
Frans setiap malam pulang dalam keadaan mabuk membuat pak Sukri dan mbok Darmi khawatir. Walaupun mereka jarang bertemu sewaktu kecil, akan tetapi pak Sukri dan mbok Darmi sangat menyayangi Frans. Apalagi kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan perusahaan membuat Frans kekurangan kasih sayang. Berbeda dengan Dolly, sejak kecil sudah mendapat perhatian melimpah. Frans lahir saat kedua orang tuanya merintis usaha sehingga waktu untuk bersama Frans sangat sedikit.
"Tuan Muda, sebelumnya simbok minta maaf karena sudah lancang berbicara. Sebenarnya Tuan Muda punya masalah apa? Kenapa setiap malam pulang dalam keadaan mabuk?" tutur mbok Darmi dengan lemah lembut.
"Bukan urusan simbok!" jawab Frans ketus.
"Kalau bukan urusan saya terus menjadi urusan siapa? Tuan Muda di sini menjadi tanggung jawab Simbok dan pak Sukri. Kalau Tuan Muda seperti ini bagaimana nanti kalau Tuan Edward bertanya. Jika nanti Tuan Muda ingin bercerita, saya siap mendengarkan," jawab mbok Darmi panjang lebar dengan suara lembut keibuannya.
Setelah berkata demikian, mbok Darmi keluar dari kamar Frans. Tuan Edward mempercayakan pengawasan Frans pada mbok Darmi dan suaminya, Sukri. Bukan karena tidak percaya pada anak sendiri, akan tetapi takut salah bergaul di ibu kota. Walau bagaimanapun juga pergaulan di ibu kota tidak seperti di tempat mereka tinggal. Pergaulan bebas sudah menjadi bagian dari kehidupan di ibu kota.
"Mbok!" teriak Frans dari kamarnya sesaat setelah mbok Darmi keluar.
Mbok Darmi kembali ke kamar majikannya tanpa menunggu waktu lama.
"Iya, saya Tuan Muda," sahut mbok Darmi sambil mendekati Frans.
"Dimana Rahma? Kenapa aku jarang melihatnya akhir-akhir ini?" tanya Frans begitu mbok Darmi berada di dekatnya.
__ADS_1
"Non Rahma setiap hari pergi pagi pulang sore, kadang malam. Katanya untuk apa di rumah ini kalau tidak ada kerjaan, dia disini untuk bekerja bukan untuk menumpang. Begitu alasannya sewaktu simbok tanya," jelas mbok Darmi sambil menunduk takut majikannya mengamuk lagi.
"Pergi? Kemana?"
"Kerja, Tuan," sahut mbok Darmi.
Saat mereka berdua sedang membicarakan Rahma, Rahma pulang dari kampus. Jadwal mengajarnya hanya sekali pertemuan hari ini, sehingga dia pulang saat hari masih sore.
"Mbok! Aku pulang," teriak Rahma saat sudah di ruang keluarga, dia terus berjalan menuju kamarnya karena tidak dilihatnya ada orang di belakang.
Frans dan mbok Darmi yang berada di kamar Frans mendengar teriakan Rahma. Kamar Frans saat ini terbuka lebar, jadi suara dari lantai bawah bisa terdengar jelas.
"Suruh dia kesini, Mbok!" jawab Frans sambil berjalan ke arah balkon kamarnya.
"Baik, Tuan."
Mbok Darmi keluar dari kamar Frans menuju kamar Rahma.
__ADS_1
"Non! Non Rahma!" panggil mbok Darmi sambil mengetuk pintu. Berhubung tidak ada sahutan, mbok Darmi membuka pintu tersebut.
Saat mbok Darmi masuk, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Si Non di kamar mandi rupanya, pantes nggak dengar dipanggil," monolog mbok Darmi sambil duduk di ranjang sambil menunggu Rahma keluar dari kamar mandi.
Rahma terkejut saat keluar dari kamar mandi melihat mbok Darmi sudah duduk di ranjangnya.
"Ada apa, Mbok?" tanya Rahma sambil berjalan mendekati mbok Darmi.
"Itu, Non. Tuan Muda memanggil Non Rahma," jawab mbok Darmi sambil berdiri.
"Tumben jam segini di rumah. Nggak ada jadwal sama teman-temannya apa?" gerutu Rahma lirih tapi masih terdengar oleh mbok Darmi.
"Tuan Muda kurang enak badan katanya, Non," sahut mbok Darmi sambil tersenyum kikuk karena menyahuti gerutuan Rahma.
"Bisa sakit juga ternyata. Kirain nggak bisa sakit makanya setiap malam mabuk." ledek Rahma.
__ADS_1
"Bisa 'lah Non, namanya manusia biasa pasti bisa sakit. Orang yang punya kekuatan aja masih bisa sakit apalagi Tuan Muda. Si Non ini ada saja!" jawab mbok Darmi sambil menggelengkan kepalanya berjalan menuju dapur. Sedangkan Rahma berjalan menuju kamar Frans di lantai atas.