
Sheila dan Jojo kehilangan jejak Chico. Mereka kesulitan mengejar karena menenteng banyak belanjaan. Sheila membeli setiap barang yang menurutnya lucu, walaupun berulang kali Jojo mengingatkan. Sheila selalu kalap jika mode shopping-nya sedang on.
"Yaa, kita kehilangan jejaknya. Gimana dong?" ucap Sheila lesu.
"Tak apa, nanti lain waktu kita bisa bertemu lagi!" sahut Jojo menghibur.
"Mana ada lain kali, yang ada dia akan semakin menghindar!" jawab Sheila dengan bibir mengerucut.
Jojo yang melihat bibir Sheila menjadi gemas, lalu menariknya.
"Sakit tahu! Jahat banget ihh!" rajuk Sheila.
"Gemes aku tuh lihat bibir kamu, pengen aku lahap tapi kok di tempat umum. Kalau di kamar, habis itu bibir!" ucap Jojo gemes.
"Eit, jangan macam-macam! Aku nggak ingin bernasib sama kek Christie ya," jawab Sheila.
"Nggak akan, kecuali kamu yang minta!" janji Jojo menatap dalam pada kekasihnya.
"Pulang aja, yuk! Capek." ajak Sheila akhirnya.
"Siap, Tuan Putri!" sahut Jojo sambil menundukkan badannya.
*
*
*
"Dad, Dennis ada janji sama temen. Dennis cabut sekarang, ya!" pamit Dennis pada ayahnya.
"Kamu mau kemana? Ini sudah malam lho." jawab pak Dewa, sang ayah.
"Baru jam delapan ini, Dad. Dennis janji, jam sepuluh nanti sudah sampai apartemen!" kata Dennis seraya melihat ke jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Kamu naik apa pergi ke sana? Tadi kamu ke sini sama Daddy." tanya pak Dewa memastikan.
"Naik taksi atau ojol, mana duluan yang dapat aja!" sahut Dennis sambil memainkan ponselnya.
"Abang antar kamu. Sekalian Abang juga mau keluar sebentar. Gimana?" tawar Frans pada adik iparnya.
__ADS_1
"Iya, sekalian aja bawa dia Frans. Dari pada nunggu taksi atau ojol, pasti lama." potong bu Sarifah.
"Kakak mau kemana?" tanya Rahma ketika tahu suaminya akan pergi.
"Ke toko buku sebentar, ada buku yang dicari buat referensi. Atau kamu ada bukunya?" jawab Frans menoleh ke arah Rahma.
"Buku apa sih, siapa tahu ada di kamar?"
"Pengantar Teknologi Informatika dan Komunikasi Data, ada?"
"Kakak mengulang atau baru ambil di semester sekarang?"
Frans sebenarnya malu untuk menjawab, dulu sewaktu masih SMA nilainya bersaing ketat dengan Rahma. Akan tetapi semenjak aktif di band, nilai-nilainya terjun bebas karena jarang kuliah. Frans hanya menjawab dengan senyum yang menampakkan deretan gigi putihnya tanpa suara. Tidak lupa mengusap tengkuknya dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Bang, jadi nggak keluar? Kalau nggak jadi biar Dennis pesen ojol aja." sela Dennis.
"Jadi, Den. Kakak mau antar Dennis sekarang 'kan?" jawab Rahma tanpa menunggu jawaban dari Frans.
"I-iya, Abang antar kamu sampai tempat tujuan," sahut Frans gelagapan.
Frans baru tahu jika istrinya ternyata menyeramkan. Atau memang dia saja yang tidak tahu, jika makhluk yang bernama perempuan itu sebenarnya menggemaskan dan menyeramkan sekaligus.
Frans sebenarnya ingin keluar sebentar untuk menemui Chico. Tadi sore tiba-tiba Chico menghubunginya dan mengajak bertemu di sebuah kafe. Oleh karena itu, Frans beralasan ke toko buku sekalian mengantarkan Dennis.
Rahma jika di tempat terbuka dia akan tenang saja disentuh Frans, akan tetapi jika sudah masuk ke dalam kamar atau di halaman belakang yang gelap, maka trauma Rahma datang lagi.
"Aku pergi dulu, nggak usah nunggu aku pulang. Kamu istirahat saja, ok!" pesan Frans.
"Iya udah, sana. Bawel!" jawab Rahma sambil mendorong suaminya agar berjalan.
"Dih, kok gitu sih sama suami. Durhaka lho!" canda Frans menahan tawanya.
"Biarin!" jawab Rahma singkat, padat, dan jelas.
*
*
*
__ADS_1
"Tumben Lo ngajak ketemuan. Ada perlu apa?" tanya Frans begitu duduk di depan Chico.
"Gue mau cerita tentang kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat band "Cita" bubar. Masih ingat nggak Lo?" terus terang Chico.
"Yang kita ke club terakhir kali itu 'kan?" tanya Frans.
"Masih ingat dengan jelas, Gue! Kenapa?" sambung Frans.
"Malam itu Gue nggak sengaja merawani cewek!" cerita Chico.
"Lalu?"
"Cewek itu katanya hamil. Dia tidak tidur sama Gue aja, mana mungkin itu anak Gue."
"Hmm!"
"Gue emang yang ambil pera wannya. Malam berikutnya dia juga club lagi, mabuk lagi. Bisa saja 'kan tidur dengan sembarang cowok yang ditemuinya. Malam itu saja dia ganas banget. Kalau dia cewek baik-baik, tidak mungkin dia kembali ke club setelah kejadian malam itu."
"Beneran Lo yang buka segelnya, bukan cowok lain?"
"Enggaklah, Gue yakin kalau itu malam pertama dia. Dia awalnya tidak tahu berbuat apa, kecuali tiba-tiba nangkring di pangkuan dan mencium bibirku. Ciumannya sangat amartiran!" cerita Chico.
"Malam itu Lo pakai pengaman tidak?" tanya Frans.
"Nggak sempat pakai, keburu ditarik sama do'i."
"Terus sekarang apa rencana Lo? Nikahin dia atau Lo lari dari tanggung jawab, itu terserah Lo. Kalau Lo mau tanya apa pendapat Gue. Gue akan nikahin dia, karena Gue sudah rusak dia. Terlepas dia hamil atau tidak, hamil anak Gue atau bukan!" saran Frans sebelum dia beranjak dari duduknya.
Frans harus segera pulang atau istrinya akan berpikiran buruk tentangnya.
"Lo mau kemana, baru juga duduk. Minum Lo aja belum habis!" cegah Chico, dia masih ingin ditemani oleh Frans.
"Sorry, Bro! Gue harus pulang. Gue sudah ada bini, jadi nggak sebebas dulu. Gue lebih sayang dia dari pada diri sendiri. Cabut dulu!" kata Frans memberikan alasan yang tepat, sebelum pergi Frans meninggalkan dua lembar uang merah di atas meja untuk membayar secangkir kopi yang tadi dipesannya.
Selepas kepergian Frans, Chico masih duduk termangu di tempatnya. Uang yang tadi ditinggalkan oleh Frans disimpannya terlebih dahulu, baru nanti digunakan untuk membayar.
Cukup lama Chico duduk di sana, hingga kafe itu mulai sepi pengunjung karena telah larut. Akhirnya Chico meninggalkan kafe itu, pulang ke kos-kosan. Selama ini, Chico tidak pindah kos. Dia menyuruh ibu kos dan teman-temannya untuk berbohong jika dirinya sudah pindah. Dia mengatakan jika ada seorang perempuan yang mencarinya karena tergila-gila padanya. Akhirnya ibu kos dan teman-teman kosnya mau diajak bekerja sama.
Chico tidak bisa tidur hingga malam menjelang pagi. Saat matanya terpejam, dirinya seperti dikejar anak kecil. Bayangan itu tampak jelas sekali. Anak kecil itu terus menangis sambil mengikuti kemanapun dia melangkah. Bahkan Chico sempat berpikir untuk bersembunyi. Akan tetapi anak kecil itu mengetahui letak persembunyiannya.
__ADS_1
"Tidak. Pergi kamu! Pergiii!" usir Chico pada anak itu.
Chico terbangun dengan nafas memburu dan keringat dingin membasahi badannya.