab Pak Jamal
Aku lihat, Pak Jamal terlihat sedih sekali hingga aku mendengar suara hati nya 'aku pasrahkan semuanya kepada Allah, semoga istriku kembali sehat walaupun kata dokter kemungkinan besar harapan untuk hidup sangat tipis. Selama ini, seharunya Ibu selalu memeriksakan kesehatannya pada dokter tapi dia tidak pernah mau. Akhir-akhir ini memang kondisinya sudah sering sakit-sakitan, aku berharap ada keajaiban'
Rasanya ada duri menusuk jantungku, mungkin ini yang di namakan sakit tak berdarah. Rasanya nafasku sesak, mendengar suara hati yang di katakan oleh Pak Jamal. Hingga tidak bisa aku tahan, air mataku berlinang aku sangat menyayangi Bu Nana dia seperti Ibuku sendiri. Aku gak mau jika dia pergi tapi aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya atas kehendak Allah, tapi aku ingin Bu Nana sehat kembali karna maut tidak ada yang tau, manusia tidak bisa menentukan. Semoga ada keajaiban datang, aku berharap operasinya lancar dan penyakitnya di angkat.
"Semoga operasinya berjalan lancar ya Pak" ucapku
"Iya nak, kita berdo'a saja" jawab Bapak
Kita semua mendadak hening karna melihat raut wajah Pak Jamal yang sedih.
"Oh ya Pak, kita makan dulu yu !" aku berusaha mencairkan suasana
"Kamu saja nak, Bapak gak lapar" Bapak kembali sedih
Jadinya kita semua menemani Pak Jamal dan tidak ada yang keluar karna merasa gak enak dengan nya.
"Kalian, mending makan dulu aja biar Bapak di sini saja, Bapak mau ke kamar mandi dulu !" Pak Jamal langsung pergi, aku lihat rasanya tidak ada rasa semangat dari dirinya
Aku dan teman-teman ku cuma bisa diam, semoga di berikan yang terbaik.
"Kalian kalau mau pada makan, duluan aja"
"Gak ah, aku belum lapar" ucap Adin
"sama belum juga" jawab Dimas
"Kasihan banget Pak Jamal Yas, dia terlihat sangat sedih sekali" ucap Arif
"Iya Rif, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Bu Nana" ucapku
"Semoga Bu Nana lekas sembuh" ucap Jefri
"Aamiin, kamu sebaiknya makan dulu Yas pasti kamu belum makan." ucap Arya
"Aku sendiri gak selera makan Ya, aju terus memikirkan Bu Nana"
__ADS_1
Hingga kemudian telpon ku berbunyi, aku lihat dari Bapak.
"Bentar ya aku angkat telpon dulu !"
"Iya Yas"
Aku berdiri dan mencari tempat untuk mengangkat telponnya.
"Assalamu'alaikum Pak !"
"Wa'alaikumsalam, ini Ibu Yas"
"Oh Ibu, iya Bu"
"Yas kamu punya uang berapa ?" tanya Ibu tiba-tiba
Ya Allah, lagi-lagi cuma uang yang di bahas Ibu.
"Saat ini aku gak punya sepeserpun Bu" jawabku
"Masa ? Kamu jangan bohong jangan pelit sama orang tua. Oh gara-gara yang kemarin belum di bayar ya ?" ucap Ibu dengan nada tinggi
"Bukan begitu Bu, Ilyas benar-benar gak punya uang. Ilyas lagi di rumah sakit, Bu Nana lagi sakit dan mau di operasi. jadi Ilyas gak kerja karna kerja juga belum beli alat-alat nya, sama lagi nungguin Bu Nana dulu"
"Astaghfirullah, beliau itu sangat baik Bu. Selama ini Ilyas sudah merepotkannya, aku tinggal di rumah nya secara gratis. Beliau juga sudah banyak membantuku, Pak Jamal sendiri kasihan kalau nunggu sendirian"
"Meskipun kamu baik sama dia, gak akan dapat apa-apa kan ? Ngapain nungguin yang gak penting gak akan menghasilkan duit, cuma buang-buang waktu saja. Yang harus kamu hormati itu orang tua mu, Ibumu sendiri. Memangnya kamu mau jadi anak durhaka ? Lebih baik kamu kerja lagi biar dapat duit banyak, udah gak betah tinggal bersama gini. Paman sama tante mu itu cerewet, kamu cepat-cepat nyari duit yang banyak biar rumahnya bisa di beli lagi. Memangnya kamu tega membiarkan keluarga mu sengsara seperti ini ?" bentak Ibu
"Tapi Bu...."
"Kamu sudah gak peduli dengan orang tua mu ? Kamu lebih memilih orang lain daripada orang tua kamu sendiri"
"Bukan begitu Bu maksudku"
"Pokoknya kamu harus kerja lagi, Ibu tunggu uangnya kalau enggak, kamu jangan pernah lagi datang ke sini kamu sudah jadi anak durhaka" ucap Ibu mengancam
"Iya Bu nanti aku akan kerja"
"Nah gitu dong, sekarang memang sama sekali gak ada uang ?"
"Kemarin aku baru saja ngirim barang pada konsumen, tapi uangnya belum ada"
__ADS_1
"Yaudah kalau nanti uangnya sudah ada, langsung kirim ke Ibu !*
"Iya Bu"
Ibu langsung mematikan handphone nya, aku harus sabar. Aku tidak bisa bohong pada Ibu ku sendiri, walau bagaimanapun dia itu tetap Ibuku. Tapi aku tidak bisa pulang begitu saja dan langsung kerja, sementara kondisi Bu Nana sedang kritis. Aku benar-benar bingung harus bagaimana, aku sendiri gak mau durhaka pada orang tua. Aku kembali ke tempat teman-teman ku dengan raut wajah yang sedih.
"Kamu kenapa Yas ?" tanya Arya
"Gak apa-apa, tadi kalian mau makan kan ?" jawabku
"Siapa bilang ? Kan tadi bilang belum mau" ucap Adin
"Yaudah, kita makan dulu yu !"
"Ko tiba-tiba" sahur Jefri merasa aneh
"Aku laper, ayo kita makan aja nanti aku beli untuk Pak Jamal" ucapku bohong, padahal sengaja agar mereka tidak bosan menunggu di sini
"Yaudah ayo, aku sendiri sudah lapar" ucap Dimas
"Ah kamu Mas, tadi bilangnya gak lapar" ucap Tomi
Kita semua pergi ke luar, kita pergi ke warung makan. Aku terus memikirkan yang terjadi, rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya.
"Yas kamu gak pesan ?" tanya Arya
Aku terus melamun, sampai aku tidak mendengar yang di tanyakan temanku.
"Yas... Yas !" Adin menepuk bahu ku, aku langsung kaget
"I-iya kenapa ?"
"Ko kamu malah bengong ?" tanya Adin
"Gak apa-apa, aku memikirkan kondisi Bu Nana"
"Serahkan semuanya pada Allah Yas, semoga semuanya lancar" ucap Dimas
"Iya aamiin"
"Kamu mau pesan apa makan nya Yas ?" tanya Arif
__ADS_1
"Oh iya aku mau pesan dulu !" aku langsung berjalan menemui Ibu tukang warung nasi nya dan memesan makanan
Kemudian kita makan bersama, tapi rasanya hambar saat aku makan. Belum selesai masalah yang ini, masalah yang satunya muncul. Begitu banyak cobaan yang datang, semoga aku kuat menghadapinya.