
Setelah mengetahui rencana Sandi dan teman-temannya, membuatku waspada. Aku ingin memberitahu teman-teman ku tapi nanti akan tanda tanya aku tau dari mana, gak mungkin jika aku bilang aku punya kekuatan. Aku harus memikirkan cara untuk membalas mereka semua, nanti saja aku pikirkan sekarang aku fokus melanjutkan pekerjaan ku.
"Yas, ini ada tetangga ku dia ingin bikin hiasan dinding tapi pakai pahatan kayu, dan ingin bertema bunga-bunga. Kamu bisa gak ?"ucap Arif
"Bisa, ukurannya berapa ?"
"Gak tau, katanya kamu di suruh ke rumahnya dulu sambil membicarakan semuanya"
"Oh iya boleh tapi mungkin habis yang ini selesai dulu"
"Ok Yas, tetangga ku juga bilang kapanpun juga gak masalah. Dia berani bayar berapa pun juga katanya"
"Ya tergantung ukurannya sih Rif dan tingkat kesulitannya, tapi sekarang ini alhamdulilah ya kalian sedikit-sedikit sudah bisa memahat. Jadi sekarang pekerjaan kita cepat selesai, tidak seperti dulu aku aja yang mahatnya"
"Hehe kita lihatin caranya Yas, lama-lama jadi bisa" ucap Adin
"Kata aku juga kalau belajar pasti bisa, tapi aku seneng berkat kalian sekarang usaha kita makin ramai"
"Bukan usaha kita tapi usaha kamu, tapi anak-anak juga sudah pada mahir ya sekarang ?" ucap Dimas
"Berkat kamu, sekarang anak-anak jalanan jadi punya penghasilan sendiri. Mereka juga punya tempat tinggal, hidupnya lebih baik, tidak terlantar seperti dulu" ucap Tomi
"Aku gak tega aja melihat mereka terlunta-lunta, gak punya tempat tinggal dan sering kelaparan apalagi mereka sampai nekat makan dari tempat sampah. Ya Allah itu kan kotor, sama aja bikin mereka sakit. Aku pernah merasakan saat di posisi mereka dulu, aku panas-panasan dagang koran. Betapa perihnya hidup, aku gak tega melihat mereka apalagi masih kecil"
"Teman kita ini memang berhati mulia ya kawan-kawan, Ilyas peduli sama orang, dia juga baik, suka menolong dan suka memberi makanya rezekinya lancar terus" ucap Jefri
"Aamiin, kalian juga hebat gak mungkin aku bisa sendiri. Tanpa kalian aku tidak akan bisa menjalankan bisnisku, kita ini makhluk sosial jadi saling membutuhkan satu sama lain"
"Betul banget Yas, eh Yas ini tetangga ku nanyain lagi. Katanya bisa gak sekarang ke rumah nya dulu, jadi ingin di jelaskan semuanya sama kamu gimana-gimananya" ucap Arif
"Boleh, bentar dikit lagi mau selesai !"
"Ok Yas"
"Kamu kesananya sama Arif ?" tanya Adin
"Iyalah sama Arif, kan yang pesannya tetangga Arif masa sama kamu" ucap Tomi pada Adin sambil tertawa
"Hee maksudnya mau di anterin gitu jadi bertiga"
"Masa iya naik motor bertiga, Adin aneh-aneh aja nih" ucap Arif
Sontak, kita semua tertawa ada aja yang bisa bikin kita tertawa membuat kita menjadi semakin bersemangat dalam bekerja. Bekerja tapi berasa bermain, setiap lagi bekerja sambil ngobrol-ngobrol dan tertawa. Setelah selesai, aku dan Arif pergi ke tetangganya yang akan memesan hiasan.
"Kita pergi dulu ya, nitip toko ya kalau ada yang nyari bilang aja lagi pergi sebentar !"
"Ok Yas, siap tenang saja"
Alhamdulillah dari usahaku ini, aku sudah bisa beli motor sendiri. Sungguh tidak pernah mengira bisa seperti ini, aku sangat bersyukur kepada Allah SWT.
"Nah ini rumahnya Yas" kita sudah sampai
Entah kenapa, aku melihat rumah ini banyak makhluk halus nya. Mungkin rumahnya terlihat bagus tapi mata batinku rumah ini cukup menyeramkan. Karna aku punya kemampuan khusus, aku jadi bisa melihat yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kita mulai masuk ke dalam, di depan pintunya aku melihat sosok nenek-nenek yang sedang memegang tongkat.
__ADS_1
"Ayo Yas masuk, kamu lihat apa ?"
"Gak apa-apa"
Kita masuk ke dalam dan bertemu dengan pemiliknya, aku kaget saat melihat orang itu dia menggendong anak kecil.
"Silahkan masuk dek !"
"I-iya Pak" rumahnya cukup besar dan terlihat barang-barangnya mewah
"Nah ini disini dek, Bapak pengen hiasannya sebesar dinding ini" sambil menunjukan dinding nya
"Jadi mau sampai menutupi seluruh dindingnya Pak ?"
"Iya seluruhnya dan istri saya ingin motif bunga-bunga. jadi seperti kebun bunga. Berapapun harganya akan saya bayar, silahkan duduk dulu !"
Aku bingung saat akan duduk, kursinya di tempati banyak anak kecil berkepala plontos. Ya Allah mungkinkan Bapak ini mencari uang dengan cara instan, aku harus bagaimana ini ? Apakah nantinya uang yang aku terima adalah uang haram ? Apa yang harus aku katakan pada Bapak ini, tanpa menyinggung perasaannya ? Aku berdiri saja karna tempat duduknya penuh, sementara Arif duduk bersebelahan dengan makhluk itu.
"Ko gak duduk dek ?"
"Aku kebetulan lagi sakit di panta* jadi gak bisa duduk"
"Oh gitu dek, jadi gimana dek berapa kira-kira harganya ? Ini Bapak mau ngasih DP nya" sambil membawa uang dalam tas nya
Aku lihat uangnya mengeluarkan api, aku benar-benar ketakutan
"Jangan Pak, nanti aja DP nya aku baru ingat kalau stok kayu nya entah masih ada enggaknya. Soalnya pengirimannya sedikit terhambat, iya kan Rif ?" aku mengedipkan mata pada Arif
Dia nampak bingung
"I-iya Pak"
"Iya Pak saya betul-betul mohon maaf, karna aku baru ingat stok kayu nya sekarang ini lagi susah"
"Yasudah kalau memang gak bisa, saya akan mencari yang lain. Saya sedang sibuk, sebaiknya kalian cepat pergi !" Bapak itu mulai marah
"Sekali lagi saya mohon maaf Pak"
Kita segera keluar dari rumahnya, pintunya langsung di tutup. Sangat menyeramkan sekali rumahnya, aku langsung naik motor bersama Arif dan kita langsung pergi.
"Ko kamu bilang stok nya habis Yas ? bukannya masih banyak, kamu ini kenapa menolak rezeki kan tadi bayarannya besar. Ah sekarang hilang sudah, padahal itu proyek besar"
"Bapak yang tadi mencari uang dengan cara yang instan Rif ?"
"Maksudnya ?"
"Nanti kita ceritakan di ruko"
Arif nampak bingung dengan ucapan ku, hingga kemudian kita sudah sampai di ruko. Mungkin sebaiknya aku ceritakan kemampuan ku ini pada teman-temanku.
"Gimana nih ? wah proyek besar nih" ucap Arya
"Gak jadi"
__ADS_1
"lah ko gak jadi" ucap Dimas
"Gak tau nih Ilyas, tiba-tiba bilang stok kayu nya habis"
"Ko gitu Yas, kan proyek besar nih kita dapat untung banyak" ucap Adin
"Boleh kita ngobrol dulu sama kalian semua ! Anak-anak, bentar ya kakak ada perlu sebentar !"
"Iya Kak"
"Ayo ikut aku ke lantai dua !" teman-teman ku mengikutiku ke lantai dua
Setelah kita semua berada di lantai dua, mereka semakin bingung dan penasaran.
"Memangnya ada apa sih Yas ? Tanya Tomi
"Iya, bikin penasaran aja" ucap Arya
"Jadi gini, jujur saja aku ini punya indra keenam jadi bisa melihat makhluk halus"
"Hahhh yang bener Yas ? Jangan nakut-nakutin ah" ucap Jefri
"Iya nih, kamu ini" ucap Adin
"Terus apa hubungannya dengan Bapak tadi,, kata kamu mencari uang dengan cara instan" ucap Arif
"Aku lihat di rumah itu banyak sekali makhluk halus nya, apalagi di dalam rumah nya. Aku rasa Bapak tadi memelihara makhluk untuk mencari uang"
"Tuyul maksudnya Yas ?" ucap Arya
"Iya begitulah, Bapak itu menggendong anak kecil dan di kursi juga banyak makhluk halus yang sedang duduk"
"Hahhh berarti tadi kamu gak mau duduk gara-gara itu ? Kenapa gak bilang ?" ucap Arif kaget
"Ya gimana mau bilangnya sama aja bunuh diri, nanti Bapak itu tau. Tadi juga saat Bapak itu mau memberikan uang, uangnya ada api nya bikin aku kaget"
*Wah yang bener Yas ? Oh karna itu kamu nolak Bapak tadi ?" ucap Arif
"Iya benar, jadi lebih baik kita kehilangan rezeki dari pada harus dapat rezeki tapi bukan uang halal. Tapi kalian semua bisa tutup mulut kan ? Dan Rif Bapak yang tadi jangan sampai tau kalau kita tau pekerjaannya"
"Iya tenang aja, masa iya ngomong ke Bapak itu"
"Hebat kamu Yas punya indra keenam" ucap Adin
"Tapi justru serem, bisa lihat hantu bukannya itu menyeramkan" ucap Tomi
"Eh iya benar juga, apa kamu gak takut Yas ?" ucap Jefri
"Awalnya sih iya tapi sekarang sudah biasa, selama mereka tidak mengganggu. Kan kita ini sama-sama makhluk ciptaan Nya, kita ini hidup di masing-masing alam yang berbeda"
"Iya juga sih, eh Yas apa disini ada makhluk juga ? ucap Adin
"Ada, tuh ada di belakang kalian lagi lihatin"
__ADS_1
Sontak mereka semua berlari, lucu sekali sampai mereka kaget dan saling berlari. Dengan begini aku bisa cerita semuanya, aku juga akan menceritakan rencananya Sandi pada mereka.